Internasional

Iran Buka Selat Hormuz Terbatas, Kapal “Non-Musuh” Diizinkan Melintas, Tarif Transit Rp30 Miliar Diterapkan

TEHERAN — Iran akhirnya membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz, namun dengan syarat ketat. Hanya kapal-kapal yang tidak berafiliasi dengan Amerika Serikat dan Israel yang diizinkan melintas di jalur vital energi dunia tersebut.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa negaranya menjamin keamanan pelayaran bagi pihak yang tidak terlibat dalam konflik melawan Teheran.

“Iran telah mengambil langkah untuk memastikan keamanan pelayaran dan akan berkoordinasi dengan kapal-kapal yang tidak berafiliasi dengan pihak agresor,” ujar Pezeshkian dalam percakapan dengan Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, Senin (23/3/2026).

Pernyataan senada juga disampaikan Misi Diplomatik Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam pernyataannya, Iran memastikan kapal non-musuh tetap bisa melintas dengan aman, selama tidak mendukung aksi militer terhadap Iran serta mematuhi aturan keselamatan yang berlaku.

Tarif Fantastis: Kapal Harus Bayar Rp30 Miliar Sekali Lewat

Di balik pelonggaran terbatas itu, Iran juga menerapkan kebijakan baru yang mengejutkan: tarif transit sebesar 2 juta dolar AS (sekitar Rp30 miliar) untuk setiap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.

Anggota parlemen Iran, Alaeddin Boroujerdi, menyebut kebijakan tersebut sebagai bentuk kedaulatan atas jalur laut strategis.

“Pengumpulan biaya 2 juta dolar untuk kapal yang melintas mencerminkan kekuatan Iran,” ujarnya.

Sejumlah media internasional seperti Bloomberg dan Lloyd’s List Intelligence melaporkan bahwa kebijakan ini sudah mulai diterapkan, meski mekanisme teknisnya belum diungkap secara rinci.

Lalu Lintas Mulai Pulih, Produksi Minyak Naik

Meski situasi masih tegang, aktivitas pelayaran perlahan meningkat. Dalam laporan terbaru, sekitar 20 kapal tanker telah melintasi jalur yang diarahkan otoritas Iran, tepatnya di antara Pulau Qeshm dan Larak.

Volume ekspor minyak dari Teluk Persia juga mulai pulih, kini mencapai sekitar 8 juta barel per hari, meski masih jauh dari kondisi normal sebelum konflik yang mencapai 20 juta barel per hari.

Sejauh ini, lima negara tercatat telah menjalin komunikasi dengan Iran terkait akses pelayaran, yakni China, India, Turki, Pakistan, dan Thailand.

Konflik Memanas, AS Siapkan Pasukan Elite

Di tengah situasi tersebut, Amerika Serikat dilaporkan bersiap meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah.

Media Wall Street Journal menyebut Pentagon akan mengerahkan satu brigade tempur dari Divisi Lintas Udara ke-82, dengan kekuatan sekitar 3.000 personel. Sementara laporan Reuters menyebut total tambahan pasukan bisa mencapai 4.000 tentara.

Opsi yang dipertimbangkan termasuk pengamanan Selat Hormuz hingga kemungkinan pengerahan pasukan ke wilayah strategis Iran, termasuk Pulau Kharg yang menjadi pusat ekspor minyak.

Iran Peringatkan AS: Siap Hadapi Konfrontasi

Menanggapi rencana tersebut, Iran mengeluarkan peringatan keras. Teheran menilai kehadiran pasukan tambahan AS justru akan memperbesar risiko bentrokan langsung.

“Langkah itu tidak akan mengubah situasi, tetapi justru mengekspos pasukan Amerika pada konfrontasi langsung,” demikian peringatan yang disampaikan Iran.

Selat Hormuz Jadi Titik Panas Dunia

Konflik antara Iran dengan AS dan Israel yang pecah sejak 28 Februari 2026 telah menewaskan ribuan orang dan menghancurkan berbagai fasilitas vital. Kawasan Teluk pun kini menjadi salah satu titik paling panas di dunia.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis global, tempat sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintas setiap harinya. Kebijakan Iran di kawasan ini kini menjadi penentu stabilitas energi global. (rm/isl)