JAKARTA – Mantan Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Wamendes PDTT) periode 2023-2024 Paiman Raharjo menyangkal terlibat dalam pembuatan ijazah Mantan Presiden Joko Widodo ( Jokowi ) yang saat ini menjadi sorotan. Bahkan, Paiman berani bersumpah tidak pernah membuat ijazah ayah dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tersebut.
“Jadi gini, saya Demi Allah sumpah mati, enggak pernah bikin ijazah Jokowi, karena apa? Saya hidup selalu jujur, saya itu orang kecil, dari SMP kemudian berjuang, kalau saya enggak hidup bener, enggak mungkin saya dapat keberkahan sampai sekarang,” kata Paiman melalui sambungan telepon dalam acara Rakyat Bersuara bertajuk ‘Ijazah & Tudingan Mengkriminalkan Jokowi, Eksklusif Kesaksian Eks Tim Jokowi-Solo’ di iNews, Selasa (1/7/2025).
Ia mengaku terpaksa buka suara di momen tersebut. Menurutnya, saat ini, kasus tersebut sudah merugikan dirinya hingga keluarganya. Bahkan, kata dia, anaknya pun sudah tidak mau sekolah.
“Saya terpaksa ikut bicara ya karena ini sangat merugikan saya, keluarga saya, anak saya pun sudah tidak mau sekolah,” ujar dia.
Ia pun meminta adanya pembuktian terhadap yang dituduhkan kepadanya. “Sekarang buktikan saja kalau memang saya dituduh, siapa yang bilang, terus kemudian ijazah bentuk yang dipalsukan seperti apa dan siapa yang mengatakan saya di Matraman itu sampai 2017, saya itu sampai 2022,” ungkapnya.
Ia pun menegaskan dirinya tidak pernah terlibat dalam pembuatan ijazah Jokowi. Ia pun meminta, apabila ada pihak-pihak yang membenci Jokowi untuk tidak melibatkan orang lain.
“Jadi tolong, janganlah, kalau memang benci Jokowi, jangan melibatkan yang lain. Kalau saya bener ya, Demi Allah mati kalau saya melakukan hal-hal seperti dituduhkan,” jelas dia.
Diketahui, Politikus Senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Beathor Suryadi mengungkap orang di balik pembuatan semua dokumen pencalonan Jokowi di Pilkada Jakarta 2012 di Pasar Pramuka Pojok, Jakarta Pusat. Beathor menceritakan bahwa semua dokumen persyaratan maju Pilkada Jakarta 2012 diatur oleh Deni Iskandar.
Dokumen itu kemudian dibawa oleh Widodo ke Pasar Pramuka untuk dibuat di kios milik Paiman. Menurutnya, Paiman bukan orang sembarangan karena merupakan mantan rektor perguruan tinggi swasta di Jakarta.
“Dulu PDI bisa menang 33,3 persen itu pakai akar bahar, pakai tato, jagoan semua. Yang sekarang sudah Doktor-doktor suaranya ngecil, enggak sebanyak orang itu, tapi orang itu enggak punya ijazah, bikinnya di situ,” kata Beathor dalam Podcast To the Point Aja yang tayang di YouTube SindoNews, Kamis (26/6/2025).
Dia mengaku ikut rombongan Tim Pembela Ulama dan Aktivis atau TPUA mendatangi Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Selasa, 15 April 2025 dan kediaman Jokowi di Solo pada Rabu, 16 April 2025. “Roy Suryo dan Rismon Sianipar yakin itu bukan dari UGM,” tuturnya.
“Terus, saya bertanya, kalau bukan dari UGM, berarti ada suatu tempat, di mana ini, saya bertanya dalam diri saya,” sambungnya.
Setelah pulang dari Solo, dia membagikan berita-berita terkait ijazah Jokowi termasuk ke kader-kader PDIP. “Apa yang saya share itu berbalik kan, ada dari kader, ‘Bang Aku tahu itu bang’,” ucapnya menirukan kader kepadanya. Setelah itu, Beathor mengaku melacak.
“Ada pertemuan di Cikini itu, terus dipertajam untuk membuat dokumen. Nah dokumen itu langsung dibawalah sama Widodo ke Pasar Pramuka, nah di situlah kemudian dia ketemu sama Paiman,” ungkapnya.
“Tapi sebelumnya itu dilakukan oleh Deni, karena Deni ini yang paham persyaratan KPU Jakarta, harus ada surat ini, semuanya dirapihkan, dibikin legalisir itu sendiri,” tambahnya.
Dia mengatakan, warga Jakarta pasti paham mengenai kawasan Pramuka. “Jadi, anak-anak drop out (putus sekolah, red), bawa punya temannya, contohin, bikin, ditulis lulus juga,” katanya.
“Kan dari Cikini itu kan ada anak-anak Jakarta, ‘ini semua yang ngatur Deni Bang’. Yang bawa ke Pramuka, Widodo. Widodo kau cetaknya di mana, itu ada 50 kios, pasti dia jawab ya Paiman, selesai kan,” sambungnya.
Kemudian, Beathor mengungkapkan sosok Paiman tersebut. “Dia mulai dari nol di situ, jadi tukang sapu, jadi tukang apa, terus dia menjadi rektor Moestopo, dia Profesor Doktor, sekarang menjadi profesornya di internasional, orang hebat ini,” kata Beathor.
Namun, kata Beathor, Paiman memperoleh gelar Doktor dari Universitas Padjajaran (Unpad).
“Nanti kita cek di Unpad, tapi yang lain-lainnya itu dia cetak sendiri juga bisa kan, orang dia bisa bikinin orang lain,” ujarnya.
Beathor mengaku ikut dalam kelompok relawan Bravo 5. “Saya orang kepercayaannya Luhut Binsar Pandjaitan, saya ikut di tim Bravo 5, ketuanya Jenderal (Purn) Fachrul Razi,” ujarnya.(sin/bc)