MALANG- Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, pihaknya tidak ingin terburu-buru soal gagasan untuk membuat bank syariah. Dia pun memastikan keberadaan bank syariah Muhammadiyah tidak akan didirikan tahun ini.
Hal itu disampaikan Haedar di hadapan awak media saat menjawab pertanyaan Kompas di sela-sela pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Ekonomi PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Malang, Rabu (26/2/2025).
”Jadi, untuk perbankan kita tidak akan tergesa-gesa, itu gagasan. Kenapa? Kita harus konsolidasi. Satu, supaya bisa tetap berkolaborasi dengan bank syariah yang sudah ada. Dua, bikin bank itu perjalanan panjang. Muhammadiyah ini rasional, terlalu tersistem tidak akan tergesa-gesa,” ujarnya dikutip Kompas.
Namun, lanjut Haedar, lebih penting dari itu, bank syariah memiliki orientasi seperti bank konvensional, yakni untuk menyejahterakan rakyat.
Jadi, untuk perbankan kita tidak akan tergesa-gesa, itu gagasan.
Muhammadiyah selama ini fokus pada peningkatan kesejahteraan, termasuk mereformasi, berkolaborasi untuk pemberdayaan warung-warung kecil dengan retail dan jaringan retail Muhammadiyah.
Sejak 2015, Muhammadiyah memang menetapkan pilar strategis. Selain pendidikan dan kesehatan, juga sosial dan ekonomi menjadi prioritas. Dengan ekonomi, Muhammadiyah bisa memberdayakan umat dan rakyat.
Selama ini, Muhammadiyah koheren dengan berbagai kebijakan pemerintah, terutama dalam bidang ekonomi. Seperti halnya pada era kepemimpinan saat ini yang menginginkan kedaulatan sandang-pangan, pemenuhan gizi untuk rakyat, hingga efisiensi yang berdimensi pada lingkup ekonomi.
Haedar menegaskan, ke depannya Muhammadiyah akan terus meningkatkan usaha-usaha ekonomi di berbagai bidang, yang tidak hanya di aspek UMKM, tetapi juga merintis program-program bisnis milik Muhammadiyah.
”Insya Allah, dengan langkah ini Muhammadiyah tidak hanya bergerak untuk mencerahkan paham keagamaan agar tetap moderat dalam meningkatkan integrasi nasional dengan bersatu, tetapi juga memajukan ekonomi rakyat. Saya yakin seluruh kekuatan bangsa bisa berkolaborasi untuk menjadi gelombang besar dalam meningkatkan ekonomi bangsa,” ujarnya.
Dana Muhammadiyah dan Dominasi BSI di Perbankan Syariah
Sementara itu, dalam sambutannya, Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia (BI) Imam Hartono, yang mewakili Gubernur BI, menjelaskan peran strategis BI dalam mendukung ekosistem ekonomi syariah di Indonesia dan pentingnya pengelolaan amal usaha Muhammadiyah.
Menurut Imam, PP Muhammadiyah telah menjadi salah satu mitra utama BI, khususnya dalam mendorong kemandirian ekonomi bagi pelaku usaha syariah di Indonesia. ”Oleh karena itu, kami mengapresiasi kerja sama yang terjalin selama ini sehingga pengembangan ekonomi dan keuangan syariah semakin baik dari waktu ke waktu,” ucapnya.
Sebagai bank sentral yang memiliki peran dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, BI merasa terhormat bisa jalin kerja sama dengan Muhammadiyah yang merupakan salah satu organisasi besar. Berdasarkan catatan BI, warga Muhammadiyah di Indonesia berjumlah 60 juta jiwa (26 persen dari total populasi Muslim Indonesia).
Oleh karena itu, menurut Imam, keberhasilan pengembangan program pengembangan ekonomi dan keuangan syariah BI tidak terlepas dari dukungan aktif PP Muhammadiyah. Beberapa tahun terakhir, sinergi antara BI dan PP Muhammadiyah telah terjalin dalam beberapa sektor.
Dalam pengembangan sektor riil, misalnya, sejak 2017-2024, BI telah mendorong pemberdayaan unit usaha di 363 pesantren Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Program pemberdayaan diwujudkan melalui sejumlah inisiatif sektor perikanan di kawasan pesisir, modernisasi infrastruktur di pesantren, serta pemberdayaan komunitas perempuan.
Mentarimart
Pada rakornas kali ini, Muhammadiyah juga meluncurkan megaretail bernama Mentarimart. Mentarimart menjadi bentuk kontribusi dan dukungan Muhammadiyah dalam membangun kemakmuran ekonomi bangsa. Mentarimart dinilai semakin memperkuat dan membentuk ekosistem ekonomi Muhammadiyah yang lebih baik dan merekatkan jaringan yang ada di berbagai daerah.
Menurut Haedar Nashir, Muhammadiyah telah turut meningkatkan ekonomi sejak lama dengan memajukan UMKM dan ekonomi bisnis berskala besar.
Jika ingin maju di bidang ekonomi, lanjut dia, harus melangkah penuh progresif. Bekerja sama dengan retail lebih besar menjadi salah satu langkah yang dilakukan sebagai bentuk pengembangan retail yang ada.
”Apabila warung-warung kecil di sekitar tidak punya modal, kita modalin. Kemudian, apabila barang-barangnya tidak terjamin karena expired, bisa kita pasok dengan barang yang lebih terjamin. Saya yakin Majelis Ekonomi Muhammadiyah mampu bekerja sama dalam memberdayakan warung-warung kecil dan meningkatkan usaha-usaha di kelas menengah,” tambahnya. (kom/isl)
