Sumpah Pemuda Bukan Sekadar Seremonial, Ketua Pemuda Masyumi Sumut: Saatnya Pemuda Ambil Peran Lewat Aksi Nyata

Politik93 Dilihat

MEDAN — Ketua Pemuda Masyumi Sumatera Utara, Ustaz Muhammad Saddam Idris, M.Pd.I., yang akrab disapa Ustaz Saddam Tampan atau Ustaz Sampan, menegaskan bahwa peringatan Sumpah Pemuda harus dibuktikan dengan kerja nyata, bukan sekadar seremonial upacara semata.

Hal tersebut disampaikannya dalam dialog khusus Yuk Ngopi (Ngobrol Politik Islami) di Radio Al-Fatih, Jumat (30/10/2026). Dialog yang mengangkat tema “Sumpah Pemuda Masa Kini” tersebut juga menghadirkan narasumber lain, yakni Ustaz Al Hafizh Fahmi Hussein Lubis, S.E., yang merupakan Wakil Sekretaris PW Parmusi Sumut sekaligus Ketua DPW Gerakan Pemuda Muslim Indonesia Sumatera Utara.

Dalam pemaparannya, Ustaz Saddam menyoroti pentingnya menyelaraskan nilai-nilai keislaman dan nasionalisme. Menurutnya, Islam tidak pernah menolak nasionalisme selama tidak berujung pada fanatisme buta.

“Islam tidak menolak nasionalisme, asal tidak jadi fanatisme buta. Berdasarkan QS Al-Hujurat ayat 13, kita diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal. Nasionalisme Islami berarti menjadikan cinta tanah air sebagai ladang dakwah, di mana perjuangan hari ini adalah melawan penjajahan pemikiran, ekonomi, dan moral,” ujar Ustaz Saddam Tampan.

BACA JUGA :  DPD Partai Masyumi Kota Bogor Resmi Dilantik, Siap Kawal Pemerintahan dan Bidik Kursi DPRD

Lebih lanjut, Ustaz Saddam membedah persoalan krisis moral yang kerap melanda generasi muda saat ini. Ia menilai tantangan utama pemuda bukan terletak pada kekurangan kecerdasan, melainkan krisis arah dan identitas.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, ia menawarkan tiga solusi strategis, yakni mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat kehidupan umat, bukan sekadar tempat ibadah yang pasif; memperkuat literasi sejarah dengan mengenali tokoh-tokoh bangsa seperti Mohammad Natsir dan Buya Hamka; serta memberikan panggung dan tanggung jawab nyata kepada pemuda, bukan hanya menyampaikan nasihat.

Terkait keteladanan politik, Ustaz Saddam mengingatkan kembali nilai-nilai perjuangan Masyumi yang harus dihidupkan di era modern. Menurutnya, Masyumi harus dipandang sebagai sekolah akhlak dalam berpolitik, bukan sekadar nostalgia sejarah.

“Politik itu ibadah, dan mengurus rakyat pahalanya besar. Tokoh-tokoh Masyumi seperti M. Natsir telah memberikan teladan bagaimana berkuasa tanpa mengambil harta negara. Politik bukanlah ajang mencari jabatan, melainkan menjaga amanah. Ingat, kalau orang baik menjauhi politik, maka politik akan dikuasai oleh orang-orang yang tidak baik. Suara kita jauh lebih mahal dari sekadar Rp50.000, maka tolak politik uang,” tegas Ustaz Sampan.

BACA JUGA :  M.Said Siregar Sebut Sufmi Dasco Ahmad "Sang Kancil" Panutan Kader Gerindra

Sementara itu, narasumber lainnya, Ustaz Al Hafizh Fahmi Hussein Lubis, S.E., menekankan pentingnya membangun kesadaran politik di kalangan anak muda dengan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai landasan perjuangan.

Menurut Ustaz Fahmi, politik anak muda harus berorientasi pada kemanfaatan bagi masyarakat. Ia mengingatkan hadis Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Baginya, prinsip tersebut harus menjadi pedoman bagi generasi muda dalam mengambil peran di ruang publik dan kehidupan politik. Politik tidak semestinya hanya dimaknai sebagai upaya memperoleh kekuasaan atau jabatan, tetapi sebagai jalan untuk memberikan manfaat, memperjuangkan kepentingan masyarakat, serta menghadirkan perubahan yang lebih baik.

Ia juga menegaskan bahwa aktivitas politik harus berlandaskan empat sifat utama Rasulullah SAW, yakni siddiq (jujur), tabligh (menyampaikan kebenaran), fathanah (cerdas dan bijaksana), serta amanah (dapat dipercaya).

“Anak muda harus memiliki integritas dalam berpolitik. Empat sifat Rasulullah SAW, yaitu siddiq, tabligh, fathanah, dan amanah, harus menjadi pedoman. Dengan nilai-nilai tersebut, politik dapat dijalankan sebagai sarana pengabdian dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” demikian pesan Ustaz Fahmi dalam dialog tersebut.

BACA JUGA :  Partai Masyumi Tunjukkan Keseriusan Hadapi Pemilu, Lakukan Pemutakhiran Data Secara Simultan dan Berkelanjutan

Sebagai langkah konkret di akar rumput, Ustaz Saddam mengajak para pemuda mengimplementasikan gerakan taktis melalui sejumlah program, seperti konsep “1 Masjid, 1 Gerakan” untuk kegiatan sosial dan kebersihan masjid, program “1 Pemuda, 1 Skill” yang mendorong anak muda menguasai keterampilan seperti berceramah, desain, berjualan hingga digital marketing, serta gerakan “1 Komunitas, 1 Suara Kebaikan” untuk melawan konten negatif dengan konten positif.

Menutup dialog tersebut, Ustaz Saddam mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan pandangan, termasuk dalam pilihan politik.

“Menang tanpa menyakiti, kalah tanpa mendendam. Beda pilihan politik, silaturahmi harus tetap berjalan. Yang terpenting, Sumpah Pemuda harus dibuktikan dengan KERJA, bukan hanya upacara,” pungkasnya.

Dialog Yuk Ngopi di Radio Al-Fatih ini menjadi ruang refleksi bagi generasi muda untuk kembali memahami makna Sumpah Pemuda, memperkuat identitas keislaman dan kebangsaan, serta mengambil peran nyata dalam membangun masyarakat dan bangsa. (r/isl)