MUI Dukung Indonesia Kembali Gabung Global Sumud Flotilla 2026 Tembus Blokade Gaza

JAKARTA– Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan dukungan terhadap keikutsertaan kembali relawan dan aktivis Indonesia dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2026. Konvoi internasional tersebut direncanakan berlangsung melalui dua jalur sekaligus, yakni laut dan darat, dengan target partisipasi lebih dari 10 ribu relawan dari sekitar 100 negara.

Wakil Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri Majelis Ulama Indonesia, KH Oke Setiade Affendi, menegaskan pentingnya keterlibatan Indonesia dalam setiap upaya solidaritas bagi rakyat Palestina. Ia menyampaikan bahwa bangsa Indonesia harus konsisten mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina dari penjajahan Israel.

Pernyataan tersebut disampaikan saat peluncuran Global Sumud Flotilla 2.0 di Jakarta, Kamis (26/2/2026).

“Bangsa Indonesia harus tetap setia kepada perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina,” begitu kata Oke yang juga pengurus PB Mathla’ul Anwar itu.

GPCI Koordinasikan Partisipasi Indonesia

Partisipasi Indonesia dalam GSF 2026 berada di bawah koordinasi Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), sebuah konsorsium yang beranggotakan sedikitnya 26 lembaga filantropi nasional. Selama ini, GPCI aktif dalam berbagai misi kemanusiaan, baik di dalam negeri maupun untuk warga Palestina di Jalur Gaza.

BACA JUGA :  Kejaksaan Agung Periksa 5 Saksi Perkara Impor Gula

Koordinator Dewan Pengarah GPCI, Maimon Herawati, menjelaskan bahwa jadwal konvoi tahun ini mengalami penyesuaian. Dari rencana awal 29 Maret 2026, keberangkatan serentak diubah menjadi 12 April 2026 karena skala kegiatan yang lebih besar dengan bergabungnya enam kelompok internasional.

“Itu karena misi GSF tahun ini, akan digelar lebih besar dari tahun sebelumnya (2025), karena bergabungnya enam kelompok internasional yang akan ikut bersama-sama,” ujar Maimon.

Dua Jalur, Enam Kelompok Internasional

GSF 2026 akan melibatkan enam kelompok utama. Empat di antaranya menempuh jalur laut melalui Laut Mediterania, yakni:  Sumud Nusantara, Sumud Maghribi, Freedom Flotilla Coalition dan Thousand Maddleen.  Sementara dua kelompok lainnya memilih jalur darat: Global March to Gaza dan People’s Flotilla Movement.

Untuk armada laut, direncanakan sekitar 100 kapal akan diberangkatkan dari sejumlah pelabuhan di kawasan Mediterania seperti Barcelona (Spanyol), Tunisia, Italia, dan Yunani. Sementara konvoi darat akan melintasi berbagai negara di Afrika Utara dan Asia sebelum menuju titik kumpul ke Gaza.

BACA JUGA :  Prabowo Dorong Ketahanan Energi dan Pangan ASEAN di KTT Khusus BIMP-EAGA

Indonesia Siapkan Kapal Phinisi

GPCI menyatakan akan membeli kapal Phinisi untuk mengangkut relawan Indonesia. Rute konvoi laut dari Indonesia akan dimulai dari Labuan Bajo (NTT), menuju Lombok (NTB), Surabaya (Jatim), Jakarta, Bangka Belitung, hingga Dumai (Riau), sebelum melanjutkan pelayaran internasional ke Port Klang, Malaysia.

Di setiap titik singgah, konvoi laut akan bersinergi dengan konvoi darat untuk menggelar kampanye solidaritas bertajuk “Indonesia Bersama Palestina”.

Adapun konvoi darat Indonesia akan bergerak menuju Dumai untuk selanjutnya bergabung dengan rombongan Malaysia dalam jaringan Sumud Nusantara.

Rute Global Konvoi Darat

Konvoi darat juga digelar di sejumlah negara Asia, di antaranya  Pakistan (12 April 2026) dari Karachi hingga Islamabad,  Iran (17 April 2026) dari Zahedan hingga Tabriz, Irak (22 April 2026) dari Baghdad hingga perbatasan dan  Turki (28 April 2026) dari Diyarbakir menuju Mersin

Para peserta diprioritaskan dari kalangan relawan umum, tenaga medis, perawat, tim trauma healing, kapten dan kru kapal, teknisi, jurnalis, pendidik, hingga tim hukum.

BACA JUGA :  Penyebab ‘Blackout Sumatera’ Bukan Sabotase, Bareskrim Polri Bongkar Hasil Investigasi

Maimon menegaskan GSF 2026 tetap berpegang pada prinsip non-kekerasan, independensi sipil, transparansi, serta kepatuhan terhadap hukum internasional.

Kilas Balik GSF 2025

Pada 2025, Global Sumud Flotilla melibatkan sekitar 500 aktivis dari 45 negara dengan sekitar 40 kapal yang berangkat dari Tunisia, Italia, dan Yunani. GPCI saat itu sempat menyiapkan sekitar 30 relawan, termasuk tujuh jurnalis, namun akhirnya menarik diri dari pelayaran dan memilih menyumbangkan lima kapal.

Sejumlah tokoh internasional yang ikut dalam misi 2025 antara lain Greta Thunberg, Thiago Avila, dan Jasmin Acar.

Meski misi 2025 gagal mencapai perairan Gaza akibat penangkapan oleh militer Israel, gerakan tersebut dinilai berhasil mengangkat kembali perhatian global terhadap situasi kemanusiaan di Palestina.

GSF 2026 pun diharapkan menjadi lanjutan solidaritas internasional yang lebih luas dan terorganisir dalam menyerukan penghentian blokade serta dukungan terhadap kemerdekaan Palestina. (saq/isl)