Jaksa Agung Bolivia Ditangkap atas Dugaan Keterlibatan Kartel Narkoba

Internasional15 Dilihat

SUCRE — Jaksa Agung Bolivia Roger Mariaca ditangkap kepolisian setempat pada Rabu (30/9) waktu setempat. Penangkapan tersebut berkaitan dengan dugaan keterlibatannya dalam jaringan perdagangan narkoba.

Penangkapan Mariaca dilakukan dua hari setelah Amerika Serikat (AS) mencabut visa miliknya karena dugaan keterkaitan dengan perdagangan narkoba.

“Penangkapan Jaksa Mariaca telah dikonfirmasi,” kata seorang sumber dari Kementerian Pemerintahan Bolivia yang meminta identitasnya dirahasiakan kepada AFP, seperti dilansir Kamis (1/10/2026).

BACA JUGA :  Prof Dr Asep N Mulyana SH MHum: Pendekatan Restorative Justice, Hemat Keuangan Negara Rp. 91,9 Milyar

Jaksa wilayah Santa Cruz, Alberto Zeballos, juga dilaporkan turut ditangkap. Zeballos sebelumnya diketahui telah dijatuhi sanksi oleh pemerintah AS.

Mariaca dan Zeballos termasuk dalam daftar hampir 20 orang dari Bolivia, Kolombia, dan Ekuador yang pekan ini dituduh Departemen Luar Negeri AS terlibat dalam korupsi, perdagangan narkoba, atau konspirasi terhadap pemerintahan negara masing-masing.

Pada Rabu (30/9/2026), kepolisian Bolivia juga menggerebek kantor kejaksaan di Sucre, ibu kota Bolivia. Operasi tersebut ditayangkan secara langsung melalui akun media sosial Kepolisian Bolivia.

BACA JUGA :  Iran Makin Berani Lawan AS, Konflik Diprediksi Bisa Berlangsung Berbulan-bulan

Penggerebekan itu memicu protes dari sejumlah pejabat kejaksaan setempat. Kepala komunikasi kantor kejaksaan di Sucre, Claudia Pardo, mengecam tindakan tersebut.

“Kami mengecam, di hadapan seluruh rakyat Bolivia, tindakan intervensi yang dilakukan secara ilegal ini,” ujar Pardo saat dirinya dan sejumlah rekannya dikepung personel kepolisian.

Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari Kantor Jaksa Agung Bolivia maupun Kejaksaan Santa Cruz terkait penangkapan tersebut.

BACA JUGA :  Balas Rudal Houthi, Israel Bombardir Pelabuhan Yaman

Sebelumnya, otoritas Washington menuduh Mariaca menerima “suap untuk memfasilitasi perdagangan narkoba dan membantu para pelaku kejahatan lolos dari jeratan hukum”.

Kantor Jaksa Agung Bolivia membantah tuduhan tersebut pada Senin (28/9). Dalam pernyataannya, lembaga itu menyebut tuduhan dari AS sebagai bentuk “intervensi” dan “tekanan politik” terkait penyelidikan yang tengah dilakukan pihak kejaksaan. (bc/isl)