CIREBON- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon terus menggiatkan edukasi literasi keuangan syariah dalam momentum Ramadan 1446 H.
Dalam rangkaian Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah), OJK Cirebon menggelar kegiatan sosialisasi di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Syariah (STIES) KHAS Al Jaelani Kempek dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) KHAS Kempek, Kabupaten Cirebon.
Acara ini dihadiri oleh lebih dari 300 mahasiswa dan santri, yang mendapat edukasi terkait produk serta perencanaan keuangan berbasis syariah.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara OJK Cirebon, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Cirebon, serta Bank Syariah Indonesia (BSI) KC Cirebon.
Hadir dalam acara tersebut Ketua STIES KHAS Al Jaelani dan STIKES KHAS Kempek K.H. Ni’amillah Aqil Siroj, Pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek K.H. Musthofa Aqiel Siroj, Kepala Perwakilan BI Cirebon Jajang Hermawan, serta Branch Manager BSI KCP Plered 1 Endah Apriani.
Ketua STIES KHAS Al Jaelani dan STIKES KHAS Kempek, K.H. Ni’amillah Aqil Siroj, menyampaikan apresiasi atas inisiatif OJK dalam mendorong peningkatan literasi keuangan syariah, khususnya di lingkungan pesantren.
“Pesantren adalah pusat pendidikan Islam yang erat dengan praktik syariah. Oleh karena itu, santri dan mahasiswa perlu memahami pentingnya perencanaan keuangan berbasis syariah agar dapat menjalankan prinsip transparansi dan tolong-menolong dalam ekonomi Islam,” ujarnya dikutip Pojoksatu.
Sementara itu, Kepala OJK Cirebon, Agus Muntholib, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah di kalangan pelajar dan mahasiswa.
“Selama bulan Ramadan ini, OJK Cirebon menargetkan tujuh kali kegiatan edukasi keuangan syariah di wilayah Ciayumajakuning. Hari ini adalah kegiatan keempat dalam rangkaian GERAK Syariah yang telah berjalan sejak tahun 2024,” jelasnya.
Kepala Perwakilan BI Cirebon, Jajang Hermawan, juga mengapresiasi langkah OJK dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap keuangan syariah. Menurutnya, digitalisasi keuangan menjadi aspek penting dalam pengembangan industri syariah.
“Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024, tingkat literasi keuangan syariah di Indonesia baru mencapai 39,11%, sementara tingkat inklusi keuangan syariah hanya 12,88%. Ini menunjukkan masih banyak ruang untuk meningkatkan edukasi keuangan syariah di masyarakat,” paparnya.
Selain di pesantren, OJK Cirebon juga melaksanakan kegiatan serupa di Universitas Swadaya Gunung Jati. Sekitar 150 mahasiswa mendapatkan edukasi terkait pasar modal syariah, perlindungan konsumen, serta modus kejahatan keuangan berkedok investasi, seperti skema ponzi dan money game.
Dengan adanya program GERAK Syariah ini, OJK Cirebon berharap semakin banyak masyarakat yang memahami pentingnya literasi keuangan syariah. Hal ini diharapkan dapat mendukung ekosistem keuangan yang lebih inklusif, aman, dan berkelanjutan. (isl)
