Serial Muhasabah dari Mihrab Maya
Oleh Ust Abdul Latif Khan
Ada fase yang sangat sunyi dalam perjalanan ruhani.
Bukan saat kita jauh dari Allah.
Bukan saat kita tenggelam dalam dosa.
Tapi saat kita ingin berubah…
dan tiba-tiba muncul rasa takut.
Takut tidak istiqamah.
Takut kembali jatuh.
Takut gagal lagi.
Hati berkata,
“Aku ingin lebih baik.”
Tapi pikiran membalas,
“Bagaimana kalau kamu tidak kuat?”
—
Luka karena Pernah Gagal
Sebagian dari kita pernah mencoba berubah.
Pernah bangun tahajud beberapa malam.
Pernah berhenti dari dosa tertentu.
Pernah bertekad sungguh-sungguh.
Lalu jatuh lagi.
Dan jatuh itu menyisakan luka.
Kita mulai ragu pada diri sendiri.
Mulai takut berjanji lagi.
Mulai berpikir,
“Mungkin aku memang begini.”
Padahal Allah berfirman:
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
(QS. Al-‘Ankabut: 69)
Bukan yang tidak pernah jatuh.
Tapi yang bersungguh-sungguh.
—
Istiqamah Bukan Berarti Tidak Pernah Jatuh
Kita sering salah paham tentang konsistensi.
Kita mengira istiqamah berarti sempurna.
Padahal istiqamah berarti terus kembali.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus walaupun sedikit.”¹
Bukan yang besar lalu berhenti.
Bukan yang semangat lalu padam.
Sedikit.
Tapi terus.
Mungkin bukan tahajud delapan rakaat setiap malam.
Tapi dua rakaat yang tak pernah kita tinggalkan.
Mungkin bukan sedekah besar.
Tapi receh yang rutin.
—
Mihrab Maya dan Mental Instan
Di era ini, kita terbiasa dengan hasil cepat.
Viral dalam semalam.
Perubahan drastis dalam hitungan hari.
Resolusi besar di awal bulan.
Lalu ketika semangat menurun,
kita merasa gagal.
Padahal perubahan ruhani tidak viral.
Ia sunyi.
Perlahan.
Kadang tak terlihat orang lain.
Dan justru karena itu… ia berharga.
—
Jangan Takut Jatuh, Takutlah Tidak Bangkit
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menjelaskan bahwa perjalanan menuju Allah adalah proses mujahadah — perjuangan melawan diri sendiri.²
Perjuangan selalu ada jatuhnya.
Yang berbahaya bukan jatuh.
Tapi berhenti berjuang.
Kalau hari ini kita jatuh lagi,
bangkit lagi.
Kalau semalam lalai,
malam ini kembali.
Kalau minggu lalu gagal,
minggu ini coba lagi.
Karena Allah tidak menilai kesempurnaan kita.
Allah menilai kesungguhan kita.
—
Mulai dari yang Kecil dan Realistis
Kalau ingin berubah,
jangan langsung terlalu besar.
Mulai dari satu kebiasaan kecil.
Satu halaman Al-Qur’an setiap hari.
Satu istighfar setelah shalat.
Satu sedekah setiap pekan.
Biarkan kecil,
asal konsisten.
Karena mungkin keselamatan kita
bukan pada perubahan dramatis…
tapi pada langkah kecil yang tidak pernah berhenti.
—
Dari Takut Gagal ke Berani Berserah
Kalau kita takut tidak konsisten,
itu tanda kita peduli.
Tapi jangan biarkan takut itu menghentikan langkah.
Katakan dalam sujud:
“Ya Allah… aku ingin berubah.
Aku tahu aku lemah.
Aku tahu aku bisa jatuh lagi.
Tapi jangan Engkau biarkan aku berhenti kembali kepada-Mu.”
Karena istiqamah bukan tentang kekuatan diri.
Ia tentang ketergantungan kepada Allah.
Dan mungkin yang Allah lihat
bukan seberapa cepat kita berubah…
tapi seberapa sering kita kembali.
—
Catatan Kaki
1. Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim tentang amal yang paling dicintai Allah.
2. Ihya’ Ulum al-Din, pembahasan tentang mujahadah dan istiqamah.
__