MASJID SEBAGAI PUSAT PERADABAN: DARI RUMAH IBADAH MENUJU RUMAH PEMBERDAYAAN

Kolom13 Dilihat

Refleksi Model Masjid Jogokariyan Yogyakarta

Oleh: Rafdinal, S.Sos., M.AP.

Wakil Ketua PDM Medan, Dosen FISIP UMSU, Aktifis Pemberdayaan Sosial

 

Di banyak tempat, masjid kita masih berhenti sebagai tempat sujud. Ramai saat Jumat, sepi setelahnya. Megah bangunannya, tapi tipis dampak sosialnya. Saldo kasnya besar, tapi jamaah di sekitarnya masih ada yang kesulitan dan bahkan melarat.

Padahal di zaman Rasulullah SAW, Masjid Nabawi bukan hanya mihrab. Ia adalah sekolah, pasar, klinik, mahkamah, dan pusat musyawarah. Masjid adalah pusat peradaban.

Hari ini, spirit itu dihidupkan kembali oleh sebuah masjid kampung di Yogyakarta: Masjid Jogokariyan. Dari kampung yang dulunya dikenal sebagai basis abangan, masjid ini menjelma menjadi ikon nasional masjid pemberdaya.

Apa yang mereka lakukan? Mereka menggabungkan 3 fungsi masjid sekaligus: spiritual, sosial, dan ekonomi.

Dari Ritual Menuju Pemberdayaan.

Jogokariyan mengajarkan bahwa dakwah tidak cukup dengan ceramah, tapi harus dengan data. Mereka memetakan seluruh jamaah by name by address: siapa yang shalat, siapa yang belum, siapa fakir, siapa pengusaha, siapa janda. Dari data itulah program lahir.

Tujuh Pilar Masjid Jogokariyan yang Bisa Kita Tiru

1. Prinsip Saldo Nol: Kas masjid harus habis disalurkan, tidak boleh ditumpuk. Ustadz Muhammad Jazir berkata, “Masjid itu mengalirkan, bukan menimbun.”

3. Baitul Maal Mandiri: Mengelola Zakat, Infak, Sedekah (ZIS) sendiri tanpa potongan. Melahirkan ATM Beras untuk dhuafa, modal usaha, bedah rumah, beasiswa. Dari mustahik menjadi muzakki.

BACA JUGA :  Febrie, Godfather dalam Pemberantasan Korupsi yang Ditakuti Oligarki

3. Ekonomi Jamaah: Semua kebutuhan masjid – 2.000 porsi takjil harian, katering, cetak, jasa – wajib memakai produk jamaah. Uang berputar di kampung.

4. Kampoeng Ramadhan Jogokariyan (KRJ): Ribuan buka puasa gratis layak gizi setiap hari, pasar rakyat 100+ UMKM lokal tertib dan bersih, kajian hingga malam.

5. Memberi Peran: Takmir dibuat gemuk, setiap pengajian punya ketua-bendahara sendiri. Pemuda dirangkul dengan klub panahan, sepeda onthel, peci batik, klinik kesehatan.

6. Transparansi: Laporan keuangan terbuka, sehingga kepercayaan jamaah tinggi. Inilah yang membuat Bank Syariah dan perusahaan mau bermitra.

7. Solidaritas: Masjid tidak berdiri di atas masyarakat, tapi tumbuh bersama masyarakat.

Inilah masjid yang fungsional, bukan hanya seremonial.

Semua yang dilakukan Jogokariyan sesungguhnya kembali kepada Al-Qur’an.

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah: 18).

Memakmurkan (ya’muru) bukan hanya membangun fisik, tapi menghidupkan fungsi sosialnya, termasuk zakat.

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ، رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ

BACA JUGA :  PRESIDENSIAL ATAU PRESIDIUM?

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan… laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah, dan dari mendirikan shalat, dan dari membayarkan zakat.”(QS. An-Nur: 36-37)

Allah menyebut tijarah (perniagaan) dan bai’ (jual beli) di dalam ayat tentang masjid. Artinya masjid harus mengatur ekonomi agar tetap ingat Allah.

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”(QS. Al-Jumu’ah: 10)

Masjid adalah stasiun pengisian energi, setelah itu jamaah harus bertebaran memberdayakan bumi.

Manajemen Zakat Masjid

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan.”(QS. At-Taubah: 60)*

Ayat ini menjadi SOP Baitul Maal Jogokariyan: zakat harus tepat sasaran dan dikelola masjid secara langsung.

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ

“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji.” (QS. Al-Baqarah: 261).

BACA JUGA :  Menyeimbangkan Neraca Radbruch: Transisi Pengadilan Pajak Menuju Rumah Baru MA

Inilah yang terjadi di Jogokariyan: infak kecil yang dikelola amanah, berlipat menjadi kesejahteraan besar.

Penutup

Kita tidak perlu menjadi Jogokariyan. Tapi kita bisa meniru spiritnya.

Pertanyaan besar untuk takmir masjid di Sumatera Utara, dan di seluruh Indonesia adalah: Sampai kapan masjid kita hanya bangga dengan jumlah keramik dan saldo, tapi lupa jumlah jamaah yang masih lapar ?

Masjid yang baik bukan yang bangunannya paling tinggi menjulang ke langit, tapi yang manfaatnya paling dalam mengakar ke bumi.

Rasulullah SAW tidak mewariskan masjid dengan kubah emas. Beliau mewariskan masjid yang mengentaskan kemiskinan, menyatukan Aus dan Khazraj, dan melahirkan peradaban dunia.

Sudah saatnya kita beralih: dari penjaga bangunan menjadi penggerak umat. Dari pengurus kotak amal menjadi manajer pemberdayaan.

Pada akhirnya, di hari perhitungan nanti, Allah tidak akan bertanya seberapa indah marmer masjid kita.

Allah akan bertanya: Berapa perut yang kenyang karena masjidmu? Berapa anak yang sekolah karena masjidmu? Berapa usaha yang tumbuh karena masjidmu? Dan berapa pemuda yang kembali ke jalan-Mu karena masjidmu menjadi rumahnya ?

Mari kita kembalikan masjid ke khittahnya. Masjid sebagai rumah ibadah, sekaligus rumah harapan, rumah ilmu, dan rumah pemberdayaan. Masjid yang tidak sekadar bersujud, tapi bertumbuh dan menumbuhkan.

Wassalam…