Filipina Tetapkan Darurat Energi Nasional, Dampak Konflik Timur Tengah Makin Meluas

Internasional37 Dilihat

FILIPINA- Pemerintah Filipina resmi menetapkan keadaan darurat nasional di sektor energi pada Selasa, menjadikannya negara pertama yang mengambil langkah drastis di tengah gangguan rantai pasok energi global akibat konflik di Timur Tengah.

Presiden Ferdinand Marcos Jr. menandatangani perintah eksekutif yang mengaktifkan respons nasional guna menjaga stabilitas pasokan energi serta meredam dampak ekonomi dari lonjakan harga bahan bakar.

Langkah ini diambil seiring meningkatnya tekanan global terhadap distribusi energi, terutama setelah eskalasi konflik di kawasan Teluk Persia yang mengganggu jalur vital perdagangan minyak dunia.

BACA JUGA :  Timur Tengah Kian Memanas, Israel Gempur Ibu Kota Suriah

Sebagai bagian dari respons darurat, pemerintah Filipina meluncurkan program bertajuk “UPLIFT”, sebuah kerangka dukungan menyeluruh yang menyasar sektor kehidupan masyarakat, industri, pangan, hingga transportasi.

Program tersebut difokuskan untuk menopang sektor-sektor krusial seperti transportasi, pertanian, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang paling rentan terdampak krisis energi.

Pejabat pemerintah menyebut status darurat ini memberikan kewenangan lebih luas bagi otoritas untuk:

  • Mengatur distribusi bahan bakar secara strategis
  • Memobilisasi sumber daya nasional dengan cepat
  • Menyalurkan bantuan secara tepat sasaran kepada kelompok terdampak
BACA JUGA :  Rusia Serang Ukraina Bagian Timur

Filipina sendiri memiliki ketergantungan signifikan terhadap energi dari Timur Tengah, dengan sekitar 26 persen kebutuhan energi nasional berasal dari kawasan tersebut. Pada 2024, nilai impor energi dari wilayah itu mencapai 16 miliar dolar AS.

Situasi semakin memburuk setelah konflik besar pecah pada 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran. Serangan tersebut memicu eskalasi militer luas di kawasan.

BACA JUGA :  Rudal Rusia Hantam RS Anak di Ukraina, 37 Orang Tewas

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan drone dan rudal ke berbagai target di kawasan, termasuk Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi basis militer AS.

Tidak hanya itu, Teheran juga dilaporkan mengambil kendali atas Selat Hormuz—jalur pelayaran vital yang dilalui sebagian besar distribusi minyak dunia. Kondisi ini memperparah krisis energi global, khususnya bagi negara-negara Asia yang sangat bergantung pada pasokan dari kawasan tersebut.  (ant/isl)