JAKARTA – Ermanto Usman (65) ditemukan meninggal dunia dengan luka serius di bagian kepala di kediamannya pada Senin (2/3/2026) dini hari. Saat ditemukan, korban tergeletak di atas kasur dalam kondisi bersimbah darah.
Sementara itu, istrinya, Pasmilawati (60), ditemukan di lantai kamar dengan luka di bagian kepala dan sempat dalam kondisi kritis. Ia telah menjalani operasi dan kini dalam proses pemulihan.

Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota, Kompol Andi Muhammad Iqbal, mengatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan untuk memastikan motif di balik peristiwa tersebut.
“Masih dalam lidik, kami belum bisa menyimpulkan saat ini,” ujarnya di lokasi kejadian.
Dari hasil pemeriksaan awal, polisi menduga korban mengalami luka akibat hantaman benda tumpul di bagian belakang kepala. Dugaan sementara mengarah pada tindak perampokan disertai kekerasan. Namun, motif pastinya masih didalami.
Sejumlah barang dilaporkan hilang, di antaranya dua kunci mobil, kunci kamar, serta gelang emas yang dikenakan Pasmilawati. Meski demikian, tidak banyak barang berharga lain yang raib dari lokasi kejadian.
Penanganan kasus ini melibatkan Polsek Pondok Gede, Polres Metro Bekasi Kota, hingga tim Jatanras Polda Metro Jaya guna mengungkap pelaku dan motif kejadian.
Di sisi lain, keluarga korban meyakini peristiwa tersebut lebih mengarah pada pembunuhan. Putra korban, Fiandy A. Putra (33), berharap aparat dapat mengusut kasus ini secara tuntas.
“Kami memohon agar kasus ayah kami bisa terungkap siapa pelakunya. Menurut kami, ini lebih mengarah kepada pembunuhan,” ujarnya.
Kakak kandung korban, Dalsaf Usman, menyebut almarhum semasa hidup dikenal vokal dalam menyuarakan aspirasi pekerja. Ermanto pernah menjabat sebagai Manager HRD di Jakarta International Container Terminal (JICT), anak perusahaan Pelindo, serta aktif di serikat pekerja.
Menurut Dalsaf, almarhum sempat dua kali diberhentikan dari JICT karena dinilai kritis terhadap kebijakan perusahaan, namun keputusan tersebut dibatalkan. Setelah pensiun sekitar sembilan tahun lalu, Ermanto tetap aktif menyampaikan pandangannya, termasuk melalui podcast yang membahas isu ketenagakerjaan dan persoalan di lingkungan pelabuhan.
Selama Sepekan Ia dikenal vokal membahas berbagai persoalan, termasuk dugaan kasus korupsi di perusahaan tersebut.
“Jadi memang karena jiwanya patriot seperti itu walaupun pihak keluarga sudah menyarankan untuk menghentikan itu, dia tetap jalan terus,” kata Dalsaf.
Dalsaf mengatakan, adiknya juga kerap menyampaikan pandangannya melalui sejumlah siniar atau podcast, termasuk membahas persoalan perpanjangan kontrak JICT dengan perusahaan Hongkong Hutchison Port Holdings (HPH).
“Memang almarhum ini luar biasa ya. Terutama waktu dia masih aktif bekerja membela pekerja. Kan dia ketua serikat pekerja di BUMN, PT JICT. Kemudian juga dia idealis termasuk masalah kepentingan bangsa,” ucap Dalsaf.
Keluarga juga memohon perhatian Presiden Prabowo Subianto agar kasus ini diusut secara transparan dan adil.
“Kami dari keluarga memohon keadilan kepada Bapak Presiden, semoga kasus ayahanda kami bisa terungkap siapa pelakunya. Karena menurut kami ini lebih mengarah kepada kasus pembunuhan,” ungkap Putra.
Meski memiliki dugaan sendiri, pihak keluarga menegaskan tetap menunggu hasil resmi penyelidikan kepolisian dan akan mengikuti seluruh proses hukum yang berlaku. (bc/isl)
