Serial Muhasabah dari Mihrab Maya
Ketika Kita Menunda Taubat Lagi
Oleh Ust Abdul Latif Khan
Ada satu kalimat yang paling sering menipu kita.
“Nanti.”
Nanti kalau sudah tenang.
Nanti kalau sudah tidak sibuk.
Nanti kalau sudah tua.
Nanti kalau sudah siap berubah.
Dan tanpa kita sadari…
kata “nanti” itu adalah jebakan paling halus dari syaitan.
Karena taubat selalu terasa bisa ditunda.
Padahal kematian tidak pernah menunda.
—
Kita Merasa Masih Punya Waktu
Allah berfirman:
“Dan tidaklah seseorang mengetahui apa yang akan dikerjakannya besok, dan tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi mana ia akan mati.”
(QS. Luqman: 34)
Kita tidak tahu besok.
Tapi kita merencanakan besok seolah-olah ia milik kita.
Kita tahu mati itu pasti.
Tapi kita hidup seolah-olah masih lama.
Berapa banyak orang yang pagi ini masih tertawa,
siang sudah terbujur kaku?
Berapa banyak yang semalam masih online,
pagi namanya sudah disebut dalam doa jenazah?
—
Taubat Itu Selalu Terasa Mudah… Besok
Hari ini kita berdosa.
Hati sedikit gelisah.
Lalu kita berkata, “Nanti aku perbaiki.”
Besok datang.
Dosa diulang.
Dan kata “nanti” muncul lagi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama ruh belum sampai di tenggorokan.”¹
Artinya pintu itu terbuka.
Tapi siapa yang menjamin
ruh kita belum sampai di sana malam ini?
—
Mihrab Maya dan Ilusi Umur Panjang
Di dunia digital,
kita terbiasa dengan jadwal.
Reminder.
Kalender.
Kita merasa hidup bisa diatur.
Padahal ajal tidak pernah mengikuti kalender kita.
Tidak ada notifikasi:
“Waktu taubat tinggal 24 jam.”
Tidak ada pesan terakhir sebelum malaikat datang.
Dan yang paling menyakitkan,
bisa jadi kita mati dalam keadaan
sedang menunda taubat.
—
Mengapa Kita Menunda?
Karena dosa terasa nikmat.
Karena perubahan terasa berat.
Karena kita takut kehilangan kesenangan.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menjelaskan bahwa salah satu penyakit hati adalah taswif — kebiasaan menunda kebaikan.²
Taswif membuat kita berkata,
“Sebentar lagi.”
“Masih ada waktu.”
“Belum sekarang.”
Padahal setiap penundaan membuat hati semakin keras.
—
Jangan Tunggu Tanda-Tanda
Sebagian orang menunggu sakit dulu untuk berubah.
Menunggu kehilangan dulu untuk sadar.
Menunggu musibah dulu untuk sujud.
Mengapa harus menunggu hancur
baru kembali?
Allah memanggil sekarang.
“Bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.”
(QS. An-Nur: 31)
Bukan besok.
Bukan nanti.
Sekarang.
—
Mungkin Ini Kesempatan Terakhir
Coba bayangkan…
Kalau ini adalah tulisan terakhir yang kita baca.
Kalau malam ini adalah malam terakhir kita hidup.
Kalau esok tidak pernah datang.
Apakah kita siap?
Atau masih ada dosa yang belum kita akui?
Masih ada shalat yang kita remehkan?
Masih ada hati yang kita sakiti?
Jangan sampai kita berkata,
“Seandainya aku diberi waktu sedikit lagi…”
ketika waktu itu sudah habis.
—
Dari Mihrab Maya ke Sujud Nyata
Setelah membaca ini,
jangan simpan hanya di pikiran.
Bangkitlah.
Ambil wudhu.
Shalat dua rakaat.
Akui semua.
Tidak perlu kalimat indah.
Tidak perlu doa panjang.
Cukup jujur:
“Ya Allah… aku sering menunda.
Padahal Engkau selalu membuka pintu.
Jangan Engkau ambil nyawaku sebelum aku kembali sepenuhnya.”
Karena mungkin keselamatan kita
bukan pada rencana besar yang akan datang…
tapi pada taubat yang kita lakukan hari ini.
—
Catatan Kaki
1. Hadis riwayat at-Tirmidzi tentang diterimanya taubat sebelum sakaratul maut.
2. Ihya’ Ulum al-Din, pembahasan tentang taswif (menunda kebaikan).
_______