Viral Disebut karena Ekonomi, Fakta Kematian Pelajar 16 Tahun di Samosir Diungkap Pemkab

Sumut48 Dilihat

PANGURURAN – Kabar duka menyelimuti Kabupaten Samosir. Seorang pelajar berinisial JPS (16) ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri di rumahnya di Desa Huta Ginjang, Kecamatan Simanindo, Senin (30/3/2026) pagi.

Peristiwa ini sempat memicu spekulasi di tengah masyarakat yang menyebut faktor ekonomi sebagai penyebabnya. Namun, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Samosir langsung memberikan klarifikasi.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Samosir, Immanuel Sitanggang, menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar.

“Motif yang beredar di masyarakat karena faktor ekonomi, itu tidak benar. Hal ini sesuai penuturan dari orang tua korban,” ujar Immanuel, Rabu (1/4/2026).

Ia menjelaskan, berdasarkan keterangan keluarga, korban selama ini tetap mendapatkan uang saku harian dari orang tuanya.

BACA JUGA :  Memasuki Tahapan Kampanye Pemilu 2024, Polda Sumut Perketat Pengamanan di Kantor KPU dan Bawaslu

“Orang tua korban selalu memberikan uang Rp15 ribu setiap hari untuk ongkos,” jelasnya.

Selain itu, Pemkab juga membantah isu yang menyebut keluarga korban tidak pernah menerima bantuan sosial. Faktanya, keluarga tersebut tercatat sebagai penerima berbagai program bantuan pemerintah.

“Dari data yang ada, keluarga korban merupakan penerima bansos. Tahun 2021 hingga 2023 menerima PKH, tahun 2021 mendapat program bedah rumah, tahun 2025 menerima BLTS Kesra, dan tahun ini terdaftar sebagai penerima BPNT,” terangnya.


Kronologi Kejadian

Kapolsek Simanindo, Iptu Ramadan Siregar, mengungkapkan bahwa jasad korban pertama kali ditemukan oleh ayahnya sendiri, TS (63), sekitar pukul 05.30 WIB.

BACA JUGA :  Gubsu Bobby Nasution Terbitkan SE Kewajiban Pembayaran THR

Pagi itu, sang ayah yang baru bangun tidur merasa curiga karena korban tidak berada di tempat biasanya.

“Biasanya korban sudah berada di kamar mandi. Saat dicari, korban ditemukan dalam posisi tergantung di kamar mandi,” ungkapnya.

Melihat kejadian tersebut, ayah korban langsung berteriak histeris dan berusaha menurunkan tubuh anaknya. Ibu dan saudara korban yang mengetahui kejadian itu juga ikut menangis dan meminta pertolongan warga.

Tak lama kemudian, warga berdatangan ke lokasi, disusul aparat desa dan pihak kepolisian yang melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

BACA JUGA :  Gubernur Bobby Tegsskan Skema WFH Sudah Diterapkan, Jadwalnya Tergantung OPD 

Dari hasil pemeriksaan awal, korban diketahui menggunakan tali rafia. Pihak keluarga juga menolak dilakukan autopsi terhadap jasad korban.

“Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan atau benda mencurigakan di lokasi,” jelas Kapolsek.

Menurut keterangan keluarga, korban dikenal sebagai pribadi yang pendiam dan tertutup, serta tidak pernah mengeluhkan masalah yang dihadapinya.

Jenazah korban kemudian disemayamkan di rumah duka dan ditutupi dengan ulos sebelum dimakamkan.

eristiwa ini menjadi pengingat pentingnya perhatian terhadap kondisi mental remaja, terutama dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. (isl)