Viral

Terungkap Lewat Penggerebekan, Ayah Ini Akui Pilih Daycare Little Aresha karena Murah dan Review Bagus

YOGYAKARTA — Kasus dugaan kekerasan terhadap anak di daycare Little Aresha, kawasan Umbulharjo, Yogyakarta, mulai terungkap setelah aparat kepolisian melakukan penggerebekan pada Jumat (24/4/2026).

Penggerebekan tersebut dilakukan menyusul laporan dugaan penganiayaan terhadap anak-anak yang dititipkan di tempat tersebut. Dari hasil penyelidikan awal, polisi menemukan indikasi perlakuan tidak manusiawi terhadap puluhan anak.

Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Rizki Adrian, mengungkapkan bahwa dari total 103 anak yang dititipkan, sebanyak 53 anak diduga menjadi korban kekerasan.

“Dari 103 anak, sekitar 53 yang kami temukan ada dugaan tindakan kekerasan,” ujarnya, Sabtu (25/4/2026).

Korban berasal dari berbagai rentang usia, bahkan ada yang masih berusia 0 hingga 3 bulan. Dugaan kekerasan ini disebut telah berlangsung lebih dari satu tahun, mengikuti masa kerja para pengasuh.

Dalam penggerebekan tersebut, polisi juga mengamankan 30 orang, terdiri dari 25 pengasuh serta lima pihak manajemen, termasuk ketua yayasan. Mereka kini masih menjalani pemeriksaan intensif oleh penyidik Unit PPA.

“Kami menemukan adanya perlakuan tidak manusiawi, mulai dari diskriminasi hingga kekerasan. Ada anak yang diikat tangan dan kakinya, bahkan mengalami luka,” jelasnya.

Di tengah mencuatnya kasus ini, seorang ayah bernama Aldewa mengungkapkan alasannya memilih daycare tersebut untuk anaknya. Ia mengaku tertarik karena biaya yang relatif murah serta ulasan positif di Google Maps.

Anaknya yang kini berusia tiga tahun telah dititipkan sejak sekitar 1,5 tahun lalu, dengan biaya penitipan sebesar Rp1 juta per bulan.

“Tergiur karena review di Google Maps bagus dan biayanya murah. Rp1 juta per bulan itu terbilang terjangkau untuk ukuran UMK Yogyakarta,” kata Aldewa kepada Tribunnews.

Selain itu, sikap ramah dari pihak pengelola dan pengasuh saat awal pendaftaran turut membuatnya semakin yakin.

“Ketua yayasan dan para pengasuh menyambut dengan sopan, halus, dan lemah lembut,” tuturnya.

Selama anaknya dititipkan, Aldewa rutin menerima laporan kegiatan harian yang menunjukkan kondisi anak baik-baik saja, termasuk makan yang selalu dihabiskan.

Namun, ia mulai merasa janggal karena berat badan anaknya tidak mengalami peningkatan dalam tiga bulan terakhir.

“Katanya selalu habis, tapi berat badan anak saya tidak bertambah. Awalnya saya pikir biasa, ternyata mungkin laporannya tidak akurat,” ujarnya.

Kecurigaan itu semakin menguat ketika ia menemukan lebam di paha kiri anaknya sekitar sepekan sebelum penggerebekan.

“Saya kira jatuh karena tidak ada laporan dari daycare. Jadi belum bisa memastikan apakah ada penganiayaan,” katanya.

Ia juga mengingat bahwa anaknya kerap menangis dan menolak saat hendak dititipkan.

“Setiap mau berangkat selalu menangis ketakutan, bahkan bilang tidak mau sekolah. Saya kira karena tidak mau jauh dari orang tua,” pungkasnya. (r/isl)