Internasional

Rencana Perluasan Nuklir Prancis dan Inggris, Rusia Cermati dan Siapkan Respons

MOSKOW – Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menyatakan bahwa langkah Prancis dan Inggris memperluas kemampuan persenjataan nuklir harus menjadi bahan pertimbangan serius dalam strategi militer Rusia.

Dalam konferensi pers di Moskow pada Rabu (4/3/2026), Zakharova menilai kebijakan tersebut disusun di luar kerangka pembatasan internasional. Kondisi itu, menurutnya, membuat Rusia perlu lebih berhati-hati dalam menyusun pengembangan dan perencanaan kekuatan militernya.

“Akibatnya, perluasan kemampuan NATO di bidang militer-nuklir yang tidak terkendali memerlukan perhatian lebih dan pertimbangan yang hati-hati dalam pengembangan serta perencanaan militer kami sendiri,” katanya.

Ia menambahkan bahwa peningkatan kemampuan militer-nuklir oleh negara-negara NATO tidak bisa diabaikan karena berpotensi memengaruhi keseimbangan keamanan kawasan.

Zakharova juga menyoroti adanya peningkatan koordinasi di antara negara anggota NATO dalam membahas kemungkinan keputusan terkait penggunaan senjata nuklir terhadap pihak yang mereka sebut sebagai “musuh bersama”.

Menurutnya, dari sudut pandang keamanan Rusia, sikap NATO yang selama ini menempatkan Rusia sebagai lawan strategis memiliki dampak besar. Ia menyebut narasi tersebut terus disampaikan secara terbuka dalam berbagai pernyataan politik.

“Dari perspektif keamanan Rusia, fakta bahwa NATO secara tradisional menganggap negara kami sebagai musuh memiliki arti yang sangat penting. Ini tidak disembunyikan dan terus ditekankan dengan berbagai cara, sering kali dibingkai dalam propaganda,” tambahnya.

Sebelumnya, Presiden Emmanuel Macron mengungkapkan bahwa delapan negara Eropa tertarik bekerja sama dengan Prancis dalam pengembangan sistem pencegah nuklir bersama. Negara-negara tersebut meliputi Jerman, Inggris, Polandia, Belanda, Belgia, Yunani, Swedia, serta Denmark.

Menanggapi gagasan tersebut, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov memperingatkan bahwa potensi penyebaran senjata nuklir tanpa kontrol semakin meningkat.

Di sisi lain, Zakharova juga menyinggung rencana lanjutan perundingan antara Rusia dan Ukraina. Ia menyebut penentuan waktu serta lokasi baru akan diumumkan oleh kepala delegasi Rusia, Vladimir Medinsky, setelah ada kesepakatan dari kedua pihak.

Sebelumnya, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan pembicaraan lanjutan direncanakan berlangsung pada awal Maret di Abu Dhabi. Namun, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan agenda tersebut dibatalkan karena perkembangan situasi, termasuk meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. (ant/isl)