MEDAN – Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Advokat Negarawan Indonesia (DPP AdNI), Eka Putra Zakran, S.H., M.H., Candidat Doctor, menyampaikan keprihatinan atas dugaan keracunan yang dialami belasan siswa SD Negeri 060870 di Jalan Krakatau, Medan, Sumatera Utara, setelah menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (9/10/2026).
Eka Putra meminta pemerintah memberikan perhatian serius terhadap keselamatan dan kesehatan para siswa yang diduga mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari program tersebut. Ia juga mendesak agar pelaksanaan MBG dievaluasi secara menyeluruh guna memastikan makanan yang diberikan kepada anak-anak benar-benar aman dan memenuhi standar kesehatan.
“Pertama, saya menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas peristiwa yang menimpa anak-anak sekolah dasar tersebut. Keselamatan dan kesehatan anak harus menjadi prioritas utama,” ujar Eka Putra dalam pernyataan yang disampaikan pada Jumat (9/10/2026) malam.
Menurutnya, seluruh siswa yang mengalami gangguan kesehatan harus mendapatkan penanganan medis secara tuntas. Pemerintah dan pihak terkait juga diminta memastikan kondisi para siswa terus dipantau agar tidak muncul dampak kesehatan lanjutan.
Ia menegaskan, penanganan terhadap korban tidak boleh berhenti setelah siswa mendapatkan pertolongan awal di rumah sakit. Kepastian mengenai kondisi kesehatan mereka perlu menjadi perhatian bersama, termasuk melalui pemeriksaan dan tindak lanjut medis sesuai kebutuhan.
Minta Presiden Evaluasi Pelaksanaan MBG
Eka Putra secara khusus meminta Presiden Prabowo Subianto mengevaluasi pelaksanaan program MBG, termasuk kinerja Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bertanggung jawab dalam penyediaan makanan.
Menurutnya, apabila penyelenggara belum mampu menjamin keamanan pangan dan meminimalkan risiko kejadian serupa, pemerintah perlu mempertimbangkan penghentian sementara operasional atau pelaksanaan program pada unit yang bermasalah hingga evaluasi dan perbaikan dilakukan.
“Program ini tidak boleh sekadar menjadi proyek kampanye. MBG harus benar-benar memberikan manfaat berupa pemenuhan gizi yang sehat, aman, dan layak bagi anak-anak,” tegas sosok yang akrab dipanggi UDA itu.
Ia mengingatkan bahwa program pemenuhan gizi bagi pelajar harus dilaksanakan dengan standar keamanan pangan yang ketat. Mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, pengemasan, hingga distribusi makanan ke sekolah, seluruh tahapan harus mendapat pengawasan yang memadai.
Eka Putra juga mengungkapkan kekhawatirannya sebagai orang tua yang memiliki anak usia sekolah. Ia menilai, dugaan kejadian tersebut dapat menimbulkan keresahan di kalangan orang tua yang berharap program MBG memberikan manfaat bagi kesehatan dan tumbuh kembang anak.
“Kita sebagai orang tua tentu merasa waswas dan takut jika kejadian serupa terus berulang dan memakan korban anak-anak sekolah di berbagai daerah. Karena itu, keamanan makanan yang diberikan kepada siswa tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele,” katanya.
Minta Aparat Usut Jika Ada Kelalaian
Selain mendesak evaluasi, Ketua Umum DPP AdNI itu meminta aparat penegak hukum menindaklanjuti dugaan kejadian tersebut secara profesional apabila ditemukan indikasi pelanggaran hukum.
Ia menegaskan, pemeriksaan perlu dilakukan untuk mengetahui penyebab gangguan kesehatan yang dialami para siswa, termasuk menelusuri proses penyediaan dan distribusi makanan yang dikonsumsi korban.
Apabila dalam proses pemeriksaan ditemukan unsur kelalaian, penyimpangan prosedur, penggelembungan harga (mark-up), atau tindak pidana korupsi dalam penyediaan makanan, ia meminta agar pihak-pihak yang bertanggung jawab diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
“Jika ditemukan indikasi penyimpangan, kelalaian, mark-up, atau korupsi dalam penyediaan makanan, aparat penegak hukum harus bertindak tegas sesuai hukum. Namun, semuanya harus didasarkan pada hasil pemeriksaan dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujar sosok yang juga merupakan dosen UMSU.
Belasan Siswa Dilaporkan Mendapat Perawatan Medis
Sebelumnya, belasan siswa SD Negeri 060870 di Jalan Krakatau, Medan, dilaporkan dilarikan ke Rumah Sakit Imelda Medan setelah mengalami mual, muntah, pusing, dan lemas usai menyantap MBG pada Jumat (9/10/2026).
Salah seorang keluarga siswa, Heri Setiawan, mengaku mendapat kabar bahwa cucunya masuk rumah sakit sekitar pukul 11.30 WIB. Ia kemudian menghubungi ibu korban dan mendatangi rumah sakit untuk melihat kondisi cucunya.
“Ketika saya sampai di sini, langsung saya lihat memang keadaannya lemas. Sekarang juga masih diinfus,” ujar Heri.
Heri mengaku belum mengetahui secara pasti jenis makanan yang dibagikan kepada para siswa. Berdasarkan informasi yang diterimanya, menu MBG saat itu terdiri atas makanan dan susu.
Setelah mengonsumsi makanan tersebut, sejumlah siswa dilaporkan mengalami mual dan ingin muntah hingga harus mendapatkan pertolongan medis.
Heri berharap pemerintah memberikan perhatian serius terhadap keamanan makanan dalam pelaksanaan program MBG. Ia bahkan meminta pemerintah mempertimbangkan penghentian program apabila kejadian serupa terus berulang dan membahayakan siswa.
Hingga berita ini disusun, dugaan hubungan antara makanan MBG dan gangguan kesehatan yang dialami para siswa masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Penyebab pasti kejadian tersebut belum dapat dipastikan, sementara konfirmasi dari pihak penyelenggara SPPG maupun instansi terkait masih diperlukan.
Eka Putra berharap peristiwa ini menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pihak agar pelaksanaan program pemenuhan gizi bagi pelajar benar-benar mengutamakan keselamatan, kesehatan, dan kepentingan terbaik anak-anak. (r/isl)
