Serial Muhasabah dari Mihrab Maya
Ketika Hidayah Terasa Biasa
oleh Ust Abdul Latif Khan
Ada masa ketika kita menangis karena menemukan hidayah.
Pertama kali mengenal shalat dengan sungguh-sungguh.
Pertama kali merasakan manisnya sujud.
Pertama kali merasa Allah begitu dekat.
Dada bergetar.
Air mata jatuh.
Hidup terasa berubah.
Tapi waktu berjalan.
Dan sesuatu yang dulu terasa luar biasa…
perlahan menjadi biasa.
Shalat hanya rutinitas.
Kajian hanya agenda.
Zikir hanya lafaz.
Dan kita tidak lagi merasa takjub.
Inilah ujian berikutnya:
ketika hidayah terasa biasa.
—
Nikmat yang Tidak Disadari
Allah berfirman:
“Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu. Sebenarnya Allah-lah yang memberi nikmat kepadamu dengan menunjukimu kepada iman.”
(QS. Al-Hujurat: 17)
Keislaman kita bukan prestasi.
Ia adalah karunia.
Hidayah bukan hasil kecerdasan.
Ia adalah pemberian.
Tapi ketika hidayah terasa biasa,
kita mulai menganggapnya sebagai hak.
Seolah-olah memang sudah sewajarnya kita beriman.
Padahal berapa banyak orang yang masih mencari cahaya
dan belum menemukannya?
—
Dari Syukur ke Lalai
Dulu kita bangun untuk tahajud dengan semangat.
Sekarang alarm berbunyi… lalu kita tunda.
Dulu kita haus akan ilmu.
Sekarang kajian terasa membosankan.
Dulu hati bergetar ketika mendengar ayat.
Sekarang ia lewat begitu saja.
Bukan karena ayatnya kehilangan kekuatan.
Tapi karena hati kita kehilangan rasa.
Allah telah mengingatkan:
“Jika kamu bersyukur, pasti Aku tambah (nikmatmu). Tetapi jika kamu kufur, sungguh azab-Ku sangat pedih.”
(QS. Ibrahim: 7)
Kufur nikmat bukan selalu meninggalkan iman.
Kadang ia hanya berupa tidak menghargainya.
—
Hidayah Bisa Dicabut
Hati-hati.
Yang memberi hidayah adalah Allah.
Dan Dia mampu mencabutnya.
Rasulullah ﷺ sering berdoa:
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”¹
Beliau takut hatinya berubah.
Padahal beliau adalah manusia terbaik.
Maka siapa kita yang merasa aman?
—
Mihrab Maya dan Kelelahan Spiritual
Di era ini, kita sering terlalu sering terpapar konten agama.
Ceramah bertebaran.
Quotes berlimpah.
Ayat berseliweran.
Ironisnya, terlalu sering melihat bisa membuat kita kebal.
Hidayah berubah menjadi informasi.
Ayat berubah menjadi konten.
Nasihat berubah menjadi hiburan.
Kita merasa sudah tahu semuanya.
Padahal mengetahui tidak sama dengan merasakan.
—
Ingat Saat Kita Pertama Kali Tersentuh
Coba ingat.
Saat pertama kali kita benar-benar sadar.
Saat pertama kali kita menangis dalam sujud.
Saat pertama kali kita merasa Allah begitu dekat.
Apa yang berubah?
Bukan Allah yang menjauh.
Bukan Al-Qur’an yang melemah.
Mungkin kita yang terlalu sibuk.
Mungkin kita yang berhenti bersyukur.
—
Jangan Sampai Cahaya Itu Padam
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menekankan bahwa hati yang hidup selalu memperbarui rasa takut dan harap kepada Allah.²
Hidayah harus dijaga.
Dengan syukur.
Dengan doa.
Dengan muhasabah.
Jangan biarkan ia menjadi rutinitas kosong.
Karena yang paling menyedihkan bukan kehilangan dunia…
tapi kehilangan rasa terhadap Allah.
—
Kembali Memohon
Dari mihrab maya ini,
mari kita minta:
“Ya Allah… jangan jadikan hidayah terasa biasa bagiku.
Jangan Engkau cabut nikmat iman dari hatiku.
Jadikan aku hamba yang selalu takjub ketika menyebut nama-Mu.”
Karena mungkin keselamatan kita
bukan pada banyaknya ilmu…
tapi pada rasa syukur atas hidayah.
____