MEDAN – Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) AGN Sumut memastikan akan menggelar aksi damai besar-besaran pada Rabu dan Kamis tanggal 8 dan 9 April 2026 mendatang. Usai Nyawa manusia seolah tak ada harganya di Sumatera Utara.
Ketua KSPSI AGN Sumut, T.M. Yusuf SE, dengan nada bicara tinggi menegaskan bahwa Gubernur Sumut serta seluruh kepala daerah di wilayah teritorialnya adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas “darah” yang tumpah di lokasi kerja.
“Ini bukan lagi sekadar kelalaian biasa. Ini sudah masuk ranah pelanggaran hukum serius.Ada pembiaran yang tidak bisa kita toleransi lagi. Nyawa manusia bukan barang murah yang bisa hilang begitu saja karena pengusaha mau untung besar tapi abai K3,” tegas T.M. Yusuf, Sabtu (4/4/2026).
Aksi yang diprediksi bakal mengerahkan sekitar 1.000 massa buruh ini dipicu oleh dua kejadian memilukan yang membuktikan lemahnya pengawasan pemerintah
Yang pertama tragedi Islamic Center Tewasnyau seorang pekerja pada proyek pembangunan Islamic Center Medan yang diduga kuat akibat standar K3 yang “abal-abal”.
Kemudian Insiden Maut Plaza Medan Fair. Jatuhnya korban di area Mall Plaza Medan Fair (Carrefour) yang menunjukkan bahwa fasilitas publik di Medan pun kini tidak lagi aman bagi warga.
KSPSI AGN Sumut tidak main-main. Dalam selebaran seruan aksinya, mereka membawa poin-poin tuntutan yang cukup “pedas”, di antaranya, Evaluasi Total & Copot OPD. Audit Mall Se-Sumut. Seret ke Ranah Pidana.
“Kita minta aparat jangan tebang pilih. Jangan karena mereka pengusaha besar, hukum jadi tumpul, ” tegas Yusuf lagi.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, massa akan mulai berkumpul di Hall Timur Stadion Teladan pukul 10.00 WIB dengan perlengkapan tempur aksi mulai dari mobil komando, spanduk, hingga poster tuntutan.
Adapun rute aksi akan menyisir titik-titik vital kekuasaan di Sumatera Utara, meliputi. Polda Sumut & Kejati Sumut, Kanwil Pajak Sumut, Kantor/Rumah Dinas Gubernur & Kantor Walikota Medan,DPRD Sumut & Polrestabes Medan.
Koordinator aksi, Acil Samson dan Taufik Abu Nawas, memastikan gerakan ini akan berjalan damai namun tetap dengan sikap tegas.
“Ini baru permulaan. Kalau tuntutan kami dianggap angin lalu, jangan salahkan kalau kami kembali dengan massa yang lebih besar dan melumpuhkan titik-titik strategis di Sumatera Utara,” ancam mereka. (cil/isl)