Eka Putra Zakran Tekankan Empat Sifat Nabi dalam Pengajian PCM Pahlawan Perjuangan Medan

Medan102 Dilihat

MEDAN — Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Medan, Eka Putra Zakran, S.H., M.H., CDr., menekankan pentingnya meneladani empat sifat utama Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan kepemimpinan, yakni siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Keempat sifat tersebut menjadi landasan penting bagi setiap pemimpin dalam menjalankan tanggung jawab, baik di lingkungan keluarga, organisasi, masyarakat, maupun pemerintahan.

Hal itu disampaikan Eka Putra Zakran yang akrab disapa UDA saat menjadi penceramah dalam pengajian rutin bulanan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Pahlawan Perjuangan, Ahad (11/10/2026).

Pengajian yang mengangkat tema “Kepemimpinan Menurut Al-Qur’an dan Al-Hadits” tersebut digelar di Masjid Taqwa Muhammadiyah Ranting Sei Kera, Jalan Perjuangan, Gang Delima, Medan.

Kegiatan pengajian gabungan se-Cabang Pahlawan Perjuangan yang dilaksanakan satu kali setiap bulan ini dihadiri sekitar 70 jamaah. Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua PCM Pahlawan Perjuangan beserta jajaran pimpinan, pengurus Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA), Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM), jajaran Majelis Guru, serta Korps Musyawarah Ortom Tapak Suci se-Cabang Pahlawan Perjuangan.

BACA JUGA :  AdNI Desak Presiden Prabowo Copot Dirut PLN, Soroti Blackout Sumatera dan Tata Kelola Kelistrikan

Empat Sifat Nabi sebagai Landasan Kepemimpinan

Dalam ceramahnya, Eka Putra Zakran menjelaskan bahwa kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar kedudukan atau instrumen kekuasaan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan, termasuk di hadapan Allah SWT.

Ia menguraikan empat sifat utama Rasulullah SAW yang patut menjadi teladan bagi setiap pemimpin.

Pertama, siddiq, yakni bersikap jujur dan benar dalam perkataan maupun tindakan. Kedua, amanah, yaitu dapat dipercaya dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugas. Ketiga, tabligh, yakni menyampaikan kebenaran dan informasi secara terbuka. Keempat, fathanah, yaitu memiliki kecerdasan, kebijaksanaan, serta kemampuan mengambil keputusan secara tepat.

Menurut UDA, keempat sifat tersebut harus tercermin dalam perilaku dan kebijakan seorang pemimpin agar kepemimpinannya membawa manfaat bagi orang-orang yang dipimpinnya.

“Setiap kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT, sebagaimana ditegaskan dalam hadis riwayat Bukhari. Kepemimpinan itu berlaku bertingkat, mulai dari skala keluarga, organisasi, masyarakat, hingga pemerintahan,” paparnya di hadapan para jamaah.

BACA JUGA :  Wali Kota Rico Waas Dinilai Tak Pantas Pimpin Kota Medan, Ada Apa?

Pemimpin Harus Adil dan Berjiwa Melayani

Lebih lanjut, Eka Putra Zakran menegaskan bahwa prinsip keadilan dan pelayanan harus menjadi bagian penting dalam kepemimpinan Islam.

Seorang pemimpin dituntut bersikap objektif, tidak tebang pilih, serta bersedia mendengarkan masukan dari berbagai pihak. Dalam mengambil keputusan, tradisi musyawarah atau syura perlu dikedepankan agar kebijakan yang dihasilkan mempertimbangkan kepentingan bersama.

Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan antara kompetensi dan integritas dalam memilih maupun menjalankan kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kemampuan, tetapi juga harus mempunyai karakter yang baik dan dapat dipercaya.

“Pemimpin itu hadir bukan untuk dilayani atau mencari kebanggaan jabatan, melainkan untuk melayani dan menghadirkan kemaslahatan nyata bagi umat. Setiap kebijakan maupun program kerja yang dilahirkan harus membawa manfaat, ketenteraman, dan nilai kebaikan bersama,” tegasnya.

BACA JUGA :  Gebrakan di Bulan Suci Ramadan, Rico Waas Lantik 213 Pejabat, Tekankan Mental Tancap Gas

Menurutnya, orientasi pelayanan tersebut penting diterapkan di setiap tingkatan kepemimpinan, termasuk dalam organisasi kemasyarakatan dan keagamaan. Dengan demikian, jabatan dapat dijalankan sebagai sarana pengabdian, bukan sekadar simbol kedudukan.

Perkuat Silaturahmi dan Pengamalan Nilai Islam

Pengajian rutin bulanan PCM Pahlawan Perjuangan ini menjadi salah satu sarana memperdalam pemahaman keislaman sekaligus memperkuat ukhuwah di antara warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.

Melalui kajian tentang kepemimpinan menurut Al-Qur’an dan Al-Hadits, para jamaah diharapkan dapat mengimplementasikan nilai kejujuran, amanah, keterbukaan, kecerdasan, keadilan, dan semangat melayani dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan tersebut ditutup dengan ramah tamah antarjamaah. Selain mempererat tali silaturahmi, pengajian tersebut diharapkan dapat memperkuat komitmen Muhammadiyah dalam membangun pribadi Muslim yang berakhlak mulia dan berkemajuan. (r/isl)