Medan- Investasi emas masih menjadi pilihan favorit masyarakat karena dinilai mampu menjaga nilai aset dalam jangka panjang serta mudah dicairkan saat dibutuhkan. Namun, potensi keuntungan tersebut bisa berubah menjadi kerugian apabila pembelian dilakukan tanpa perencanaan yang matang.
Masih banyak investor, terutama pemula, yang melakukan kesalahan mendasar saat membeli emas. Akibatnya, tujuan investasi tidak tercapai, bahkan nilai aset berkurang atau sulit dijual kembali.
Berikut beberapa kesalahan yang perlu dihindari:
Jangan membeli emas hanya karena ikut tren atau melihat harga sedang naik. Tentukan terlebih dahulu tujuan investasi, seperti dana pendidikan, biaya haji, dana pensiun, atau sebagai pelindung nilai dari inflasi. Tujuan yang jelas akan membantu menentukan besaran investasi dan jangka waktu penyimpanan.
Banyak orang menunda pembelian karena berharap harga turun, sementara sebagian lainnya buru-buru membeli saat harga melonjak karena takut ketinggalan. Padahal, emas lebih tepat dijadikan investasi jangka menengah hingga panjang dibandingkan untuk mencari keuntungan dari fluktuasi harga harian.
Pastikan emas dibeli dari toko, lembaga, atau platform terpercaya. Pilih produk yang memiliki sertifikat resmi karena sertifikat menjadi bukti keaslian dan mempermudah proses penjualan kembali.
Kesalahan lain adalah hanya memperhatikan harga beli tanpa memahami adanya selisih harga beli dan harga jual kembali (spread). Semakin besar spread, semakin lama waktu yang dibutuhkan agar investasi memberikan keuntungan. Karena itu, bandingkan kebijakan harga dari beberapa penyedia sebelum membeli.
Menyimpan emas sembarangan di rumah meningkatkan risiko kehilangan akibat pencurian maupun bencana. Gunakan brankas pribadi atau layanan penyimpanan resmi agar investasi lebih terlindungi.
Investasi emas sebaiknya menggunakan dana khusus investasi, bukan uang untuk kebutuhan pokok atau dana darurat. Jika terpaksa menjual emas dalam kondisi mendesak ketika harga belum menguntungkan, investor berpotensi mengalami kerugian.
Faktur dan sertifikat pembelian sering dianggap tidak penting. Padahal, dokumen tersebut sangat dibutuhkan saat proses penjualan kembali maupun verifikasi keaslian emas. Simpan dokumen di tempat yang aman.
Sebagian orang membeli emas sekali dalam jumlah besar, lalu berhenti tanpa strategi lanjutan. Padahal, pembelian secara berkala dapat membantu meratakan harga rata-rata pembelian sehingga risiko fluktuasi harga menjadi lebih terkendali.
Seorang perencana keuangan mengingatkan bahwa emas sebaiknya menjadi bagian dari diversifikasi aset, bukan satu-satunya instrumen investasi.
“Emas berfungsi menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang, sehingga keputusan membeli sebaiknya didasarkan pada tujuan keuangan, bukan sekadar mengikuti tren,” ujarnya, Jumat (17/7/2026).
Emas tetap menjadi salah satu instrumen investasi yang relatif stabil apabila dibeli dengan strategi yang tepat. Memahami kesalahan-kesalahan umum sejak awal akan membantu investor mengoptimalkan potensi keuntungan sekaligus meminimalkan risiko kerugian.
Sebelum membeli, pastikan memilih produk yang asli, memahami biaya serta selisih harga beli dan jual, menyimpan dokumen dengan baik, serta menyesuaikan investasi dengan kondisi keuangan. Dengan langkah tersebut, emas dapat menjadi aset yang efektif untuk menjaga nilai kekayaan di masa depan.