TEPI BARAT — Jurnalis foto The Washington Post, Heidi Levine (64), mengungkapkan bagaimana dirinya berhasil diselamatkan oleh warga Palestina setelah diserang dan mengalami luka serius akibat pengeroyokan yang diduga dilakukan sekelompok pemukim Israel di Tepi Barat, Jumat (16/10/2026).
Levine mengalami empat tulang belakang retak, dua tulang rusuk patah, serta empat luka tusuk setelah dijatuhkan ke tanah dan berulang kali dipukuli oleh sekelompok pemukim bertopeng. Saat itu, ia bersama sejumlah jurnalis lainnya sedang meliput panen zaitun di Desa Abu Falah, sebelah utara Ramallah, wilayah Palestina.
Belum diketahui secara pasti apakah luka tusuk yang dialami Levine disebabkan oleh pisau atau senjata lainnya. Namun, seorang saksi mata menyebutkan terdapat paku yang menonjol dari sejumlah tongkat kayu yang digunakan para penyerang.
Levine merupakan jurnalis berpengalaman yang telah meliput berbagai konflik bersenjata di sejumlah negara. Ia baru saja kembali dari penugasan di Ukraina sebelum insiden tersebut terjadi.
Saat menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Petah Tikva, Israel, sebelum diperbolehkan pulang pada Rabu (21/10/2026), Levine mengatakan perlengkapan pelindung tubuh dan helm yang dikenakannya kemungkinan telah menyelamatkan nyawanya.
“Saya mungkin sudah meninggal, karena pukulan ke kepala saja sudah cukup untuk membunuh seseorang,” kata Levine.
Ia juga menyoroti kondisi warga Palestina yang tidak memiliki perlindungan serupa ketika menghadapi serangan. Menurutnya, lebih dari 20 warga Palestina telah tewas akibat serangan pemukim Israel sepanjang tahun ini, di tengah meningkatnya aksi kekerasan di Tepi Barat yang diduga bertujuan mengusir warga Palestina dari tanah mereka.
Levine mengatakan, pengalaman tersebut mengingatkannya pada banyaknya pemakaman warga Palestina yang selama ini ia hadiri sebagai jurnalis.
“Setiap jurnalis yang melihat serangan terhadap saya pasti berpikir bahwa mereka dan saya telah menghadiri begitu banyak pemakaman warga Palestina yang dibunuh oleh pemukim,” ujarnya.
Serangan Terjadi Saat Panen Zaitun
Levine menceritakan, kegiatan panen zaitun di Abu Falah awalnya berlangsung damai. Sejumlah petani Palestina bekerja bersama jurnalis dan aktivis hak asasi manusia yang mendampingi mereka.
Namun, situasi berubah ketika sekelompok pemukim muda bertopeng muncul di sebuah bukit di dekat lokasi dan mengawasi warga yang sedang memanen zaitun.
Menurut Levine, serangan mulai terjadi setelah tentara Israel tiba di lokasi.
“Setelah itu, semuanya berubah menjadi kekacauan. Beberapa petani mulai mengumpulkan terpal dan kantong berisi buah zaitun yang telah mereka petik. Tiba-tiba saya mendengar suara senapan mesin, kemudian melihat gas air mata di kejauhan. Saya mulai berlari,” tuturnya.
Ia kemudian melihat sekitar selusin orang berlari ke arahnya.
“Saya berusaha tetap menundukkan wajah ke tanah. Saya tidak tahu apakah saya mengambil posisi itu untuk melindungi diri atau karena pukulan pertama yang mereka berikan. Kalau tidak, mungkin seluruh wajah saya sudah hancur, saya bisa mengalami kerusakan otak atau kehilangan satu mata,” katanya.
Levine mengaku dipukuli menggunakan tongkat dan ditendang berkali-kali.
“Mereka mulai menendang dan memukuli saya dengan tongkat. Saya bahkan tidak bisa menghitung berapa kali, mungkin lebih dari seratus kali. Saya sempat berpura-pura mati agar mereka berhenti, tetapi itu tidak berhasil,” ujarnya.
Pemuda Palestina Pertaruhkan Nyawa untuk Menolong
Pengeroyokan tersebut akhirnya berhenti setelah sejumlah pemuda Palestina menggunakan ketapel untuk melontarkan batu ke arah para penyerang dan memaksa mereka mundur.
Situasi itu memungkinkan jurnalis Amerika lainnya, Jasper Nathaniel, menjangkau Levine. Bersama sejumlah wartawan lain, Nathaniel kemudian membantu mengevakuasi Levine ke tempat yang lebih aman.
Levine mengapresiasi keberanian para pemuda Palestina yang melindunginya ketika dirinya tidak berdaya menghadapi serangan.
“Para pemuda Palestina berdiri di depan dan berusaha menjauhkan mereka (para pemukim), membentuk semacam perisai pelindung. Itu luar biasa, seperti pertempuran dalam kisah Alkitab,” katanya.
Setelah kejadian tersebut, Nathaniel menulis bahwa Levine kemungkinan tidak akan selamat jika para pemuda Palestina tidak turun tangan melindunginya.
Ia menegaskan bahwa para pemuda tersebut mempertaruhkan nyawa mereka untuk menyelamatkan Levine, meskipun hanya berbekal batu.
Nathaniel juga menyebutkan bahwa setelah insiden itu, tentara Israel justru mengejar para pemuda Palestina, bukan para pemukim yang diduga terlibat dalam pengeroyokan.
Di wilayah tersebut, warga Palestina menghadapi risiko ditembak oleh pemukim atau tentara ketika mencoba melawan serangan. Mereka juga dapat menghadapi penahanan dalam waktu lama tanpa dakwaan.
Tetap Akan Meliput Tepi Barat
Levine, yang telah tinggal di Israel selama empat dekade, menegaskan akan kembali meliput situasi di Tepi Barat setelah pulih dari luka-lukanya.
“Pekerjaan saya penting. Mereka telah membuat tubuh saya lebam dan mematahkan beberapa tulang, tetapi mereka tidak berhasil mematahkan semangat saya,” ujarnya.
Sejak serangan tersebut, Levine menerima sejumlah surat dari warga Israel yang menyampaikan penyesalan. Ia juga mendapat telepon dari Presiden Israel Isaac Herzog yang menyampaikan permintaan maaf.
Menurut Levine, Herzog menyampaikan simpati dan mengatakan bahwa tindakan para pelaku tidak mewakili keseluruhan masyarakat Israel.
“Dia sangat hangat saat berbicara melalui telepon. Dia terus mengatakan bahwa dirinya ingin memberikan pelukan erat kepada saya. Dia mengatakan bahwa tindakan seperti itu bukanlah cerminan negara ini, melainkan noda gelap, dan menyebut para pelaku sebagai orang-orang berandalan,” kata Levine.
Sebaliknya, kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengeluarkan pernyataan melalui media sosial X yang mempertanyakan sejumlah kesaksian dan rekaman video terkait insiden tersebut. Netanyahu menyebutnya sebagai serangan yang masih diduga terjadi.
Levine secara khusus mengecam pernyataan Netanyahu yang menyebut sebagian rekaman video tampak memperlihatkan dirinya dijatuhkan, kemudian segera dibantu berdiri oleh orang tak dikenal yang sama.
“Itu omong kosong. Mereka membantu saya berdiri karena tidak bisa melepaskan barang-barang saya dari tubuh saya. Itulah alasannya,” kata Levine.
Ia menjelaskan bahwa barang-barangnya telah dirampas, termasuk kantong berisi dokumen, paspor Amerika Serikat, kartu kredit, kartu memori kamera, serta tas kecil berisi dua lensa kamera lainnya.
“Semua barang saya hilang. Itulah sebabnya mereka membantu saya berdiri. Setelah itu, mereka menjatuhkan saya kembali dan terus menendang serta memukuli saya,” ujarnya.
Empat Tersangka Dikenai Tahanan Rumah
Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee, mengecam serangan tersebut sebagai tindakan teror yang tercela dan mendesak agar para pelaku diproses secara hukum.
Kepolisian Israel dilaporkan menangkap 10 orang yang diduga terlibat setelah insiden di Abu Falah dan serangan lain pada Sabtu terhadap para diplomat Eropa di dekat Desa Taybeh, Tepi Barat.
Namun, pada Rabu (21/10/2026), pengadilan Israel membebaskan empat tersangka dalam kasus penyerangan terhadap Levine dari tahanan dan menetapkan tahanan rumah. Keputusan itu diambil dengan alasan bukti yang tersedia belum mencukupi untuk mempertahankan penahanan mereka.
Ketika ditanya apakah ia yakin para penyerangnya akan dibawa ke pengadilan, Levine menyatakan tingkat keyakinannya hanya dua dari sepuluh.
“Saya tidak terlalu berharap. Tentu saja, jika pemerintah memutuskan untuk mengambil tindakan, menindak tegas kasus ini, dan menangkap orang-orang yang terlibat, mereka bisa melakukannya,” katanya.
Namun, menurut Levine, penegakan hukum tidak cukup hanya dengan menangkap para pelaku di lapangan.
“Bukan hanya menangkap para berandalan remaja ini. Pemerintah juga harus menindak para pemimpin mereka, para rabi, serta mengungkap bagaimana mereka diorganisasi,” ujarnya.
Kasus penyerangan terhadap Levine kembali menyoroti persoalan keamanan jurnalis, perlindungan warga sipil, dan meningkatnya kekerasan terhadap warga Palestina di Tepi Barat. Bagi Levine, pengalaman tersebut tidak mengubah tekadnya untuk terus menjalankan tugas jurnalistik, meskipun ia harus menanggung luka serius akibat serangan itu. (bc/isl)
