JAKARTA- Penutupan Selat Hormuz memicu gangguan besar terhadap pasokan minyak global dan mendorong lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) di berbagai negara. Namun di tengah gejolak tersebut, pemerintah memastikan kondisi energi di Indonesia masih aman dan terkendali.
Mengutip laporan Al Jazeera, Selat Hormuz yang berada di antara Iran dan Oman merupakan jalur vital distribusi minyak dunia dengan kontribusi sekitar 20 persen dari total pasokan global. Gangguan di wilayah ini langsung berdampak pada negara-negara yang bergantung pada impor minyak, termasuk kawasan Asia Tenggara.
Sejumlah negara di kawasan ini mulai merasakan tekanan signifikan. Di Singapura, harga BBM jenis Premium 95 tercatat mencapai 3,43 dolar Singapura atau sekitar Rp45.173 per liter. Sementara itu, jenis Platinum 98 menyentuh 4,16 dolar Singapura atau setara Rp54.787 per liter. Untuk diesel, harganya berada di level 3,73 dolar Singapura atau sekitar Rp49.124 per liter.
Kenaikan serupa juga terjadi di Malaysia. Harga RON 97 kini mencapai 5,15 ringgit Malaysia atau sekitar Rp21.781 per liter, sedangkan RON 95 non-subsidi berada di angka Rp16.367 per liter. Adapun solar di Semenanjung Malaysia dijual sekitar Rp23.346 per liter, sementara RON 95 bersubsidi tetap di kisaran Rp8.416 per liter.
Di Vietnam, harga BBM jenis RON 95 tercatat sekitar Rp21.708 per liter, sedangkan solar mencapai Rp25.351 per liter.
Di tengah lonjakan harga di berbagai negara tersebut, Indonesia masih mampu menjaga stabilitas. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan pemerintah belum berencana menaikkan harga BBM.
Ia menyebutkan, selama periode mudik dan arus balik Idulfitri, distribusi energi berjalan lancar tanpa antrean panjang di SPBU. Pasokan BBM, LPG, hingga layanan kendaraan listrik melalui SPKLU dinilai tetap terjaga.
“Stabilitas harga energi menjadi prioritas agar daya beli masyarakat tetap terjaga dan aktivitas ekonomi berjalan normal,” ujar Bahlil saat kunjungan ke SPBU di Karanganyar, Jawa Tengah, Kamis (26/3/2026).
Pemerintah, lanjutnya, terus mencari solusi terbaik agar kebijakan subsidi energi tetap mampu melindungi masyarakat di tengah ketidakpastian global. Presiden Prabowo Subianto juga telah menginstruksikan agar stabilitas energi tetap dijaga.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying yang dapat mengganggu distribusi. Penggunaan energi secara efisien juga menjadi kunci untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Bahlil memastikan cadangan energi nasional, baik untuk bensin maupun solar, masih berada dalam batas aman sesuai standar minimal.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa APBN masih cukup kuat untuk menahan dampak gejolak global. Pemerintah bahkan telah menyiapkan berbagai skenario, termasuk jika harga minyak dunia menembus 97 dolar AS per barel.
“Subsidi BBM tidak akan diubah sampai harga minyak benar-benar sangat tinggi,” ujarnya.
Di sisi lain, Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno menilai situasi ini bisa menjadi momentum untuk membenahi kebijakan subsidi energi agar lebih tepat sasaran dan tidak membebani anggaran negara.
Dengan berbagai langkah antisipatif tersebut, pemerintah optimistis stabilitas energi nasional tetap terjaga meski tekanan global masih berlangsung. (rm/isl)
