8 Juta Warga AS Turun ke Jalan: Gerakan ‘No Kings’ Guncang Trump di Tengah Ancaman Perang Iran

Internasional45 Dilihat

 

WASHINGTON- Gelombang protes besar mengguncang Amerika Serikat pada Sabtu (28/3/2026), ketika sekitar 8 juta warga turun ke jalan dalam aksi bertajuk “No Kings”. Demonstrasi ini menyasar Presiden Donald Trump yang dinilai semakin otoriter serta menyeret negara itu ke konflik militer dengan Iran.

Aksi berlangsung serentak di 50 negara bagian dengan total sekitar 3.300 titik, mulai dari kota besar hingga wilayah kecil. Massa memadati jalanan, pusat kota, hingga kawasan gedung pemerintahan.

Di New York, puluhan ribu orang berkumpul di Manhattan dan melakukan long march dari Midtown sambil membawa poster berisi kritik terhadap Trump, kebijakan imigrasi, hingga penolakan perang. Aktor pemenang Oscar Robert De Niro turut hadir sebagai salah satu tokoh publik yang vokal menentang Trump.

Sementara itu, di Washington DC, ribuan demonstran berkumpul di National Mall dengan membawa spanduk bertuliskan “Trump Harus Mundur” dan “Lawan Fasisme”. Aksi serupa juga terjadi di berbagai kota seperti Atlanta, Dallas, Los Angeles, hingga San Francisco.

BACA JUGA :  Xi Jinping Eksekusi Mati Pejabat Korup

Seorang veteran militer, Marc McCaughey, menyatakan bahwa rakyat merasa konstitusi sedang terancam. “Tidak ada negara yang bisa berjalan tanpa persetujuan rakyat. Situasi ini tidak baik-baik saja,” ujarnya.

Tokoh politik seperti Bernie Sanders dan Gubernur Minnesota Tim Walz turut hadir dalam aksi. Sanders menegaskan akan menolak rencana tambahan anggaran perang sebesar 200 miliar dolar AS. Ia juga menilai konflik dengan Iran sebagai pelanggaran hukum internasional.

Musisi Bruce Springsteen ikut memeriahkan aksi di St Paul dengan membawakan lagu protes yang ia tulis khusus untuk mengenang korban penembakan oleh aparat federal.

Menariknya, hampir setengah dari aksi berlangsung di wilayah yang selama ini menjadi basis Partai Republik seperti Texas, Florida, dan Ohio. Ini menunjukkan meluasnya ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah.

BACA JUGA :  Anis Matta: Masa Depan Suriah Harus Ditentukan Masyarakat Sendiri

Di beberapa lokasi, situasi memanas. Di Los Angeles, bentrokan terjadi antara demonstran dan polisi. Aparat menetapkan status siaga taktis dan melakukan penangkapan terhadap peserta aksi yang dianggap anarkis.

Meski demikian, aksi tandingan yang mendukung Trump hanya terjadi di sedikit kota dan tidak sebesar demonstrasi utama.

Gerakan “No Kings” sendiri merupakan aksi ketiga dalam setahun terakhir sejak Trump kembali menjabat pada Januari 2025. Popularitas Trump dilaporkan turun di bawah 40 persen menjelang pemilu paruh waktu pada November mendatang.

Di tengah tekanan domestik tersebut, isu kebijakan luar negeri turut memicu kemarahan publik. Pemerintah AS dikabarkan tengah menyiapkan operasi militer terhadap Iran, termasuk kemungkinan serangan darat.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut sekitar 3.500 pasukan tambahan telah dikirim ke Timur Tengah menggunakan kapal USS Tripoli. Selain itu, Pentagon juga mempertimbangkan pengerahan hingga 10.000 pasukan tambahan.

BACA JUGA :  Menteri Kabinet Perang Israel Mengundurkan Diri

Menanggapi hal ini, Iran mengklaim telah memobilisasi lebih dari 1 juta kombatan sebagai antisipasi terhadap kemungkinan invasi. Pemerintah Iran menyatakan siap memberikan perlawanan besar jika serangan benar-benar terjadi.

Di sisi lain, Trump membantah tudingan bahwa dirinya bertindak seperti diktator. Ia bahkan mengunggah video berbasis kecerdasan buatan (AI) di media sosial yang menyindir aksi protes tersebut.

Gelombang demonstrasi juga meluas ke luar negeri, dengan aksi solidaritas digelar di sejumlah kota Eropa seperti Amsterdam, Madrid, dan Roma.

Aksi “No Kings” menjadi simbol meningkatnya ketegangan politik di dalam negeri AS, di tengah potensi konflik besar di kawasan Timur Tengah. (rm/isl)