BINJAI – Wali Kota Binjai Amir Hamzah harus diperiksa oleh terkait korupsi dana hibah sawit (DBH) Tahun anggaran 2023 dan 2024 senilai Rp 15 Miliar. Sebab, sebelumnya pihak Kejaksaan telah menahan 3 tersangka, dua dari ASN PUPR Binjai, satu rekanan pihak swasta.
Hal itu disampaikan Ketua LSM P3H Jaspen Pardede dan Ketua LSM LPPASRI Zulkifli Gayo di Binjai, kemarin. Keduanya menanggapi kasus korupsi Dana Bagi Hasil (DBH) yang menahan 3 tersangka dan hingga kini pihak Kejaksaan Binjai belum juga memeriksa orang nomor 1 di Kota Binjai itu.
“Kejaksaan jangan hanya memakai hukum material, tetapi harus menerapkan hukum formil dalam kasus korupsi dana hibah sawit senilai Rp 15 miliar. Karena hukum formil akan mengejar siapa yang memerintahkan perbuatan korupsi, seusai Pasal 55 KUHP, terhadap proyek fiktif. Kenapa ada perintah membayar proyek padahal tidak dikerjakan,” tegas keduanya.
Sebagai informasi, ketiga orang yang ditetapkan sebagai tersangka dan langsung ditahan pihak Kejaksaan Negeri Binjai, yakni PLT. Kadis PUPR Kota Binjai, RIP juga merangkap sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), SFP selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) serta TSD sebagai rekanan atau pihak ketiga kegiatan proyek. Ketiganya ditetapkan tersangka oleh Kejari Binjai, atas pengerjaan proyek jalan dengan sumber alokasi keuangan dari Dana Bagi Hasil (DBH) Sawit Tahun Anggaran (TA) 2023-2024 dengan pagu total senilai hampir 15 miliar rupiah.
Berdasarkan keterangan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Binjai Dr. Iwan Setiawan S.H, M.Hum, saat konferensi pers di hadapan para awak media di didampingi jajaran Kepala Seksi, disebutkan penetapan tersangka itu setelah pihaknya melakukan serangkaian penyelidikan dan penyidikan dalam realisasi anggaran DBH Sawit Kota Binjai.
“Awal Proyek tersebut bahwa Pemko Binjai mendapat Dana Bagi Hasil (DBH) Sawit yang bersumber dari Pusat TA 2023 dan 2024 dengan total Rp. 14.903.378.000,”. Dimana, semua anggaran DBH ini dikelola oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Pemko Binjai di tahun 2024,” ucap Iwan Setiawan.
Dalam perencanaannya, Kajari Binjai melanjutkan, DBH Sawit akan digunakan sebagai anggaran perbaikan dan perawatan badan jalan atas 12 paket pengerjaan dengan rincian 7 paket senilai Rp7.913.265.000,- di tahun 2023 dan 5 paket sebesar RpRp 6.990.113.000,- untuk tahun 2024.
“Tahun 2024 PUTR Pemko Binjai, barulah melaksanakan total 12 Proyek tersebut bersamaan dengan tahun sebelumnya yang dilaksanakan tahun 2024 juga, sehingga total Kegiatan tersebut ada 12 Paket Kegiatan/Proyek,” tandas dia.
Iwan Setiawan kembali melanjutkan, dalam serangkaian penyelidikan dan penyidikan oleh pihaknya, ditemukan indikasi atau dugaan perbuatan melawan hukum berupa manipulasi pekerjaan seperti kekurangan volume, waktu pengerjaan melewati batas yang berpotensi merugikan keuangan negara dan atau daerah.
“Dalam hal ini ada 2 paket pihak kontraktor sudah menerima dp sebesar 30% dari dinas PUTR Pemko Binjai, Sementara itu disisi lain 10 kegiatan yang seharusnya selesai dikerjakan tahun 2024 sesuai dengan yang diatur dalam kontrak tidak selesai dikerjakan namun faktanya pekerjaan baru selesai dikerjakan sekitar bulan Mei pada tahun 2025.
Namun di dalam Berita Acara Serah Terima (BAST) sudah dibuat pada Tanggal 24 Desember 2024 yang ditanda tangani PPK dan Rekanan agar seolah-olah pekerjaan tersebut sudah selesai tahun 2024 dari 7 Kegiatan,” tukasnya.
Atas penyimpangan yang ditemukan penyidik pidana khusus (Pidsus) Kejari Binjai serta dari perhitungan pihak ahli, perbuatan ketiga tersangka diduga merugikan keuangan negara dan atau daerah sebesar 2,6 Miliar lebih.
“Atas temuan Penyidik pada Proyek Pemeliharaan Berkala Jalan tersebut, Penyidik telah menurunkan Tim Ahli untuk pengecekan mutu & menghitung Volume dari 10 Proyek Jalan yang sudah terhampar dilapangan yang mana dari Hasil penghitungan Tim Ahli ditemukan bahwa pekerjaan tersebut tidak sesuai dgn Kontrak karena adanya kekurangan Volume yg menyebabkan Kerugian Negara Sebesar Rp. 2.656.709.053,-” kata mantan Asisten Pembinaan pada Kejati NTB itu.
Saat ditanya wartawan, apakah akan ada penambahan jumlah tersangka atas kasus tersebut, Kajari Binjai tidak menampik kemungkinan itu dengan menambahkan bahwa pihaknya masih akan terus melakukan pendalaman serta pengembangan perkara yang dimaksud.
“Kita lihat perkembangannya. Kita masih akan melakukan pendalaman atas perkara ini, nanti kita kabari lagi ke kawan-kawan media ya,” tutupnya.(bj)
