Proses Belajar di Wilayah Pascabencana Belum Sepenuhnya Ideal

Nasional, News47 Dilihat

BANDA ACEH — Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera mengakui proses pendidikan di daerah terdampak bencana belum berjalan secara maksimal, meskipun kegiatan belajar mengajar di sebagian besar sekolah sudah kembali berlangsung.

Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Tito Karnavian, mengatakan secara umum aktivitas belajar sudah berjalan hampir di seluruh sekolah terdampak. Namun, kondisi di lapangan masih belum sepenuhnya ideal karena banyak fasilitas pendidikan yang mengalami kerusakan akibat bencana.

“Proses belajar mengajar hampir 100 persen sudah berjalan. Tapi memang belum maksimal dan belum ideal, karena cukup banyak lembaga pendidikan yang terdampak,” ujar Tito saat berada di Pidie Jaya, Aceh, Jumat (6/3/2026).

BACA JUGA :  Jumat Barokah, Komunitas SATU HATI Bagikan Sembako, Nasi Bungkus & Sosialisasi Eco Enzyme

Pernyataan tersebut disampaikan usai penyerahan bantuan stimulan perorangan kepada masyarakat yang terdampak bencana di wilayah tersebut.

Tito menjelaskan, sejumlah lembaga pendidikan mengalami kerusakan, mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD), sekolah dasar, sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah menengah atas (SMA). Selain itu, sejumlah madrasah dan pondok pesantren juga ikut terdampak.

Pemerintah saat ini terus melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah serta tim khusus dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk mendata kondisi bangunan sekolah yang rusak. Data tersebut kemudian diklasifikasikan berdasarkan tingkat kerusakan, mulai dari ringan, sedang, hingga berat atau bahkan hilang.

BACA JUGA :  Terungkap‼️ Plt Kadiskop UKM Perindag Kota Medan Dituding Pemrakarsa Surat Edaran Berujung Kegaduhan

Perbaikan fasilitas pendidikan akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan skala prioritas. Meski demikian, Tito menegaskan bahwa yang terpenting saat ini adalah memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan.

Sekolah yang mengalami kerusakan ringan hingga sedang sudah mulai diperbaiki sambil tetap melaksanakan kegiatan belajar. Sementara itu, bagi sekolah yang mengalami kerusakan berat, kegiatan belajar sementara dilakukan di tenda yang telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang.

“Yang rusaknya ringan dan sedang diperbaiki sambil kegiatan belajar berjalan. Sedangkan yang rusak berat, ada yang masih belajar di tenda dengan peralatan yang sudah disiapkan,” jelasnya.

BACA JUGA :  Honda HR-V Tabrak Truk di Tol Medan-Tebingtinggi, 2 Tewas Terjepit

Berdasarkan data sementara, terdapat sekitar 3.700 sekolah yang mengalami kerusakan di tiga provinsi yang terdampak bencana di Sumatera. Proses perbaikan seluruh fasilitas tersebut membutuhkan waktu karena jumlahnya cukup besar.

Untuk madrasah dan pondok pesantren, pendataan dilakukan oleh Kementerian Agama yang juga telah membentuk tim khusus. Sementara proses pembangunan dan perbaikan sebagian besar akan ditangani oleh Kementerian Pekerjaan Umum, dengan sebagian pekerjaan dilakukan melalui pihak ketiga yang dikontrak oleh kementerian terkait. (r/isl)