Ketua DPW Gelora Aceh: Tsunami Aceh II di Tamiang

Nasional, News, Politik143 Dilihat

TANJUNG KARANG– Ketua DPW Partai Gelora Indonesia Aceh, Dicky Saputra, mengunjungi langsung Pesantren Darul Mukhlisin di Kampung Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang.

Bagi Dicky, bencana yang menimpa Aceh pada 26 November 2025 ini merupakan Tsunami Aceh Jilid II, setelah peristiwa dahsyat Tsunami Aceh Jilid I pada 26 Desember 2004.

Jika pada 2004 gelombang tsunami hanya melanda pesisir barat dan utara Aceh—seperti Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Pidie, Bireuen, Meulaboh, dan Lhokseumawe—maka kali ini dampaknya jauh lebih luas.

BACA JUGA :  Alumni Akpol 1999 Ukir Sejarah, Dedy Murti Haryadi Resmi Jadi Jenderal Bintang Dua

Sebanyak 16 dari 23 kabupaten/kota terdampak, mulai dari Pidie, Aceh Besar, Pidie Jaya, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Subulussalam, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Timur, Langsa, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Singkil, Aceh Utara, hingga Aceh Selatan.

“Berbeda dengan tsunami pertama yang berasal dari laut, Tsunami Aceh Jilid II muncul dari pegunungan. Hilangnya hutan sebagai penyangga tanah dan air, ditambah curah hujan ekstrem serta terpaan Siklon Tropis Senyar, memicu banjir bandang yang meluluhlantakkan wilayah Aceh, ” ujarnya pada wartawan, Selasa (23/12/2025)

BACA JUGA :  Reses di Medan Area dan Kota, Wakil Ketua DPRD Medan Ihwan Ritonga Apresiasi dan Bangga Kepada Wanita "Hebat, Tangguh dan Kuat"

Aceh Tamiang: Episentrum Kehancuran

Di antara daerah terdampak, Aceh Tamiang menjadi wilayah yang paling parah. Hampir seluruh kabupaten ini terendam air dengan ketinggian mencapai 3 hingga 7 meter.

“Kota Kuala Simpang luluh lantak, kampung-kampung hilang ditelan arus, dan pedalaman pun tak luput dari bencana,” jelasnya.

Benteng Langit

Di tengah kehancuran itu, Pesantren Darul Mukhlisin di Kampung Tanjung Karang menjadi saksi bisu sekaligus Benteng Langit bagi masyarakat sekitar.

BACA JUGA :  Polemik Nasab, Ini Kata Ketua PB Mathla’ul Anwar Kiai Embay Mulya Syarief

“Seandainya pesantren tersebut tidak berdiri kokoh, kerusakan yang terjadi diyakini akan jauh lebih dahsyat,” pungkasnya. (r/isl)