RUSIA– Di tengah konflik Timur Tengah yang semakin memanas, Presiden Rusia Vladimir Putin mengambil langkah diplomatik dengan menghubungi sejumlah pemimpin dunia untuk mendorong tercapainya perdamaian. Selain berbicara dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Putin juga melakukan percakapan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Dalam percakapan tersebut, Putin menyerukan agar ketegangan antara Iran dan koalisi AS-Israel segera mereda. Ia menekankan pentingnya penyelesaian konflik melalui jalur politik dan diplomasi.
“Presiden Rusia menegaskan kembali posisi prinsipnya yang mendukung de-eskalasi konflik yang cepat dan penyelesaiannya melalui cara-cara politik,” demikian pernyataan resmi Kremlin mengenai percakapan Putin dengan Pezeshkian.
Kremlin juga menyebut pembicaraan berlangsung hangat. Rusia bahkan disebut telah memberikan bantuan kemanusiaan kepada Iran di tengah situasi perang yang sedang berlangsung.
“Pezeshkian berterima kasih kepada Rusia atas dukungannya, khususnya atas bantuan kemanusiaan yang diberikan kepada Iran,” ujar pihak Kremlin.
Rusia Tegaskan Dukungan untuk Iran
Putin juga merespons terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru. Dalam pesannya, Putin menegaskan bahwa Moskow akan tetap berdiri bersama Teheran sebagai mitra strategis di tengah tekanan geopolitik yang semakin besar.
Penunjukan Mojtaba Khamenei terjadi setelah ayahnya, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Dalam pesan resminya, Putin menyampaikan solidaritas Rusia terhadap Iran serta dukungan terhadap kepemimpinan Mojtaba Khamenei di masa yang penuh tantangan.
“Saya ingin menegaskan kembali dukungan tak tergoyahkan kami untuk Teheran dan solidaritas dengan teman-teman Iran kami,” kata Putin dalam pesan tersebut.
Ia juga menilai kepemimpinan Mojtaba akan menghadapi ujian berat, terutama dalam menjaga stabilitas nasional serta menghadapi tekanan dari luar negeri.
“Pada saat Iran menghadapi agresi bersenjata, masa jabatan Anda di posisi tinggi ini pasti akan membutuhkan keberanian dan dedikasi yang besar,” ujarnya.
Putin Juga Telepon Trump
Percakapan Putin dengan Pezeshkian merupakan yang kedua sejak perang antara AS-Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari 2026. Dalam komunikasi sebelumnya, Putin juga telah mendorong langkah de-eskalasi.
Di sisi lain, Pezeshkian mengecam keras pembunuhan Ali Khamenei. Ia menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional oleh pihak yang ingin memaksakan kehendaknya terhadap negara lain.
“Tetapi dukungan besar dan heroik rakyat Iran terhadap sistem dan negara mereka menunjukkan bahwa serangan-serangan ini hanya memperkuat tekad bangsa untuk membela tanah airnya,” tegas Pezeshkian.
Sebelumnya, Putin juga berbicara langsung dengan Donald Trump melalui sambungan telepon selama sekitar satu jam pada Senin (9/3/2026). Percakapan itu turut membahas konflik di Timur Tengah dan juga perang di Ukraina.
Utusan Khusus Presiden Rusia untuk Investasi dan Kerja Sama Ekonomi dengan Negara Asing sekaligus Direktur Jenderal Russian Direct Investment Fund, Kirill Dmitriev, menyebut diskusi kedua pemimpin berlangsung konstruktif.
“Percakapan konstruktif berlangsung selama satu jam. Mereka membahas solusi yang potensial untuk mengakhiri konflik Ukraina dan Iran,” tulis Dmitriev melalui akun X.
Meski demikian, Trump mengakui bahwa tidak semua usulan Putin terkait konflik Timur Tengah disetujui oleh pihak Washington.
“Saya katakan kepada Putin, Anda akan lebih membantu dengan cara mengakhiri perang Ukraina-Rusia. Itu akan sangat membantu,” kata Trump.
Iran Pesimistis Diplomasi dengan AS
Di tengah upaya diplomasi tersebut, Kepala Dewan Strategis Hubungan Luar Negeri Iran Kamal Kharrazi menilai peluang diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat saat ini sangat kecil.
Menurutnya, sulit bagi Teheran untuk mempercayai Washington karena pengalaman sebelumnya.
“Karena Donald Trump menipu pihak lain dan tidak menepati janjinya,” ujar Kharrazi.
Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun sejumlah upaya diplomasi mulai digerakkan, konflik di Timur Tengah masih menghadapi jalan panjang menuju perdamaian. (isl)
