Tiga Tokoh Nasional Asal Sumut Bertemu, Bahas Ketahanan Pangan Nasional dan Peran Ormas Islam dan Riset

Nasional186 Dilihat

JAKARTA- Tiga tokoh nasional asal Sumatera Utara menggelar silaturahim pertemuan informal, Senin (16/2/2026) di salah satu kafe di, Benhil, Jakarta Pusat untuk membahas isu strategis bangsa, khususnya ketahanan pangan, peranan organisasi kemasyarakatan Islam, serta kondisi riset yang mendukung pembangunan nasional dan berdampak langsung di tengah masyarakat.

Tiga tokoh tersebut adalah 1) Ketua Satgas Pangan BPP HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) M. Hadi Nainggolan, 2) Ketua PW Mathla’ul Anwar Sumatera Utara yang juga salah satu Ketua PB MA tepatnya Tim Formatur PBMA, Dr H Hasnan Syarief Panggabean, dan 3) Ketua Kelompok Riset Pendidikan Karakter dan Pengembangan Talenta Pusat Riset Pendidikan BRIN, Dr. Shiyamu Manurung.

Bahas Ketahanan Pangan dan Masa Depan Bangsa

Dalam suasana santai namun penuh substansi, diskusi berkembang membahas pentingnya ketahanan pangan sebagai fondasi utama pembangunan bangsa.

Para tokoh sepakat bahwa ketahanan pangan yang dikelola dengan baik, dilandasi semangat moral kebangsaan serta pengalaman riset yang berdampak, akan memberikan nilai mendasar bagi keberlangsungan program-program strategis Indonesia saat ini.

BACA JUGA :  JAM-Pidum Menyetujui 11 Pengajuan Restorative Justice, Salah Satunya Perkara Penadahan di Kotawaringin Timur

Ketua Satgas Pangan BPP HIPMI, M. Hadi Nainggolan (berbaju putih), menegaskan bahwa program-program Presiden Prabowo, khususnya di bidang pertanian, perlu didukung secara optimal oleh seluruh elemen bangsa.

“Ketahanan pangan bukan hanya soal produksi, tetapi tentang keberanian moral, manajemen yang profesional, dan dukungan konkret terhadap program pertanian nasional. Jika kita serius mengelola lahan dan memberdayakan petani, pertumbuhan bangsa akan semakin kuat di masa depan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa optimalisasi lahan dan penguatan sektor pertanian akan berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi yang lebih seimbang dan berkelanjutan.

Peran Ormas Islam dalam Menjaga Moral dan Lingkungan

Sementara itu, Ketua PW Mathla’ul Anwar Sumatera Utara, Dr. H. Hasnan Syarief Panggabean, MPd (berbaju batik hijau), menekankan pentingnya peran ormas Islam dalam menjaga moral kolektif bangsa.

BACA JUGA :  Kapolri Ajak Ojek Online Bersinergi Jaga Kamtibmas

Menurut Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI Provinsi Sumut itu, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kebijakan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas moral masyarakatnya.

“Seluruh elemen masyarakat harus menjaga moral demi keutuhan bangsa. Sumber daya manusia Indonesia harus mampu menjaga lingkungan dan membangun kesadaran kolektif bahwa pembangunan tidak boleh merusak alam, melainkan memberi dampak keberlanjutan bagi generasi mendatang,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya pendidikan berbasis nilai keagamaan dan kebangsaan dalam membentuk karakter masyarakat yang tangguh menghadapi perkembangan zaman.

Riset dan Pendidikan Karakter sebagai Pondasi Kemajuan

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Kelompok Riset Pendidikan Karakter dan Pengembangan Talenta Pusat Riset Pendidikan BRIN, Dr. Shiyamu Manurung, MA (berbaju biru), menyampaikan bahwa kemajuan bangsa di masa depan harus ditopang oleh pembangunan karakter.

Menurutnya, sumber daya manusia yang dibutuhkan bangsa adalah individu yang mampu mengenal dirinya, memiliki kesadaran moral, serta bijaksana dalam menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri kebangsaan.

BACA JUGA :  Jelang Pembukaan TMMD, Babinsa dan Warga Desa Kayen Bangun Talud Tetap Bersemangat

“Kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari teknologi dan ekonomi, tetapi dari kemampuan kita memelihara karakter bangsa. Salah satunya adalah menjaga lingkungan sebagai ruang kebersamaan manusia menuju kebaikan bersama,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa riset yang berdampak harus menyentuh kebutuhan riil masyarakat, termasuk dalam bidang ketahanan pangan, pendidikan karakter, serta optimalisasi talenta generasi muda.

Di akhir pertemuan, ketiga tokoh menyimpulkan bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh sinergi seluruh elemen bangsa. Menjaga moral kolektif, memperkuat ketahanan pangan, mengoptimalkan lahan secara bijak, serta memelihara lingkungan hidup menjadi agenda bersama demi keberlangsungan bangsa.

Pertemuan tersebut menjadi refleksi bahwa pembangunan Indonesia tidak dapat berjalan secara sektoral, melainkan membutuhkan kolaborasi antara pengusaha muda, ormas Islam, dan kalangan riset demi terwujudnya Indonesia yang kuat, berkarakter, dan berdaulat pangan. (r/isl)