Oleh : Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Menarik apa yang ditulis oleh seorang senior di media sosialnya. Beliau menuliskan tentang sikap manusia zaman sekarang yang kemudian dibandingkan dengan kehidupan pada masa Rasulullah Muhammad Saw. Bagi saya, hal itu justru penting sebagai bahan peringatan bagi generasi kita hari ini. Tidak terlalu penting siapa yang pertama kali menulisnya, siapa yang menukilnya, atau dari mana persisnya kata-kata itu berasal. Yang lebih penting adalah pesan yang terkandung di dalamnya dan sejauh mana kita bersedia mengambil pelajaran.
Tulisan ini pun pada hakikatnya adalah upaya mengaca diri. Kebetulan ada seorang senior yang menuliskan sesuatu yang menurut saya penting untuk kita pikirkan bersama. Jadi, bukan soal siapa yang mengatakan, apalagi untuk mencari siapa yang paling benar. Justru kita sedang diajak berhenti sejenak, melihat diri sendiri, lalu bertanya: jangan-jangan apa yang kita lakukan hari ini justru menunjukkan bahwa kita belum jauh berbeda dari orang-orang yang dahulu berada di barisan yang berseberangan dengan Rasulullah?
Gus Mus pernah menyampaikan sebuah sindiran yang kurang lebih bermakna: “Dengan model kita sekarang, kalau hidup di zaman Rasulullah, mungkin kita menjadi buzzer-nya Abu Lahab dan Abu Jahal.” Kalimat ini terdengar jenaka, tetapi sesungguhnya menyimpan kritik yang sangat dalam.
Sebab, zaman boleh berubah, teknologi boleh berkembang, tetapi watak manusia tidak selalu berubah. Dulu ada orang-orang yang berdiri di belakang Abu Lahab dan Abu Jahal untuk membela kepentingan dan kebencian mereka terhadap Rasulullah. Hari ini bentuknya mungkin berbeda. Bukan lagi berteriak di pasar-pasar Makkah, tetapi bisa melalui media sosial: membuat narasi, menyebarkan informasi, menyerang orang yang berbeda, membela tokoh secara membabi buta, bahkan menyebarkan sesuatu yang belum tentu benar hanya karena sesuai dengan kepentingan kelompok sendiri.
Di sinilah sindiran tersebut menjadi relevan. Kita sering merasa bahwa jika hidup pada zaman Rasulullah, tentu kita akan berada di barisan beliau. Tetapi pertanyaannya: benarkah?
Jangan-jangan, dengan karakter kita hari ini—mudah membenci, mudah menyebarkan kabar tanpa tabayun, fanatik kepada kelompok, dan sulit menerima kebenaran ketika datang dari orang yang tidak kita sukai—kita justru akan berada di barisan yang salah.
Karena itu, membaca sejarah Rasulullah bukan sekadar mengenang masa lalu. Ia seharusnya menjadi cermin untuk melihat diri kita sendiri. Kita memang tidak hidup pada zaman Rasulullah, tetapi nilai-nilai yang beliau ajarkan masih relevan hingga hari ini: kejujuran, keadilan, kasih sayang, tabayun, adab dalam berbicara, dan keberanian membela kebenaran tanpa kehilangan akhlak.
Maka sebelum sibuk bertanya, “Kalau saya hidup pada zaman Rasulullah, saya berada di pihak siapa?”, mungkin lebih baik kita bertanya kepada diri sendiri:
“Dengan sikap saya hari ini, apakah saya sudah pantas mengaku berada di barisan orang-orang yang mengikuti Rasulullah?”
Pertanyaan itu sederhana. Tetapi kalau kita benar-benar jujur kepada diri sendiri, jawabannya mungkin tidak sesederhana yang kita bayangkan.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni
