JAKARTA – Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel tidak hanya mengguncang pasar energi, tetapi juga mulai berdampak pada industri semikonduktor global, yang menjadi tulang punggung berbagai perangkat elektronik modern.
Dampak tersebut tidak terjadi secara langsung pada pabrik chip, melainkan melalui terganggunya pasokan helium—gas penting dalam proses produksi semikonduktor. Helium digunakan dalam berbagai tahap krusial, seperti pendinginan, deteksi kebocoran, hingga proses manufaktur presisi tinggi.
Seiring meningkatnya ketegangan di kawasan, harga helium pun melonjak akibat pasokan yang semakin terbatas. Pasokan gas ini memang sangat bergantung pada wilayah tertentu. Berdasarkan data U.S. Geological Survey (USGS), Qatar menyumbang hampir sepertiga produksi helium global.
“Kekurangan helium merupakan masalah yang sangat mengkhawatirkan,” ujar Cameron Johnson, mitra senior di Tidal Wave Solutions, seperti dikutip dari Reuters, Senin (30/3/2026).
Ia menyebutkan, dalam jangka pendek perusahaan tidak memiliki banyak pilihan selain memperlambat produksi dan memprioritaskan produk-produk penting. Jika kondisi ini berlarut, dampaknya bisa meluas ke berbagai sektor.
“Perusahaan mungkin akan mengurangi bahkan menghentikan produksi chip. Dampaknya akan terasa pada industri elektronik, otomotif, hingga ponsel pintar,” jelasnya.
Hal serupa juga diungkapkan Jerry Zhang, Kepala Penjualan China di perusahaan semikonduktor Swiss, VAT. Ia mengatakan bahwa konflik di Timur Tengah telah memperketat pasokan helium dan mulai memengaruhi operasional perusahaan serta pelaku industri lainnya.
Selain itu, keterlambatan pengiriman turut memperparah situasi.
Krisis ini semakin memburuk setelah serangan Iran pada pertengahan Maret terhadap fasilitas ekspor gas alam di Qatar. Insiden tersebut memaksa penutupan fasilitas dan mengancam pasokan helium dunia.
Mengutip The Guardian, perusahaan gas milik negara Qatar menyatakan bahwa penutupan tersebut berpotensi memangkas ekspor helium global hingga 14 persen.
Harga Gadget Mulai Terdampak
Salah satu dampak nyata dari krisis ini mulai terlihat pada kenaikan harga produk elektronik, termasuk konsol game PlayStation 5 (PS5).
Sony mengumumkan penyesuaian harga di Amerika Serikat mulai 2 April. PS5 versi standar kini dijual US$649,99 (sekitar Rp11,04 juta), naik dari sebelumnya US$549,99 (Rp9,34 juta).
Sementara itu, edisi digital dibanderol US$599,99 (Rp10,19 juta), dan PS5 Pro mencapai US$899,99 (Rp15,29 juta). Perangkat PlayStation Portal juga mengalami kenaikan harga menjadi US$249,99 (Rp4,24 juta).
Kenaikan harga ini juga akan berlaku di kawasan Eropa dan Jepang, seiring meningkatnya tekanan biaya dalam rantai pasokan global.
Jika krisis helium terus berlanjut, bukan tidak mungkin harga berbagai produk teknologi lainnya akan ikut terdampak dalam waktu dekat. (cnn/isl)
