Refleksi Hari Pendidikan Nasional 2026

Kolom67 Dilihat

Oleh: JATMIKO, S.Pd

Ketua Karang Taruna Kota Tebing Tinggi

“Guru Masih Miskin, Program Lain Dimakmurkan: Ada Apa dengan Prioritas Pendidikan Kita?”

Setiap 2 Mei, bangsa ini kembali menggaungkan semangat pendidikan yang diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara. Namun di balik pidato dan seremoni, ada kenyataan pahit yang terus diabaikan: guru—pilar utama pendidikan—masih jauh dari kata sejahtera.

Hari ini, kita menyaksikan ironi yang semakin nyata.
Di satu sisi, banyak guru honorer masih berjuang dengan penghasilan yang tidak layak, tanpa kepastian status, dan dibebani tuntutan profesionalisme yang tinggi. Mereka diminta mencerdaskan bangsa, tetapi untuk memenuhi kebutuhan hidup sendiri saja masih terseok-seok.

BACA JUGA :  MENGUJI ARAH DEMOKRASI LOKAL

Di sisi lain, program-program seperti rekrutmen SPPG justru terlihat lebih “makmur”—dengan dukungan anggaran, fasilitas, dan sistem yang jauh lebih siap. Ini bukan soal menolak program tersebut, tetapi soal keberanian untuk bertanya: mengapa kesejahteraan guru tidak pernah mendapatkan perlakuan yang sama seriusnya?
Ketimpangan ini bukan sekadar persoalan teknis anggaran, melainkan persoalan keberpihakan.

BACA JUGA :  Kolom Ustaz Abdul Latif Khan: Ketika Kita Terlalu Banyak Bicara, Tapi Sedikit Beramal

Jika negara mampu menghadirkan program yang rapi, terstruktur, dan didukung penuh dalam waktu relatif singkat, maka seharusnya hal yang sama juga bisa dilakukan untuk memastikan guru hidup layak dan bermartabat. Tanpa itu, semua jargon “transformasi pendidikan” hanya akan menjadi slogan kosong.

Karang Taruna Kota Tebing Tinggi melalui kegiatan Olimpiade Kebangsaan pada 14 Februari 2026 yang diikuti 750 peserta membuktikan bahwa semangat belajar generasi muda masih menyala. Namun api itu tidak akan bertahan lama jika para gurunya terus dipadamkan oleh ketidakadilan sistem.

BACA JUGA :  Dua Tokoh Politik Sumut 'Dihabisi' Ambisi Elite Pusat

Hardiknas 2026 seharusnya menjadi titik balik, bukan sekadar peringatan rutin. Kita harus berhenti berpura-pura bahwa pendidikan sudah berjalan baik-baik saja.
Karena kenyataannya sederhana:
selama guru masih hidup dalam ketidakpastian, maka masa depan pendidikan juga ikut tidak pasti.

Sudah saatnya negara benar-benar kembali ke ruh pendidikan yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara—memanusiakan manusia. Dan itu harus dimulai dari satu langkah paling mendasar: memanusiakan dan menyejahterakan guru.