Tren di Jepang! Spa Refleksi Diri Meditasi di Peti Mati

Ragam92 Dilihat

JEPANG- Sebuah tren refleksi diri yang tak biasa tengah berkembang di Jepang. Sejumlah warga mencoba metode meditasi dengan cara berbaring di dalam peti mati, praktik yang dikenal dengan sebutan “coffin-lying”.

Mengutip laporan The New York Post, layanan ini awalnya diperkenalkan oleh sebuah rumah duka di Prefektur Chiba. Namun, belakangan minat masyarakat meningkat, terutama dari mereka yang ingin mencari ketenangan batin sekaligus merenungkan makna hidup dan kematian.

BACA JUGA :  Pengajian Ramadhan KPRK MUI Sumut Bahas Kesehatan Gigi dan Mulut Saat Puasa

Dengan membayar sekitar 13 dolar AS atau setara Rp200 ribu, peserta dapat merasakan pengalaman berbaring di dalam peti selama kurang lebih 30 menit. Meski terkesan menyeramkan, banyak yang mengaku justru merasa lebih damai setelah menjalani sesi tersebut.

Tren ini bahkan berkembang ke konsep yang lebih modern. Di Tokyo, sebuah spa bernama Meiso Kukan Kanoke-in menawarkan pengalaman meditasi di dalam peti berwarna-warni dengan desain unik dan ceria. Peti-peti tersebut dirancang oleh perusahaan Grave Tokyo agar tampil lebih ramah dan tidak menimbulkan kesan kelam.

BACA JUGA :  Indonesia Paling Dermawan di Dunia 2026 Versi WHR, Ungguli 147 Negara

Pengunjung dapat memilih suasana meditasi sesuai preferensi, mulai dari alunan musik lembut, tayangan visual di langit-langit ruangan, hingga suasana hening tanpa gangguan suara.

Desainer peti mati, Mikako Fuse, menjelaskan bahwa konsep ini bertujuan membantu orang memahami arti kehidupan melalui kesadaran akan kematian. Menurutnya, dengan mensimulasikan pengalaman “kematian” secara aman dan terkendali, seseorang dapat memperoleh perspektif baru untuk lebih menghargai hidup.

BACA JUGA :  Rekomendasi Menu Buka Puasa Khas Medan yang Kaya Rasa dan Tradisi

Fenomena ini muncul di tengah tingginya angka bunuh diri remaja di Jepang. Fuse berharap pengalaman tersebut dapat menjadi refleksi mendalam sebelum seseorang mengambil keputusan ekstrem yang tidak bisa dibatalkan.

“Sebelum memilih kematian yang tak dapat diubah, saya ingin orang-orang merasakan kematian yang masih bisa kembali,” ujarnya. (rm/isl)