WHO Catat 423 Kematian Akibat Pes dalam Enam Tahun, 3.847 Kasus Dilaporkan

Edukasi, Ragam11 Dilihat

JAKARTA — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 3.847 kasus dugaan pes pada manusia yang dilaporkan dari sejumlah negara sepanjang 2019 hingga 2025. Dari jumlah tersebut, sebanyak 423 orang meninggal dunia.

Dalam laporan yang disampaikan Selasa (29/9/2026), WHO menyebut kasus dugaan pes pada manusia dilaporkan dari 10 negara selama periode enam tahun tersebut. Dari 10 negara itu, enam negara telah melaporkan kasus yang terkonfirmasi.

Secara keseluruhan, WHO menerima laporan 3.847 kasus dugaan pes dengan 423 kematian. Angka tersebut menunjukkan tingkat kematian sekitar 11 persen dari kasus yang dilaporkan.

BACA JUGA :  Peringatan Hardiknas 2025, FKMPP Dorong Pemerintah dan DPR Tingkatkan Mutu Pendidikan

Sebagian besar laporan berasal dari Republik Demokratik Kongo dan Madagaskar. Pes masih ditemukan secara endemik di sejumlah wilayah kedua negara tersebut.

WHO mengingatkan bahwa keberadaan kasus pes tidak hanya terbatas pada negara-negara yang telah melaporkannya. Penyakit tersebut tetap berpotensi muncul di wilayah lain sehingga pengawasan menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan.

WHO Dorong Pengawasan Hewan Pengerat

WHO menekankan pentingnya pemantauan secara rutin terhadap populasi hewan pengerat dan hewan lain yang berkaitan dengan siklus penularan pes.

BACA JUGA :  Bunda Yin Terima Buku Sejarah Perjuangan Pematang Siantar, Ajak Masyarakat Jaga Warisan Bangsa

Pengawasan serta respons cepat diperlukan untuk menemukan kasus sedini mungkin, membatasi penularan, dan mencegah berkembangnya wabah dalam skala yang lebih luas.

“Pengawasan rutin dan respons cepat tetap penting untuk mendeteksi pes lebih awal dan mencegah wabah yang lebih besar,” kata WHO.

Ancaman penyakit pes juga mendapat perhatian dari akademisi Akademi Sains Rusia, Gennady Onishchenko. Ia menyebut pes sebagai salah satu penyakit infeksi yang perlu diwaspadai bersama sejumlah penyakit menular lainnya, termasuk flu, infeksi saluran pernapasan, virus corona, demam eksotis, dan kolera.

BACA JUGA :  Implementasikan Teori Jurnalistik, Mahasiswa Ikom Undhar Praktek Reportase

Data WHO tersebut menunjukkan bahwa meski pes tidak selalu muncul dalam bentuk wabah besar, penyakit ini masih menjadi persoalan kesehatan yang membutuhkan pengawasan berkelanjutan, terutama di wilayah yang telah dikenal sebagai daerah endemik. (bc/isl)