ACEH– Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaik bangsa. Teungku Nyak Sandang bin Lamudin, tokoh sejarah asal Aceh yang dikenal sebagai penyumbang pesawat pertama Republik Indonesia, wafat pada Selasa, 7 April 2026 pukul 12.20 WIB di kediamannya di Aceh Jaya dalam usia 100 tahun.
Kabar duka ini dikonfirmasi oleh Camat Jaya, Syamsuddin. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga masyarakat luas yang mengenang jasa besarnya bagi bangsa.
Nama Nyak Sandang tak bisa dipisahkan dari sejarah lahirnya Garuda Indonesia.
Pada tahun 1948, di usia muda (23 tahun), ia menjual tanah serta emas miliknya dan menyumbangkan uang kepada negara. Aksi ini merupakan bagian dari gerakan besar rakyat Aceh yang berhasil mengumpulkan dana setara 20 kilogram emas.
Dana tersebut digunakan untuk membeli pesawat legendaris:
Pesawat ini menjadi tonggak penting dalam sejarah kedaulatan udara Indonesia dan menjadi cikal bakal berdirinya maskapai nasional.
Pesawat Seulawah (berarti “Gunung Emas”) bukan sekadar alat transportasi, tetapi simbol perjuangan rakyat.
Beberapa fakta penting:
Kini, pesawat tersebut menjadi warisan sejarah dan direplika dalam monumen di Banda Aceh, sementara aslinya disimpan di Taman Mini Indonesia Indah.
Pengorbanannya tidak dilupakan negara.
Dalam peringatan HUT RI 2019, Nyak Sandang berpesan:
“Semoga kemerdekaan ini bisa dijaga, diteruskan, dan diisi dengan baik.”
Kini, sosok yang dijuluki sebagai “pemilik pesawat pertama RI” telah berpulang. Namun, jasanya akan selalu dikenang—setiap kali pesawat Garuda Indonesia mengudara, di sanalah semangat pengorbanan rakyat Aceh ikut terbang menjaga langit Nusantara. (Tr/isl)