Kolom Abdul Latif Khan: Ketika Kubur Menjadi Rumah Pertama Kita

Kolom107 Dilihat

Serial Muhasabah dari Mihrab Maya

 

Ketika Kubur Menjadi Rumah Pertama Kita

 

Oleh Ust Abdul Latif Khan

 

Setelah kematian… ada sunyi.

 

Bukan sunyi yang bisa kita isi dengan musik.

Bukan sunyi yang bisa kita tutup dengan percakapan.

 

Sunyi yang nyata.

Sunyi yang panjang.

Sunyi yang tidak bisa kita hindari.

 

Itulah kubur.

 

Kita sering berbicara tentang mati.

Tapi jarang membayangkan

apa yang terjadi setelahnya.

 

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

 

“Kubur adalah taman dari taman-taman surga atau lubang dari lubang-lubang neraka.”¹

 

Bukan tempat netral.

Bukan ruang tunggu biasa.

 

Ia awal dari perjalanan panjang.

 

Ketika Semua Pulang

 

Bayangkan hari itu.

 

Tubuh kita dimandikan.

Dikafani.

Disalatkan.

 

Tangis terdengar.

Doa dipanjatkan.

 

Lalu kita diturunkan perlahan ke dalam liang lahat.

BACA JUGA :  Kolom Ustadz Abdul Latif Khan: Ketika Doa Tak Lagi Membuat Kita Menangis

 

Tanah mulai menutup.

 

Orang-orang masih berdiri.

Lalu satu per satu pergi.

 

Langkah kaki mereka terdengar menjauh.

 

Dan kita…

tinggal sendiri.

 

Mihrab Maya Tak Lagi Ada

 

Tidak ada layar.

Tidak ada pesan masuk.

Tidak ada kabar terbaru.

 

Yang ada hanya pertanyaan.

 

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa dua malaikat akan datang dan bertanya: Siapa Rabbmu? Apa agamamu? Siapa nabimu?²

 

Jawaban itu bukan hafalan.

Ia adalah cerminan hidup kita.

 

Kalau selama ini kita jarang menyebut Allah,

bagaimana lisan akan lancar menjawab?

 

Kalau selama ini kita jauh dari sunnah,

bagaimana hati akan tenang menyebut nama Rasul?

 

Yang Menjadi Cahaya

 

Kubur bisa gelap.

Sangat gelap.

 

Tapi ada yang bisa meneranginya: amal.

 

Shalat yang tulus.

Sedekah yang tersembunyi.

BACA JUGA :  Kolom Ustaz Abdul Latif Khan: Ketika Kita Ingin Dicintai Allah

Air mata yang tidak diketahui siapa pun.

 

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menjelaskan bahwa mengingat kubur akan mematahkan kesombongan dan melembutkan hati.³

 

Karena ketika kita sadar akan tinggal di sana,

kita tidak akan mudah menunda taubat.

Tidak akan mudah menyakiti orang.

Tidak akan mudah meremehkan dosa.

 

Kita Akan Tinggal Lama di Sana

 

Rumah di dunia bisa kita renovasi.

Bisa kita perindah.

 

Kubur?

 

Ia dibangun hari ini.

Dengan amal hari ini.

 

Kalau kita malas shalat,

kubur itu sedang kita sempitkan.

Kalau kita rajin bermaksiat,

kubur itu sedang kita gelapkan.

 

Dan kalau kita rajin taubat,

kubur itu sedang kita lapangkan.

 

Jangan Tunggu Sampai Terlambat

 

Dari mihrab maya ini,

mari kita berhenti sejenak.

 

Bayangkan malam pertama di kubur.

BACA JUGA :  ANAK PINTAR, TAPI KEHILANGAN ARAH

 

Apa yang akan menemani kita?

Siapa yang akan membela kita?

 

Tidak ada keluarga.

Tidak ada sahabat.

Tidak ada pengikut.

 

Hanya amal.

 

Kalau hari ini adalah hari terakhir,

apakah kita siap menempati rumah pertama itu?

 

Doa untuk Malam Pertama

 

Mari kita berdoa:

 

“Ya Allah… jadikan kuburku taman dari taman-taman surga.

Lapangkan ia sejauh mata memandang.

Terangi ia dengan cahaya iman.

Jangan jadikan ia lubang dari lubang neraka.”

 

Karena mungkin yang paling dekat dengan kita

bukan masa depan…

tapi rumah pertama setelah kematian.


Catatan Kaki

1. Hadis riwayat at-Tirmidzi tentang kubur sebagai taman surga atau lubang neraka.

2. Hadis tentang pertanyaan malaikat di kubur, riwayat Abu Dawud.

3. Ihya’ Ulum al-Din, pembahasan tentang mengingat kematian dan kubur.