DELI SERDANG — Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Nurul Hidayah, Pasar Raya MMTC, Desa Medan Estate, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, bersama Pemerintah Kabupaten Deli Serdang menggelar nonton bareng (nobar) film Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI), Rabu (30/9/2026) malam.
Kegiatan yang berlangsung di halaman Masjid Nurul Hidayah tersebut tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang kembali salah satu peristiwa penting dalam sejarah Indonesia, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai pentingnya menjaga persatuan, Pancasila dan kehidupan beragama.
Sekretaris BKM Nurul Hidayah, Buya Rafdinal, yang menjadi pemandu dalam kegiatan nobar tersebut, menekankan pentingnya memahami sejarah dan mewaspadai berbagai ideologi yang dinilai bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan agama.
Menurut Buya Rafdinal, secara ideologis, komunisme tidak dapat dipandang hanya sebagai bagian dari masa lalu. Ia menilai sebuah ideologi dapat terus hidup sepanjang masih ada manusia yang meyakininya.
“Secara ideologis, ajaran komunis tidak akan mati. Ideologi komunis akan terus hidup sepanjang kehidupan manusia sebagaimana sebuah ideologi yang diyakini manusia dalam menjalani kehidupannya,” ujar Buya Rafdinal.
Karena itu, lanjutnya, bangsa Indonesia perlu tetap mewaspadai ideologi komunisme sebagai sesuatu yang dinilai dapat menggerogoti nilai-nilai Pancasila dan kehidupan beragama, khususnya ajaran Islam.
“Walaupun Partai Komunisnya telah dibubarkan, bagi bangsa Indonesia ajaran komunis harus tetap diwaspadai sebagai sebuah bahaya laten yang dapat menggerogoti nilai-nilai falsafah Pancasila, apalagi nilai-nilai agama, khususnya ajaran Islam,” katanya.
Buya Rafdinal juga mengajak generasi muda untuk mengambil pelajaran dari peristiwa 30 September 1965. Menurutnya, peristiwa tersebut menunjukkan bahwa mempertahankan prinsip yang diyakini benar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara membutuhkan pengorbanan.
Ia menyinggung gugurnya tujuh perwira TNI Angkatan Darat dalam peristiwa tersebut sebagai bagian dari sejarah yang perlu dipelajari secara serius oleh generasi penerus bangsa.
“Gerakan 30 September 1965 yang mengambil korban tujuh jenderal Angkatan Darat yang dibunuh di Lubang Buaya harus kita ambil pelajarannya. Mempertahankan sesuatu yang benar dan menjadi prinsip dalam kehidupan berbangsa dan bernegara membutuhkan pengorbanan yang besar,” tuturnya.
Menurut Buya Rafdinal, generasi muda, khususnya generasi muda Islam, perlu mengambil peran dalam menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Karena itu, generasi muda sekarang, terutama generasi Islam, harus menjadi generasi muda yang terdepan dalam menjaga dan mencintai negara Indonesia ini,” tegasnya.
Lebih lanjut, Buya Rafdinal berpandangan bahwa sejarah G30S/PKI juga menggambarkan pentingnya peran masyarakat, umat Islam dan TNI dalam mempertahankan ideologi negara.
Ia menilai umat Islam dan TNI memiliki posisi penting sebagai bagian dari kekuatan masyarakat yang menjaga Pancasila dari berbagai ideologi yang bertentangan dengan nilai agama.
“Peristiwa ini juga menggambarkan bahwa rakyat Indonesia, khususnya umat Islam dan TNI, merupakan garda terdepan yang menjadi benteng utama dalam mempertahankan ideologi negara, falsafah Pancasila, dari rongrongan ideologi komunis,” katanya.
Buya Rafdinal menambahkan, kegiatan nobar yang digelar BKM Nurul Hidayah diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan menonton film, tetapi menjadi momentum pendidikan sejarah dan pembentukan kesadaran generasi muda.
Sementara itu, Wakil Bupati Deli Serdang, Lom Lom Suwondo, SS, yang hadir dalam kegiatan tersebut mengapresiasi inisiatif BKM Nurul Hidayah. Ia mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, memahami sejarah bangsa sebagai bagian dari upaya memperkuat persatuan, menjaga Pancasila dan menangkal berbagai provokasi yang dapat mengganggu kehidupan bermasyarakat.
“Menonton dan mengingat kembali sejarah ini penting agar kita tidak lupa. Kita berharap kegiatan ini memperkuat keteguhan, kepercayaan kepada Pancasila, nilai-nilai luhur bangsa, serta iman dan agama,” ujar Lom Lom.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga mencerminkan kolaborasi antara pemerintah daerah, ulama, pengurus rumah ibadah, tokoh masyarakat, pemuda dan masyarakat.
Lom Lom menyampaikan apresiasi kepada BKM Nurul Hidayah serta seluruh pihak yang mendukung kegiatan tersebut. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan dan melibatkan masyarakat secara lebih luas.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Deli Serdang, Anwar Sadat Siregar, mengatakan kegiatan tersebut bermula dari komunikasi antara Pemerintah Kabupaten Deli Serdang dengan Pengurus BKM Nurul Hidayah.
Pemkab Deli Serdang kemudian memberikan dukungan berupa sejumlah fasilitas untuk menunjang pelaksanaan nobar, di antaranya karpet, televisi, baliho dan perangkat pendukung lainnya.
“Bangsa kita telah beberapa kali menghadapi ujian dan cobaan. Karena itu, sejarah harus menjadi pelajaran bagi kita semua,” ujar Anwar.
Ketua BKM Nurul Hidayah, Ibrahim Sinambela, menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Kabupaten Deli Serdang terhadap kegiatan tersebut.
Ia mengatakan nobar G30S/PKI tahun 2026 digelar dengan skala lebih besar dibandingkan pelaksanaan sebelumnya.
“Alhamdulillah, tahun ini kami sangat bersyukur dan terharu karena Wakil Bupati Deli Serdang beserta jajaran Pemerintah Kabupaten Deli Serdang dapat hadir dan mendukung kegiatan ini,” kata Ibrahim.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ruang refleksi sejarah sekaligus memperkuat persatuan dan kecintaan masyarakat terhadap NKRI, terutama di kalangan generasi muda.
Kegiatan nobar tersebut turut dihadiri jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Deli Serdang, Camat Percut Sei Tuan, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, pengurus Aliansi Organisasi Kemasyarakatan Islam, Ketua GNPF Ulama Sumut Ustaz Aidan Nazwir Panggabean, Ketua MPTW Abdul Latif Balatif, aktivis Indra Buana Tanjung, serta masyarakat dan jamaah Masjid Nurul Hidayah. (r/isl)
