Serial Muhasabah dari Mihrab Maya
Episode 3: Riya’ yang Lebih Halus dari Jejak Semut
Oleh Ust Abdum Latif Khan
Ada dosa yang membuat kita menangis.
Tapi ada dosa lain…
yang membuat kita merasa sedang beribadah,
padahal kita sedang kehilangan segalanya.
Namanya riya’.
Ia tidak selalu datang saat kita bermaksiat.
Ia sering datang saat kita sedang shalat.
Saat kita berdakwah.
Saat kita menulis.
Saat kita berbagi kebaikan.
Ia tidak berteriak.
Ia berbisik.
—
Lebih Halus dari Jejak Semut
Rasulullah ﷺ mengingatkan tentang syirik kecil yang tersembunyi. Ketika para sahabat bertanya apa itu, beliau menjawab: riya’.¹
Ia lebih halus dari jejak semut di atas batu hitam di malam gelap.
Bayangkan…
Semutnya kecil.
Batunya hitam.
Malamnya gelap.
Begitulah riya’ bekerja.
Kita merasa tulus.
Kita merasa ikhlas.
Kita merasa hanya karena Allah.
Tapi ada satu sudut kecil di hati yang berkata:
“Semoga mereka tahu.”
“Semoga mereka kagum.”
“Semoga namaku disebut.”
Dan kita pun tersenyum… bukan karena Allah melihat,
tapi karena manusia melihat.
—
Mihrab Maya dan Panggung yang Tak Terlihat
Di era ini, riya’ menemukan rumah barunya.
Kita bisa memotret sedekah.
Merekam tangisan.
Menceritakan tahajud.
Menghitung amal dalam bentuk angka dan statistik.
Tidak semua itu salah.
Tapi hati kita…
apakah ia benar-benar bersih?
Kadang kita menulis dakwah,
tapi diam-diam memeriksa jumlah like.
Kadang kita berbagi ayat,
tapi hati gelisah jika tak ada yang memuji.
Dan saat pujian datang,
hati terasa hangat.
Hangat… bukan karena Allah ridha,
tapi karena manusia terkesan.
—
Amal yang Terhapus Tanpa Kita Sadar
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa pada hari kiamat ada orang yang membawa amal besar, tetapi Allah berkata: “Pergilah kepada orang yang dulu engkau ingin mereka melihat amalmu, dan lihatlah apakah engkau mendapat balasan dari mereka.”²
Betapa mengerikan.
Shalatnya banyak.
Sedekahnya besar.
Dakwahnya luas.
Tapi kosong di sisi Allah.
Karena yang ia cari bukan wajah Allah…
tapi wajah manusia.
—
Mengapa Riya’ Begitu Berbahaya?
Karena ia mencuri pahala tanpa mencuri gerakan.
Kita tetap rukuk.
Tetap sujud.
Tetap ceramah.
Tetap menulis.
Tapi ruhnya hilang.
Imam Al-Ghazali menjelaskan dalam Ihya’ Ulum al-Din bahwa riya’ adalah keinginan hati untuk mendapatkan kedudukan di hati manusia melalui ibadah.³
Ibadahnya benar.
Niatnya yang rusak.
Dan yang rusak itu tidak terlihat.
—
Ujian yang Paling Sulit bagi Aktivis
Bagi mereka yang berdakwah,
yang berbicara tentang Allah,
yang menulis tentang akhirat…
Riya’ adalah ujian yang paling halus.
Karena semakin banyak orang mendengar,
semakin besar godaan untuk merasa penting.
Semakin banyak pujian datang,
semakin sulit menjaga hati tetap kecil.
Padahal di hadapan Allah,
yang besar hanyalah ketakwaan.
—
Doa yang Perlu Kita Ulang Setiap Hari
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:
> _“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang aku ketahui, dan aku memohon ampun atas apa yang tidak aku ketahui.”_⁴
Karena kita bisa terjatuh dalam riya’
tanpa sadar.
Maka dari mihrab maya ini,
mari kita bertanya pada diri sendiri:
Kalau tidak ada yang melihat,
apakah aku tetap akan melakukan ini?
Kalau tidak ada yang memuji,
apakah aku tetap akan istiqamah?
Kalau jawabannya tidak…
maka ada sesuatu yang perlu kita bersihkan.
—
Kembalilah ke Sunyi
Ada saatnya amal harus disembunyikan.
Ada saatnya ibadah harus sunyi.
Ada saatnya kita perlu melakukan kebaikan
yang tidak pernah diketahui siapa pun.
Bukan untuk terlihat rendah hati.
Tapi untuk menyelamatkan hati.
Karena pada akhirnya,
yang kita cari bukan tepuk tangan manusia.
Yang kita cari adalah satu kalimat dari Allah:
> “Aku ridha kepadamu.”
Dan ridha itu…
tidak pernah diukur dengan jumlah pengikut.
—
Catatan Kaki