Disdik Sumut: Sekolah Lima Hari Efektif Tekan Keterlibatan Pelajar dalam Geng Motor

Pendidikan, Sumut58 Dilihat

MEDAN — Dinas Pendidikan Sumatera Utara (Disdik Sumut) menilai penerapan program lima hari sekolah masih berjalan efektif dalam menekan keterlibatan pelajar dalam aksi geng motor dan konvoi jalanan.

Kepala Disdik Sumut, Alexander Sinulingga, mengatakan kebijakan tersebut memberikan ruang bagi sekolah untuk melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap aktivitas siswa, sekaligus mempersempit peluang pelajar terlibat dalam kegiatan negatif di luar sekolah.

“Masih berjalan dan cukup efektif untuk menekan angka keterlibatan siswa di geng motor, karena bisa kita evaluasi selama setahun ini. Kemarin baru ada lagi konvoi-konvoi,” ujar Alexander, Sabtu (22/8/2026).

Menurutnya, upaya pencegahan tidak hanya dilakukan melalui kebijakan lima hari sekolah, tetapi juga dengan turun langsung ke sekolah-sekolah yang dinilai memiliki potensi kerawanan.

BACA JUGA :  Tangis Guru Pecah di Polda Sumut, Minta Keadilan atas Tewasnya Putra Kelas XII SMA yang Tertembak

Salah satunya dilakukan di SMA Negeri 3 Medan. Dari hasil peninjauan dan pembinaan, terdapat sekitar 23 siswa yang sebelumnya terindikasi terlibat dalam kelompok geng motor.

Alexander menyebut pendekatan persuasif yang dilakukan pihak sekolah bersama pemangku kepentingan akhirnya membuahkan hasil. Puluhan siswa tersebut memilih meninggalkan kelompok geng motor atas kesadaran sendiri.

“Kemarin salah satunya kita sudah ke SMAN 3 Medan. Ada lebih kurang 23 siswa yang tadinya terindikasi, dan alhamdulillah sudah menyatakan keluar dengan kesadaran sendiri,” tuturnya.

Alexander menegaskan, persoalan kenakalan remaja tidak dapat diselesaikan hanya oleh sekolah. Peran orang tua dinilai sangat penting dalam mendeteksi perubahan perilaku anak sekaligus memberikan pemahaman mengenai dampak negatif pergaulan yang berisiko.

BACA JUGA :  Disdik -Komedik Sumut Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama

Karena itu, Disdik Sumut mendorong penguatan kolaborasi antara sekolah dan keluarga. Deteksi dini terhadap siswa yang mulai terpengaruh lingkungan negatif harus dilakukan bersama agar pembinaan dapat diberikan sebelum persoalan berkembang lebih jauh.

“Tentunya kolaborasi yang baik antara pihak sekolah dan orang tua. Pihak sekolah melakukan deteksi dengan melibatkan orang tua, agar anak-anak kita ini bisa diberi pengarahan,” kata Alexander.

Ia menilai sebagian pelajar yang masuk ke lingkungan geng motor belum sepenuhnya memahami konsekuensi dari aktivitas yang mereka ikuti. Pada awalnya, mereka bisa saja hanya terbawa ajakan teman atau rasa ingin tahu.

BACA JUGA :  Rombongan Geng Motor Bawa Senjata Tajam Dikejar Polisi di Jalan Iskandar Muda, Empat Diamankan

Namun, setelah mendapatkan pembinaan dan memahami aktivitas kelompok tersebut, sejumlah siswa mulai menyadari bahwa pilihan mereka tidak tepat.

“Sebenarnya anak-anak ini belum paham kenapa mereka diajak ke sana, tapi setelah masuk, ini mereka mulai sadar bahwasanya yang mereka ikuti itu salah atau tidak benar. Sehingga yang 23 siswa tadi memutuskan untuk keluar,” katanya.

Disdik Sumut berharap pola pembinaan dan pendekatan seperti ini dapat terus diperkuat di sekolah-sekolah lain. Selain menjaga lingkungan pendidikan tetap aman, langkah tersebut diharapkan mampu mencegah pelajar terjerumus lebih jauh dalam aksi geng motor maupun bentuk kenakalan remaja lainnya. (r/isl)