Jokowi Mulai Safari Politik Keliling Indonesia, PSI Diproyeksikan Jadi Mesin Politik Besar

Politik14 Dilihat

JAKARTA – Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), mulai melakukan safari politik keliling Indonesia. Langkah tersebut ditandai dengan keberangkatannya menuju Lampung pada Jumat (26/6/2026).

Safari ini menjadi sorotan karena salah satu agenda utamanya adalah memberikan dukungan dan dorongan kepada Partai Solidaritas Indonesia (PSI), partai yang kini dipimpin oleh putra sulungnya, Kaesang Pangarep.

Jokowi mengungkapkan bahwa kehadirannya bertujuan memberikan motivasi sekaligus pesan agar struktur organisasi PSI segera diperkuat dan dilengkapi. Menurutnya, partai tersebut perlu memiliki fondasi yang kuat agar mampu berkembang menjadi kekuatan politik besar di Indonesia.

BACA JUGA :  PSI Yakin Zainuddin Purba Bisa Menang di Pilkada Kota Binjai

Di Lampung, Jokowi dijadwalkan bertemu langsung dengan Kaesang dan jajaran PSI.

Langkah mantan presiden tersebut setelah tidak lagi menjabat memunculkan berbagai spekulasi di ruang publik. Sebagian pihak menilai safari politik ini sebagai upaya membangun kekuatan baru, sementara lainnya melihatnya sebagai bentuk dukungan terhadap perkembangan demokrasi dan regenerasi politik.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Prasetyo Hadi, menanggapi langkah Jokowi dengan memberikan respons yang relatif hati-hati. Ia tidak banyak mengomentari arah politik safari tersebut, namun menyoroti kondisi kesehatan Jokowi.

BACA JUGA :  Jokowi Pastikan Pelaku Judi Online Tak Dapat Bansos

“Kalau kami dari Gerindra, kami menyampaikan selamat karena artinya beliau sudah sehat kembali. Sebelumnya kan sempat agak kurang fit. Dan sebagai tokoh serta negarawan, saya kira tidak ada masalah juga,” ujar Prasetyo Hadi di Kompleks Parlemen, Senayan.

Pernyataan tersebut dinilai sebagai bentuk apresiasi sekaligus respons diplomatis Gerindra terhadap aktivitas politik Jokowi pasca-presiden.

BACA JUGA :  Hasto Mau Bongkar 'Borok' Pejabat Negara, Jokowi: Ya Nggak Papa  

Kini perhatian publik tertuju pada sejauh mana pengaruh Jokowi dapat memberikan dampak terhadap elektabilitas PSI serta peta kekuatan politik nasional ke depan. Apakah “Jokowi Effect” masih memiliki daya dorong besar, menjadi pertanyaan yang akan terjawab dalam dinamika politik berikutnya. (bc/isl)