Serial Muhasabah dari Mihrab Maya
Ketika Kita Terlalu Sibuk dengan Dunia, Sampai Lupa dengan Allah
Oleh Abdul Latif Khan
Ada satu kalimat yang jarang kita akui:
“Aku sibuk.”
Sibuk bekerja.
Sibuk membangun karier.
Sibuk mengurus keluarga.
Sibuk mengejar target.
Sibuk memperbaiki masa depan.
Sibuk… sampai lupa dengan Allah.
Bukan tidak percaya.
Bukan tidak beriman.
Tapi lupa.
Dan lupa itu perlahan menjauhkan.
—
Dunia Tidak Pernah Selesai
Dunia selalu punya alasan untuk membuat kita menunda.
Satu target tercapai, muncul target lain.
Satu urusan selesai, muncul urusan baru.
Satu masalah hilang, muncul tantangan lain.
Tidak pernah benar-benar kosong.
Allah sudah mengingatkan:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”
(QS. Al-Munafiqun: 9)
Bukan harta yang salah.
Bukan anak yang salah.
Yang salah ketika hati kita terikat padanya
lebih daripada kepada Allah.
—
Mihrab Maya dan Kesibukan Tanpa Henti
Hari ini kita bangun dengan notifikasi.
Tidur dengan layar di tangan.
Waktu habis untuk membalas pesan.
Mengatur jadwal.
Mengejar angka.
Kadang satu hari berlalu
tanpa satu momen khusyuk bersama Allah.
Shalat dilakukan cepat.
Doa dipersingkat.
Zikir ditunda.
Dan kita merasa itu biasa.
Padahal yang hilang bukan waktu.
Yang hilang adalah kedekatan.
—
Ketika Allah Hanya Menjadi Sisipan
Ada yang lebih menyedihkan.
Allah tidak benar-benar kita tinggalkan.
Tapi kita jadikan sisipan.
Kalau sempat, kita berzikir.
Kalau longgar, kita membaca Al-Qur’an.
Kalau tidak sibuk, kita merenung.
Seolah-olah Allah menunggu jadwal kita kosong.
Padahal Dia-lah yang memberi kita waktu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu dengannya: kesehatan dan waktu luang.”¹
Waktu luang bukan berarti tidak bekerja.
Tapi waktu yang bisa kita gunakan
untuk mendekat.
—
Hati yang Pelan-Pelan Jauh
Kesibukan yang terus-menerus
tanpa jeda ruhani
akan membuat hati kering.
Kita mungkin tetap sukses.
Tetap produktif.
Tetap dihormati.
Tapi ada kekosongan yang sulit dijelaskan.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menjelaskan bahwa hati hanya akan tenang dengan mengingat Allah, bukan dengan banyaknya aktivitas dunia.²
Dan kekosongan itu
adalah tanda bahwa hati rindu.
—
Kembali Menata Prioritas
Tidak salah bekerja keras.
Tidak salah mengejar mimpi.
Yang salah ketika semua itu
menggeser Allah dari pusat hidup kita.
Cobalah tanya pada diri:
Sudahkah shalatku lebih aku jaga daripada jadwalku?
Sudahkah aku lebih takut terlambat shalat daripada terlambat rapat?
Sudahkah aku menyediakan waktu khusus untuk Allah, bukan sisa waktu?
Karena mungkin masalah kita bukan kurang waktu.
Tapi salah prioritas.
—
Dari Sibuk ke Sadar
Dari mihrab maya ini,
mari kita hentikan sejenak langkah.
Tarik napas.
Diam.
Sebut nama-Nya perlahan.
“Allah…”
Ingatlah, semua yang kita kejar
akan kita tinggalkan.
Jabatan akan berganti.
Harta akan diwariskan.
Anak-anak akan melanjutkan hidupnya.
Tapi hubungan kita dengan Allah
itulah yang akan kita bawa.
—
Jangan Tunggu Sampai Kehilangan
Kadang Allah mengambil sesuatu
agar kita kembali.
Jangan tunggu kehilangan dulu baru sadar.
Jangan tunggu sakit dulu baru sujud panjang.
Jangan tunggu dunia runtuh dulu baru menangis.
Mulailah hari ini.
Sisihkan waktu terbaik,
bukan sisa waktu.
Katakan dalam doa:
“Ya Allah… jangan Engkau jadikan aku terlalu sibuk dengan dunia hingga lupa kepada-Mu.
Jadikan dunia di tanganku, bukan di hatiku.
Dan jangan Engkau cabut aku dalam keadaan lalai.”
Karena mungkin keselamatan kita
bukan pada seberapa sibuk kita membangun dunia…
tapi seberapa sering kita mengingat Allah di tengah kesibukan.
—
Catatan Kaki
1. Hadis riwayat al-Bukhari tentang dua nikmat: kesehatan dan waktu luang.
2. Ihya’ Ulum al-Din, pembahasan tentang dzikrullah dan ketenangan hati.
____