WASHINGTON/TEHERAN – Amerika Serikat dan Iran akhirnya menyepakati gencatan senjata sementara selama dua minggu, Selasa (7/4/2026), setelah ketegangan militer yang nyaris memicu eskalasi besar di kawasan Timur Tengah.
Kesepakatan tersebut tercapai hanya beberapa jam sebelum tenggat ultimatum Presiden AS, Donald Trump, yang sebelumnya mengancam akan melancarkan serangan besar terhadap infrastruktur sipil Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka.
Dalam pernyataannya di platform Truth Social, Trump menyebut kesepakatan ini sebagai “gencatan senjata dua sisi” yang dicapai setelah Amerika Serikat mengklaim telah memenuhi target militernya.
“Kesepakatan ini membuka jalan menuju perdamaian jangka panjang dengan Iran dan stabilitas di Timur Tengah,” tulis Trump.
Sebagai bagian dari kesepakatan, Iran menyatakan akan membuka kembali akses Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui hampir 20 persen distribusi minyak dunia.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa negaranya akan menghentikan serangan balasan dan menjamin keamanan pelayaran selama masa gencatan senjata.
“Selama dua minggu, jalur aman melalui Selat Hormuz akan tersedia dengan koordinasi Angkatan Bersenjata Iran,” ujarnya.
Iran juga mengumumkan bahwa perundingan lanjutan dengan Amerika Serikat akan dimulai pada 10 April 2026 di Islamabad, Pakistan. Negosiasi ini diharapkan menjadi langkah konkret menuju kesepakatan damai yang lebih permanen.
Media pemerintah Iran bahkan mengklaim bahwa Washington telah menerima proposal 10 poin dari Teheran, yang disebut sebagai dasar kompromi menuju penyelesaian konflik.
Dua pejabat Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Israel turut menyetujui penghentian sementara operasi militernya terhadap Iran selama dua minggu ke depan.
Sebelumnya, menjelang tenggat ultimatum, serangan udara oleh AS dan Israel sempat meningkat tajam dengan sasaran infrastruktur strategis seperti bandara, jalur transportasi, hingga fasilitas petrokimia. Target penting lainnya termasuk Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran.
Konflik yang telah berlangsung selama enam minggu ini telah menelan korban lebih dari 5.000 jiwa di hampir selusin negara. Dari jumlah tersebut, lebih dari 1.600 korban merupakan warga sipil di Iran.
Gencatan senjata ini pun menjadi harapan baru untuk meredakan krisis kemanusiaan sekaligus menstabilkan pasokan energi global yang sempat terganggu akibat penutupan Selat Hormuz. (isl)