Bisnis

Kenaikan BBM Non-Subsidi Dinilai Tak Picu Peralihan ke BBM Subsidi

JAKARTA– Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex dinilai tidak akan mendorong peralihan signifikan ke BBM subsidi. Hal ini disampaikan pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi.

Menurut Fahmy, potensi perpindahan konsumsi relatif kecil karena karakteristik pengguna BBM non-subsidi berbeda dengan pengguna BBM subsidi. Umumnya, konsumen BBM non-subsidi berasal dari kalangan menengah ke atas dengan kendaraan yang membutuhkan bahan bakar beroktan tinggi, sehingga tidak mudah beralih ke BBM dengan kualitas lebih rendah.

Selain itu, tidak adanya kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green juga menjadi faktor yang menahan pergeseran konsumsi. Jika pun terjadi perubahan, sebagian pengguna diperkirakan hanya akan beralih ke Pertamax, bukan ke BBM subsidi.

Fahmy menilai, kebijakan penyesuaian harga BBM non-subsidi sudah tepat karena mengikuti mekanisme pasar dan pergerakan harga minyak dunia. Ia juga menyebutkan bahwa sejumlah negara lain telah lebih dulu menaikkan harga BBM sejak Maret 2026, sehingga langkah Indonesia tergolong sejalan dengan tren global.

Dari sisi dampak, kenaikan ini dinilai tidak terlalu membebani masyarakat luas karena konsumsi BBM non-subsidi relatif kecil dan tidak digunakan secara dominan dalam sektor distribusi kebutuhan pokok.

Pandangan tersebut turut diperkuat anggota Komisi VI DPR, Gde Sumarjaya Linggih. Ia mengapresiasi kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang tetap menahan harga BBM subsidi. Menurutnya, langkah ini penting untuk menjaga stabilitas ekonomi, menekan inflasi, serta melindungi daya beli masyarakat.

Ia juga menilai, stabilitas harga energi memberikan kepastian bagi pelaku usaha dalam menyusun strategi bisnis, sekaligus menjaga efisiensi biaya produksi dan logistik. Kebijakan tersebut dinilai turut mendukung keberlangsungan UMKM dan menjaga konsumsi domestik tetap kuat.

Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa harga BBM non-subsidi memang mengikuti mekanisme pasar sesuai regulasi. BBM dengan oktan tinggi seperti RON 98 serta solar dengan cetane number tinggi diperuntukkan bagi kalangan tertentu dan sektor industri.

Sebelumnya, per 18 April 2026, Pertamina resmi menaikkan harga sejumlah BBM non-subsidi. Pertamax Turbo kini menjadi Rp19.400 per liter, Dexlite Rp23.600 per liter, dan Pertamina Dex Rp23.900 per liter. Sementara itu, harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar tetap tidak berubah.

Secara keseluruhan, kebijakan ini dinilai sebagai langkah seimbang dalam menjaga ketahanan energi nasional sekaligus melindungi masyarakat dari tekanan inflasi di tengah dinamika harga minyak global. (r/isl)