JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menerima Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia di Jakarta, Kamis (29/10/2026). Pertemuan tersebut membahas percepatan program listrik desa serta perkembangan pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik hasil kerja sama CATL dan Antam.
Dalam keterangannya kepada awak media seusai pertemuan, Bahlil mengungkapkan bahwa hampir 11 ribu desa dan dusun di Indonesia masih belum memiliki akses listrik. Untuk memperluas jangkauan elektrifikasi, pemerintah bersiap meresmikan 1.413 titik program listrik desa tahun 2025 dalam waktu dekat.
“Jadi ada sekitar 1.413 titik yang akan diresmikan dalam waktu dekat ini,” ujar Bahlil.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas akses energi hingga ke wilayah yang belum terjangkau layanan kelistrikan. Ketersediaan listrik diharapkan dapat mendukung aktivitas masyarakat sekaligus mendorong pemerataan pembangunan di berbagai daerah.
Selain membahas elektrifikasi desa, Bahlil juga melaporkan perkembangan pabrik baterai kendaraan listrik hasil kerja sama CATL dan Antam. Fasilitas yang peletakan batu pertamanya dilakukan Presiden Prabowo sekitar setahun lalu itu disebut telah mulai berproduksi.
“Dalam waktu dekat akan diresmikan karena pabriknya sudah mulai produksi,” kata Bahlil.
Menurut Bahlil, fasilitas tersebut menambah kapasitas industri baterai kendaraan listrik di Indonesia. Ia menyebut sejumlah fasilitas yang menjadi bagian dari pengembangan industri tersebut, termasuk pabrik Hyundai, fasilitas di Halmahera dengan investasi dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT), serta pabrik hasil kerja sama CATL dan Antam.
Perkembangan ini dinilai memperkuat upaya Indonesia membangun ekosistem baterai kendaraan listrik yang terintegrasi. Rantai industrinya mencakup kegiatan pertambangan, pengolahan mineral, hingga produksi sel baterai.
Integrasi tersebut menjadi salah satu fokus kebijakan hilirisasi pemerintah, yakni mendorong agar sumber daya alam tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi juga diolah menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi di dalam negeri.
Bahlil menilai kemampuan mengintegrasikan berbagai tahapan produksi baterai menjadi salah satu modal penting bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya dalam industri kendaraan listrik global.
“Mungkin tidak banyak negara yang memiliki ini. Nah, ini bagian daripada ikhtiar untuk melakukan hilirisasi,” tutur Bahlil.
Melalui pengembangan infrastruktur kelistrikan dan industri baterai, pemerintah mendorong dua agenda strategis sekaligus, yakni pemerataan akses energi bagi masyarakat serta penguatan industri nasional berbasis sumber daya alam. (r/isl)
