Kolom Ustadz Abdul Latif Khan: Ketika Amal Kecil Menjadi Penyelamat Besar

Kolom70 Dilihat

Serial Muhasabah dari Mihrab Maya

Ketika Amal Kecil Menjadi Penyelamat Besar

Oleh Ust Abdul Latif Khan

Kita sering meremehkan hal kecil.

Senyum sederhana.
Sedekah receh.
Doa singkat.
Istighfar pelan di sela kesibukan.

Kita merasa itu tidak berarti apa-apa.

Padahal di sisi Allah…
bisa jadi justru itulah yang menyelamatkan.

Allah Melihat yang Kita Lupakan

Allah berfirman:

“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya ia akan melihat (balasannya).”
(QS. Az-Zalzalah: 7)

Seberat zarrah.

Bukan besar.
Bukan spektakuler.
Bukan viral.

Zarrah.

Sesuatu yang hampir tidak terlihat.

Dan sering kali kita mengejar amal yang besar di mata manusia,
tapi lupa menjaga yang kecil di sisi Allah.

Kisah yang Menggetarkan

Rasulullah ﷺ menceritakan tentang seorang wanita yang memberi minum seekor anjing yang kehausan, lalu Allah mengampuninya.¹

Bukan karena ceramah panjang.
Bukan karena ibadah yang terkenal.

BACA JUGA :  Suksesi Kepemimpinan dalam Ormas Islam dan Kontribusinya terhadap Demokrasi di Indonesia

Tapi karena satu amal kecil…
yang tulus.

Di sisi lain, ada yang beribadah bertahun-tahun
namun terjerumus karena satu kesombongan.

Kita tidak pernah tahu
amal mana yang menjadi sebab keselamatan.

Mihrab Maya dan Amal yang Tak Terlihat

Di era ini, kita terbiasa melihat angka.

Jumlah penonton.
Jumlah pengikut.
Jumlah donasi.

Tanpa sadar kita mengukur nilai amal dengan statistik.

Padahal mungkin ada doa singkat
yang tidak diketahui siapa pun
lebih berat di timbangan
daripada ribuan kata yang dipuji manusia.

Mungkin ada satu istighfar di tengah malam
yang lebih bercahaya
daripada satu panggung besar.

Jangan Remehkan Senyum dan Maaf

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikit pun, walau hanya dengan wajah yang berseri kepada saudaramu.”²

Senyum.

Terlihat sederhana.

Tapi mungkin itu yang meringankan timbangan kita.

BACA JUGA :  Menelisik Unsur-Unsur Tindak Pidana Korupsi Pasca Putusan MK dan Penerapannya di Pengadilan Tipikor

Memaafkan orang yang menyakiti.
Menahan komentar pedas.
Menghapus pesan yang hampir kita kirimkan.

Amal kecil.
Tapi mungkin besar di sisi Allah.

Amal Kecil yang Disembunyikan

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menjelaskan bahwa keikhlasan sering lebih mudah ditemukan pada amal yang kecil dan tersembunyi.³

Karena tidak ada yang melihat.
Tidak ada yang memuji.
Tidak ada yang mengomentari.

Hanya Allah.

Dan mungkin justru karena itu…
amal kecil itu menjadi besar.

Bayangkan Hari Penimbangan

Suatu hari, kita berdiri di hadapan Allah.

Amal ditimbang.

Kita mungkin berharap pada amal besar yang kita banggakan.

Tapi bisa jadi yang menyelamatkan adalah:

satu air mata yang tulus,

satu doa untuk orang tua,

satu sedekah kecil yang kita lupakan.

Dan kita terkejut.

Karena yang kita anggap kecil,
ternyata besar di sisi-Nya.

BACA JUGA :  Bung Tomo vs Orde Baru: Dari Pendukung Setia hingga Tahanan Tanpa Pengadilan

Jangan Tunggu Besar untuk Berbuat Baik

Dari mihrab maya ini,
jangan menunggu kesempatan besar.

Mulailah dari kecil.

Istighfar hari ini.
Sedekah hari ini.
Maafkan hari ini.
Senyum hari ini.

Karena kita tidak tahu
amal mana yang menjadi sebab Allah berkata:

“Aku ampuni engkau.”

Mari kita minta:

“Ya Allah… jangan Engkau jadikan aku meremehkan kebaikan kecil.
Jadikan setiap langkah kecilku menuju-Mu berarti besar di sisi-Mu.
Terimalah amal yang bahkan aku lupakan.”

Karena mungkin keselamatan kita
bukan pada amal yang terlihat besar…
tapi pada keikhlasan dalam hal yang kecil.


Catatan Kaki

1. Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim tentang wanita yang memberi minum anjing.
2. Hadis riwayat Muslim tentang tidak meremehkan kebaikan walau dengan senyum.
3. Ihya’ Ulum al-Din, pembahasan tentang keikhlasan dalam amal.
________