JAKARTA– Pemerintah memastikan keluarga tiga prajurit TNI yang gugur dalam misi perdamaian dunia di Lebanon akan menerima santunan hingga sekitar Rp1,8 miliar per orang. Pemberian ini menjadi bentuk penghargaan negara atas pengabdian mereka dalam menjaga perdamaian internasional.
Ketiga prajurit yang gugur adalah Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ikhwan, dan Praka Farizal Rhomadhon. Mereka bertugas sebagai bagian dari Pasukan Perdamaian PBB (UNIFIL) di wilayah Lebanon selatan.
Panglima TNI Jenderal Agus Subianto menegaskan seluruh hak prajurit akan diberikan kepada keluarga yang ditinggalkan.
“Selain santunan uang, ketiganya juga mendapat kenaikan pangkat luar biasa anumerta serta penghargaan internasional Medal Dag Hammarskjold,” ujarnya, Rabu (1/4/2026).
Adapun rincian santunan yang diterima keluarga masing-masing prajurit adalah:
Santunan tersebut berasal dari berbagai komponen, termasuk asuransi, santunan risiko kematian, bantuan dari PBB, serta dana internal TNI.
Selain itu, keluarga juga berhak atas:
Kronologi Serangan
Peristiwa tragis ini terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Lebanon selatan, yang melibatkan Israel dan kelompok bersenjata di kawasan tersebut.
Praka Farizal Rhomadhon menjadi korban pertama pada 29 Maret 2026 setelah proyektil meledak di dekat pos penjaga perdamaian di Adchit al-Qusayr.
Sehari berselang, dua prajurit lainnya, yakni Kapten Zulmi dan Sertu Nur Ikhwan, gugur saat konvoi logistik UNIFIL yang mereka tumpangi dihantam ledakan di dekat Bani Hayyan. Dalam insiden tersebut, dua prajurit lain juga mengalami luka-luka.
Serangan ini diduga berkaitan dengan meningkatnya ketegangan antara Israel dan Hizbullah di perbatasan Lebanon-Israel.
Duka Mendalam Keluarga
Kepergian para prajurit meninggalkan luka mendalam bagi keluarga. Iskandarudin, ayah Kapten Zulmi, mengaku sangat terpukul atas kejadian tersebut.
Menurutnya, misi di Lebanon seharusnya menjadi tugas perdamaian, bukan medan pertempuran.
“Kalau ke Papua saya justru lebih khawatir. Tapi ini misi perdamaian, tidak menyangka akan seperti ini,” ujarnya.
Sementara itu, suasana duka juga menyelimuti rumah Praka Farizal di Kulon Progo, Yogyakarta. Karangan bunga dari berbagai tokoh berdatangan, sementara keluarga terus menerima pelayat.
Farizal diketahui masih sempat berkomunikasi dengan keluarganya sehari sebelum kejadian. Ia meninggalkan seorang istri dan anak yang masih berusia dua tahun.
Respons Pemerintah
Pemerintah Indonesia menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya para prajurit. Presiden turut memberikan penghormatan atas jasa mereka dalam menjaga perdamaian dunia.
Indonesia juga mendesak dilakukannya investigasi menyeluruh terhadap insiden tersebut, mengingat para korban merupakan personel resmi pasukan penjaga perdamaian di bawah naungan PBB.
Tragedi ini kembali menegaskan besarnya risiko yang dihadapi pasukan perdamaian di wilayah konflik. Santunan yang diberikan negara menjadi simbol penghormatan, namun kehilangan yang dirasakan keluarga tidak tergantikan. (isl)