Kolom Ustaz Abdul Latif Khan: Ketika Kita Rindu Bertemu Allah

Kolom70 Dilihat

Serial Muhasabah dari Mihrab Maya

Ketika Kita Rindu Bertemu Allah
Oleh Ust Abdul Latif Khan

Ada rindu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Bukan rindu kepada manusia.
Bukan rindu kepada tempat.

Tapi rindu yang membuat dada terasa sempit
ketika jauh dari sujud.
Rindu yang membuat air mata jatuh
ketika nama-Nya disebut.

Itulah rindu kepada Allah.

Dan tidak semua orang merasakannya.

Rindu yang Tumbuh dari Cinta

Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis qudsi:

“Barang siapa mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah mencintai pertemuan dengannya.”¹

Mencintai pertemuan.

Artinya ada hati yang tidak lagi takut mati,
karena yang ia rindukan bukan dunia…
tapi Rabb-nya.

Bukan berarti ia ingin lari dari hidup.
Bukan berarti ia putus asa.

Tapi karena ia tahu,
pertemuan itu adalah puncak dari perjalanan panjang.

BACA JUGA :  Kolom Ustadz Abdul Latif Khan: Riya' yang Lebih Halus dari Jejak Semut

Mengapa Kita Takut Bertemu?

Kalau jujur…
sebagian dari kita belum rindu.

Kita takut mati.
Takut hisab.
Takut membuka lembaran amal.

Karena mungkin kita belum siap.

Rindu lahir dari kesiapan.
Dari taubat yang tulus.
Dari hati yang mulai bersih.

Kalau hati masih penuh dunia,
pertemuan terasa menakutkan.

Tapi kalau hati mulai dipenuhi cinta,
pertemuan menjadi harapan.

Mihrab Maya dan Kerinduan yang Hilang

Di tengah kesibukan dunia digital,
rindu itu sering tenggelam.

Kita rindu notifikasi.
Rindu pengakuan.
Rindu perhatian.

Tapi jarang rindu sujud panjang.
Jarang rindu Al-Qur’an yang dibaca perlahan.
Jarang rindu malam yang sunyi bersama Allah.

Padahal hati diciptakan untuk itu.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menjelaskan bahwa cinta kepada Allah tumbuh dari mengenal-Nya dan merenungi nikmat-Nya.²

BACA JUGA :  Kolom Ustadz Abdul Latif Khan: Ketika Hidayah Terasa Biasa

Semakin kita mengenal,
semakin kita rindu.

Rindu yang Menjaga

Rindu kepada Allah membuat kita berhati-hati.

Kita tidak ingin datang dalam keadaan kotor.
Kita tidak ingin bertemu dalam keadaan lalai.
Kita tidak ingin pertemuan itu menjadi penyesalan.

Maka rindu melahirkan taubat.
Rindu melahirkan amal.
Rindu melahirkan air mata.

Ia bukan sekadar perasaan.
Ia adalah dorongan untuk berubah.

Bayangkan Pertemuan Itu

Bayangkan hari ketika tabir dibuka.

Tidak ada lagi dunia.
Tidak ada lagi waktu tambahan.

Hanya kita… dan Allah.

Apakah kita ingin lari?
Atau kita ingin mendekat?

Jika hati kita mulai berkata,
“Aku ingin Engkau ridha padaku,”
itu tanda rindu sedang tumbuh.

Dari Takut ke Rindu

Perjalanan ruhani kita mungkin dimulai dari takut.
Takut neraka.
Takut dosa.
Takut murka.

BACA JUGA :  Belajar Menghidupkan Fungsi daripada Menikmati Posisi

Tapi ia harus tumbuh menjadi rindu.

Rindu surga.
Rindu rahmat.
Rindu wajah Allah.

Dari mihrab maya ini,
mari kita minta:

“Ya Allah… tanamkan dalam hatiku rindu untuk bertemu dengan-Mu.
Jangan Engkau jadikan pertemuan itu sebagai ketakutan semata,
tapi sebagai harapan dan kebahagiaan.”

Karena mungkin puncak perjalanan ini
bukan sekadar selamat…
tapi pulang dengan hati yang rindu.

Ini Episode 23.
Dan mungkin yang paling lembut.

Karena ketika rindu kepada Allah tumbuh,
dunia terasa kecil.
Dosa terasa berat.
Dan akhirat terasa dekat.

Catatan Kaki

1. Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim tentang mencintai pertemuan dengan Allah
2. Ihya’ Ulum al-Din, pembahasan tentang mahabbah dan rindu kepada Allah.