JAKARTA – Sekolah kepemimpinan yang profesional dan berintegritas menjadi salah satu fokus pembenahan sumber daya manusia (SDM) Polri. Untuk mewujudkan hal tersebut, Biro Pembinaan Karier (Robinkar) SSDM Polri menggelar kegiatan Post Assessment dan Peningkatan Kompetensi Calon Pemimpin Polri Tingkat Menengah Tahun Anggaran 2026.
Kegiatan ini ditujukan untuk memperkuat kapasitas calon pemimpin Polri, khususnya yang dipersiapkan menduduki jabatan strategis seperti direktur dan kepala kepolisian resor (Kapolres).
Karobinkar SSDM Polri Brigjen Pol. M. Darwis D. Hermawan mengatakan, pengembangan kompetensi calon pemimpin merupakan bagian penting dari transformasi SDM Polri yang berorientasi pada profesionalisme, kinerja, integritas, dan peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
“Calon pemimpin Polri harus memiliki kompetensi manajerial yang kuat, integritas yang tinggi, serta komitmen terhadap organisasi. Kepemimpinan tidak hanya ditunjukkan melalui kemampuan mengambil keputusan, tetapi juga melalui keteladanan, tanggung jawab, dan kemampuan membangun kepercayaan masyarakat,” ujar Darwis.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut kebijakan pimpinan Polri untuk mendukung Asta Cita ke-4, terutama dalam penguatan pembangunan SDM dan pembentukan aparatur negara yang kompeten serta berintegritas.
Program ini juga sejalan dengan Commander Wish Kapolri melalui kebijakan “Polisi Bersama Masyarakat”, yang dijabarkan dalam Program Prioritas II mengenai pembinaan SDM dan pola rekrutmen anggota Polri.
Salah satu fokusnya adalah memperkuat strategi pengembangan karier dan manajemen talenta melalui penerapan pola karier berbasis merit dan kinerja, pengelolaan talenta untuk jabatan kunci, serta penempatan personel berdasarkan kompetensi.
Menurut Darwis, penerapan strategi tersebut diharapkan mampu memastikan personel Polri ditempatkan secara tepat, baik dari sisi jumlah, kompetensi, maupun posisi penugasan.
“Pengelolaan karier dan talenta harus dilaksanakan secara objektif dan berbasis kompetensi. Dengan menempatkan personel sesuai kemampuan dan kinerjanya, Polri dapat menyiapkan pemimpin yang mampu menjawab tantangan organisasi sekaligus memenuhi harapan masyarakat,” katanya.
Evaluasi dan Pengembangan Kompetensi
Kegiatan Post Assessment dan Peningkatan Kompetensi ini dirancang untuk mengembangkan kapasitas individu berdasarkan hasil Assessment Center yang telah dilaksanakan pada level pimpinan puncak (top level) dan menengah (middle level) sepanjang Tahun Anggaran 2026.
Melalui kegiatan tersebut, peserta memperoleh umpan balik dari asesor mengenai hasil asesmen masing-masing. Mereka juga didorong untuk mengenali potensi diri, memahami aspek kompetensi yang masih perlu ditingkatkan, serta menyusun langkah pengembangan secara berkelanjutan.
Terdapat tiga sasaran utama yang ingin dicapai. Pertama, menyiapkan calon pemimpin Polri yang kompeten melalui penguatan kemampuan manajerial untuk mendukung Program Prioritas II Kapolri, yakni “Polisi Bersama Masyarakat”.
Kedua, meningkatkan kesadaran peserta terhadap perilaku kunci yang harus dikembangkan, terutama dalam aspek kepemimpinan, integritas, dan komitmen terhadap organisasi.
Ketiga, membangun keterlibatan dan kepercayaan masyarakat melalui kompetensi kepemimpinan yang mendorong kolaborasi serta menghasilkan solusi nyata bagi persoalan di lingkungan tugas.
Darwis menegaskan, keberhasilan kegiatan tidak hanya diukur dari partisipasi peserta, tetapi juga dari kemampuan mereka menerapkan hasil pembelajaran dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.
“Saya berharap seluruh peserta mengikuti setiap sesi dengan antusias, aktif berdiskusi, serta terbuka terhadap pandangan dan pengalaman yang disampaikan. Jadikan kegiatan ini sebagai kesempatan untuk mengenali potensi diri, memperbaiki kekurangan, dan merumuskan langkah konkret yang dapat diterapkan dalam pelaksanaan tugas,” tegasnya.
Dorong Kepemimpinan yang Berorientasi pada Masyarakat
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut menggunakan metode ceramah dan diskusi panel. Selain menjadi sarana peningkatan kompetensi, kegiatan ini juga membuka ruang pertukaran gagasan dan pengalaman bagi para calon pemimpin Polri.
Peserta didorong menyampaikan pendapat secara jelas dan ringkas, menghormati perbedaan pandangan, serta membangun pemahaman bersama untuk mencari solusi atas berbagai tantangan organisasi dan pelayanan publik.
Pada akhir kegiatan, setiap peserta diharapkan mampu menetapkan langkah nyata yang dapat dilaksanakan bersama anggota dan masyarakat di wilayah tugas masing-masing.
Dengan demikian, proses pengembangan kompetensi diharapkan tidak berhenti pada pembelajaran di ruang kegiatan, tetapi berlanjut menjadi perubahan perilaku kepemimpinan, penguatan kinerja organisasi, dan peningkatan kualitas pelayanan kepolisian.
Melalui program ini, SSDM Polri menegaskan komitmennya menyiapkan calon pemimpin tingkat menengah yang profesional, berintegritas, adaptif, dan berorientasi pada pelayanan publik.
Penguatan kompetensi tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya mewujudkan Polri yang semakin Presisi, memperkuat kepercayaan masyarakat, serta menghadirkan kepolisian sebagai mitra masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban. (bc/isl)
