BATAM — Seorang perempuan dewasa yang diketahui tengah menempuh tahap akhir perkuliahan ditemukan meninggal dunia di kediamannya di Komplek Junior Quarter, Kelurahan Sungai Harapan, Kecamatan Sekupang, Batam, Rabu (23/9/2026) sekitar pukul 14.15 WIB.
Korban diketahui sedang menyelesaikan tugas akhir atau skripsi. Namun, kepolisian belum menyimpulkan adanya hubungan antara proses penyusunan skripsi dengan penyebab meninggalnya korban.
Peristiwa tersebut pertama kali diketahui ketika seorang teman korban mendatangi rumahnya untuk menyampaikan informasi mengenai jadwal sidang skripsi yang sebelumnya dijadwalkan ulang.
Sebelum datang ke lokasi, teman korban sempat menghubunginya melalui WhatsApp. Namun, pesan dan panggilan tersebut tidak mendapat respons. Setibanya di rumah, temannya menemukan korban dalam kondisi tidak sadarkan diri di bagian belakang rumah.
Polsek Sekupang bersama Tim Inafis Polresta Barelang kemudian melakukan pemeriksaan di lokasi. Korban selanjutnya dibawa ke RS Bhayangkara Polda Kepri Batam untuk penanganan lebih lanjut.
Kapolsek Sekupang Kompol Hippal Tua Sirait mengatakan pihaknya masih mendalami rangkaian peristiwa tersebut dan mengimbau masyarakat tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.
“Kami mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab peristiwa ini. Setiap informasi yang berkembang akan kami telusuri dan ditangani sesuai prosedur,” ujar Hippal, Jumat (25/9/2026).
Polisi telah memeriksa sejumlah saksi, mendokumentasikan lokasi kejadian, serta berkoordinasi dengan Tim Inafis. Berdasarkan keterangan awal, korban sedang menjalani proses penyelesaian tugas akhir dan disebut mengalami sejumlah revisi.
Meski demikian, polisi belum menyimpulkan kondisi tersebut sebagai penyebab meninggalnya korban.
“Kami masih melakukan pemeriksaan dan pendalaman. Untuk penyebab pasti meninggalnya korban, kami menunggu hasil pemeriksaan dan proses penanganan lebih lanjut,” kata Hippal.
Dosen Soroti Pola Bimbingan Skripsi
Di tengah proses penyelidikan, sejumlah dosen di Kepulauan Riau menyoroti pentingnya pola bimbingan yang lebih fleksibel serta dukungan sosial bagi mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir.
Dosen Sistem Informasi, Cosmas Eko Suharyanto, mengatakan karakteristik mahasiswa di Batam perlu menjadi perhatian dalam proses bimbingan skripsi. Menurutnya, banyak mahasiswa di Batam yang juga bekerja sehingga persoalan waktu kerap menjadi salah satu kendala.
“Memang harus dipahami situasi mahasiswa di Kota Batam. Karakter mahasiswa di Batam berbeda, umumnya mahasiswa juga bekerja, oleh karena itu biasanya yang menjadi kesulitan ketika bimbingan skripsi adalah jadwal atau waktu bimbingan,” ujar Cosmas kepada batamnews.co.id, Jumat (25/9/2026).
Menurut Cosmas, dosen dapat menciptakan sistem bimbingan yang lebih fleksibel, salah satunya melalui metode hybrid. Mahasiswa dapat mengunggah materi maupun perkembangan skripsi ke penyimpanan cloud sehingga dosen dapat memeriksanya terlebih dahulu sebelum pertemuan tatap muka atau melalui Zoom.
Dengan demikian, waktu pertemuan dapat dimanfaatkan untuk membahas persoalan yang lebih substansial.
“Dosen harus lebih fleksibel waktunya mengingat karakter mahasiswa di Batam; mudah ditemui, komunikatif, memberi arah,” katanya.
Cosmas juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menghadapi proses penyelesaian skripsi seorang diri. Ia menyarankan mahasiswa memberi tahu orang-orang terdekat, seperti orang tua, saudara, atau teman, bahwa mereka sedang berada pada tahap akhir perkuliahan.
“Ini penting sebagai informasi bagi orang di sekitarnya, bahwa kamu sedang berjuang di garis akhir perkuliahan,” ujarnya.
Ia juga menyarankan mahasiswa mempersiapkan diri sebelum bimbingan dan menetapkan target yang jelas setelah bertemu dengan dosen pembimbing.
Dosen: Skripsi Bukan Satu-satunya Faktor
Sementara itu, Dosen Sosiologi Teguh Setiandika Igiasi menegaskan bahwa seseorang yang memilih mengakhiri hidup tidak dapat dilihat hanya dari satu aspek. Menurutnya, berbagai aktivitas dan kondisi sosial yang dialami seseorang dalam kurun waktu tertentu dapat memengaruhi kondisi individu.
“Benar akan ditemukan fakta sedang menyusun skripsi dan mengalami kesulitan karena itu, tapi tidak sebagai aspek tunggal dorongan untuk mengakhiri hidup. Karena secara sosial, individu tidak hanya menjalani satu aspek itu saja,” kata Teguh.
Dari perspektif sosiologi, kata Teguh, persoalan tersebut berkaitan dengan hubungan individu dengan lingkungan sosialnya. Karena itu, kepedulian terhadap kondisi orang lain menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan.
“Maka, langkah pencegahan yang terbaik adalah bagaimana kita secara sosial mulai peduli, bukan kepo, akan hidup orang yang kita kenal,” ujarnya.
Teguh menilai mahasiswa sebaiknya tidak menjalani persoalan hidup seorang diri, termasuk ketika menghadapi kesulitan dalam menyelesaikan skripsi. Mahasiswa perlu melibatkan orang-orang di sekitarnya dan menjadikan dosen pembimbing sebagai partner diskusi, bukan sosok yang ditakuti.
“Pencegahan terbaik adalah dengan mulai melibatkan banyak pihak dalam menjalani hidup, termasuk menyelesaikan skripsi. Menjadikan pembimbing sebagai partner diskusi bukan momok menakutkan,” katanya.
Ia menambahkan, perbedaan pandangan antara mahasiswa dan dosen dalam proses penyusunan skripsi semestinya ditempatkan sebagai bagian dari proses akademik, bukan sebagai hambatan yang membuat mahasiswa merasa sendirian.
“Sehingga, apapun perbedaan pandangan dalam penyusunan skripsi menjadi proses penyelesaian kegiatan, bukan proses penghambat,” ujarnya.
Teguh juga menekankan bahwa tekanan yang dialami mahasiswa dapat berbeda-beda, tergantung tahapan perkuliahan dan kondisi sosial yang menyertainya. Kesulitan menyusun skripsi, menurut dia, dapat menjadi salah satu faktor, tetapi bukan faktor tunggal.
“Kesulitan menyusun skripsi bisa menjadi satu pendorong, tapi yang harus digarisbawahi bahwa itu bukan faktor pendorong tunggal,” katanya.
Menurutnya, sikap terlalu menekan maupun mengabaikan kondisi seseorang dapat berdampak terhadap kondisi sosial dan psikologis individu.
“Praktik mengakhiri hidup itu sebab dan dampaknya tidak individual kalau dalam pandangan sosiologi. Maksudnya sebabnya bisa dari banyak aspek, dampaknya pun bisa ke banyak aspek,” ujarnya.
Ia mengajak lingkungan kampus, keluarga, teman, dan orang-orang terdekat membangun komunikasi yang lebih terbuka dengan mahasiswa, khususnya mereka yang sedang berada di tahap akhir perkuliahan.
Hingga kini, peristiwa meninggalnya mahasiswi di Sekupang masih dalam penanganan kepolisian. Polisi belum menyimpulkan penyebab pasti kematian dan masih melakukan pemeriksaan serta pendalaman terhadap sejumlah informasi dan saksi. (bc/isl)
