Kolom Ustaz Abdul Latif Khan: Ketika Kita Ingin Dicintai Allah

Kolom77 Dilihat

Serial Muhasabah dari Mihrab Maya

Ketika Kita Ingin Dicintai Allah

Oleh Ust Abdul Latif Khan

Setelah semua perjalanan ini…
tentang taubat, tentang lelah, tentang takut, tentang kembali…

muncul satu pertanyaan yang lebih dalam:

Apakah Allah mencintaiku?

Bukan sekadar apakah Allah mengampuniku.
Bukan sekadar apakah Allah menerimaku.

Tapi… apakah Allah mencintaiku?

Karena di dunia ini kita sering sibuk mencari cinta manusia.
Takut tidak dihargai.
Takut tidak diperhatikan.
Takut tidak dianggap.

Padahal cinta yang paling menentukan
bukan dari manusia.
__

Cinta yang Tidak Pernah Mengecewakan

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri.”
(QS. Al-Baqarah: 222)

Allah mencintai.

Bayangkan…
Rabb semesta alam,
Pencipta langit dan bumi,
menyebut kata “mencintai.”

Dan siapa yang Dia cintai?
Bukan yang sempurna.
Bukan yang tidak pernah salah.

BACA JUGA :  Kolom Ustaz Abdul Latif Khan: Ketika Kita Terlalu Banyak Bicara, Tapi Sedikit Beramal

Tapi yang bertaubat.

Artinya selama kita kembali,
cinta itu mungkin sedang mendekat.

Kita Terlalu Sibuk Dicintai Manusia

Di mihrab maya ini,
kita bisa melihat siapa yang menyukai kita.

Jumlah like.
Jumlah komentar.
Jumlah pengikut.

Dan hati kita sering terikat di sana.

Kita sedih kalau diabaikan.
Kita senang kalau dipuji.

Padahal cinta manusia berubah.
Hari ini memuji, besok melupakan.

Tapi kalau Allah mencintai kita,
siapa yang bisa mencelakakan?

Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis qudsi:

“Jika Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar…”¹

 

Artinya Allah menjaga, membimbing, dan melindungi hamba yang Dia cintai.

Tanda-Tanda Dicintai Allah

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menjelaskan bahwa di antara tanda cinta Allah adalah ketika seorang hamba dimudahkan untuk taat dan dijauhkan dari maksiat.²

BACA JUGA :  Kolom Ustadz Abdul Latif Khan: Ketika Doa Tak Lagi Membuat Kita Menangis

Kalau hari ini kita masih ingin berubah…
itu tanda.

Kalau kita masih merasa bersalah ketika berdosa…
itu tanda.

Kalau kita masih rindu sujud…
itu tanda.

Cinta Allah tidak selalu terasa dalam kemudahan dunia.
Kadang terasa dalam dorongan untuk memperbaiki diri.

Jangan Ukur Cinta Allah dengan Kenyamanan

Kadang kita berpikir:

“Kalau Allah mencintaiku, kenapa hidupku sulit?”

Padahal para nabi adalah orang yang paling dicintai,
dan mereka diuji paling berat.

Cinta Allah bukan selalu berarti hidup mudah.
Tapi berarti hidup bermakna.

Berarti setiap luka mendekatkan.
Setiap gagal menguatkan.
Setiap tangis membersihkan.

Dari Takut Ditolak ke Berharap Dicintai

BACA JUGA :  Guru dan UU: Menyingkap Hakikat Profesi Keguruan

Dari mihrab maya ini,
mari kita ubah doa kita.

Bukan hanya:

“Ya Allah, ampuni aku.”

Tapi juga:

“Ya Allah, cintai aku.”

Jadikan taubat kita jalan menuju cinta.
Jadikan amal kecil kita sebab kasih sayang-Nya.
Jadikan perjuangan kita bukti kesungguhan.

Karena mungkin keselamatan terbesar
bukan sekadar selamat dari neraka…
tapi dicintai oleh Allah.

Dan jika Allah mencintai kita,
maka tidak ada kesepian yang terlalu sunyi,
tidak ada ujian yang terlalu berat,
tidak ada dunia yang terlalu menggoda.

Karena hati yang dicintai Allah
akan selalu menemukan jalan pulang.
____

Catatan Kaki

1. Hadis qudsi riwayat al-Bukhari tentang hamba yang dicintai Allah.
2. Ihya’ Ulum al-Din, pembahasan tentang mahabbah (cinta kepada Allah).