BINJAI – Menjelang peringatan Hari Pahlawan Nasional, sejumlah tokoh masyarakat dan anak negeri Langkat menggelar musyawarah kecil di Binjai, Sabtu (7/11/2026). Pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban tersebut membahas upaya menggali kembali sejarah perjuangan tokoh-tokoh daerah yang kisah heroismenya mulai terlupakan, baik dalam ingatan masyarakat Langkat maupun catatan sejarah nasional.
Dalam diskusi tersebut, terungkap kisah perlawanan gigih anak negeri di wilayah adat Stabat dan Bohorok terhadap kekuatan kolonial Belanda. Perlawanan itu menjadi bagian dari sejarah perjuangan masyarakat Langkat dalam mempertahankan tanah kelahiran, kedaulatan, dan marwah negeri dari kekuasaan penjajah.
Dua tokoh yang menjadi sorotan dalam pembahasan tersebut adalah Tan Matsyech, Raja Stabat, dan Tan Deraman yang bergelar Raja Gunung, Raja Bohorok. Keduanya disebut sebagai sosok yang memimpin perlawanan masyarakat setempat terhadap upaya kolonial Belanda menguasai wilayah Langkat.
Kisah perjuangan kedua tokoh tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa sejarah masyarakat Melayu Langkat tidak dapat disederhanakan melalui satu sudut pandang, termasuk anggapan yang menggeneralisasi kaum Melayu sebagai kelompok feodal.
Di balik dinamika sosial dan kekuasaan pada masa itu, terdapat tokoh-tokoh yang memilih berdiri melawan kolonialisme serta mempertaruhkan jiwa dan raga demi mempertahankan kehormatan tanah leluhur.
“Klaim sepenuhnya tentang Melayu feodal di Langkat itu tak sejatinya benar. Masih ada pahlawan-pahlawan yang hari ini mungkin kisahnya terlupakan,” ujar Tengku Zizi.
Ia mengingatkan pentingnya menghidupkan kembali semangat Jas Merah atau Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah, sebagaimana pesan yang selama ini menjadi pengingat bangsa Indonesia untuk tidak melupakan perjalanan masa lalu.
Menurutnya, penggalian sejarah perjuangan tokoh-tokoh lokal seperti Tan Matsyech dan Tan Deraman penting dilakukan agar generasi sekarang mengenal lebih dekat sosok-sosok yang pernah berjuang mempertahankan Langkat dari penjajahan.
Selain menjadi upaya meluruskan ingatan sejarah, pengenalan kembali perjuangan para tokoh tersebut diharapkan dapat memperkuat identitas masyarakat Langkat, menumbuhkan rasa kebanggaan terhadap sejarah daerah, serta membangun nasionalisme yang kokoh di tengah tantangan zaman.
Semangat perjuangan para pahlawan daerah, lanjutnya, tidak seharusnya berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi perlu diwariskan sebagai nilai keberanian, persatuan, dan kecintaan terhadap tanah air. (r/isl)
